Cerita di Balik Penerbitan Kumpulan Novelet Anak-anak Matahari

Tuesday, October 15, 2019

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Sumber gambar: Dokumen pribadi
Saat itu awal bulan Agustus, saya sedang fokus mengerjakan pemintaan naskah buku untuk proyek ghostwriting, sementara mentor menuntut untuk segera menyelesaikan proyek kumpulan novelet sebagai output dari kegiatan Workshop Writerpreneur Accelerate yang diadakan oleh Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif) sekitar akhir Maret lalu.

"Duh, bagaimana ini? Kalau soal income, tentu saya memilih menyelesaikan naskah klien daripada naskah saya sendiri," sikap realistis mulai mendominasi.

Tapi batin terus memprotes hingga kemudian kabar bahwa ketua tim jatuh sakit membuat mentor menunjuk saya untuk menggantikan perannya. Allah gitu banget memang, hehe, ketika hendak memilih berhenti melanjutkan 'program idealis', saya justru mendapat amanah untuk memastikan program tersebut berjalan dengan baik. Fine. I'll do my best.

Menulis Naskah & Self Editing

Segera saya menjelaskan di grup WhatsApp bahwa peran sebagai ketua saya ambil alih dan mulai memberikan tanggal sebagai tenggat waktu pengumpulan naskah novelet kami. Teman-teman mulai panik dong ya, karena saya berlagak tegas dan galak, hahaha. Sebenarnya saya sendiri juga panik tapi berusaha stay cool, uhuk! Mau tidak mau akhirnya saya memutuskan untuk menunda naskah klien dan fokus menyelesaikan naskah novelet saya sendiri (terima kasih, Dok, Anda sungguh sabar dan baik bangeeet~).

Pertengahan Agustus, semua naskah sudah terkumpul. Total ada 6 naskah novelet dengan kisah yang tak sama, namun satu tema. Tim kami memang ada 6 orang, tapi yang paling berdekatan jaraknya hanya saya dan Ainun, lainnya tinggal di kota yang berbeda. Akhirnya saya membagi tugas editing ke Ainun, yang Alhamdulillah-nya dia adalah mahasiswi Bahasa dan Sastra Indonesia, jadi pasti cukup paham tentang kaidah penulisan. Setelah proses editing selesai, saya cek ulang sekali lagi. Karena adaaa saja miss di dalam naskah. Entah kesalahan tipografi, kurang titik dan koma, dan sebagainya.

Menentukan Judul Buku

Sebelum lanjut ke tahap selanjutnya, saya meminta bantuan teman-teman untuk mengajukan judul buku yang mewakili 6 cerita di dalam buku kumpulan novelet. Judul buku saat workshop dulu harus direvisi, tapi ternyata judul baru yang kami ajukan juga ditolak oleh mentor. Pening lah kami semua, hahaha, kalah deh ngurus judul skipsi. Buku akan dipamerkan di IIBF (Indonesia International Book Fair) di awal September, maka kami harus segera menemukan judul yang tepat agar bisa segera dibuatkan desain kover.

Karena waktu semakin mendesak, saya pun melakukan riset sederhana mengenai judul yang filmis (bersifat film) sesuai arahan mentor. Hingga akhirnya terpikirkan judul Anak-anak Matahari (AAM) dan mentor menyetujuinya. Alhamdulillah, menentukan judul buku memang tidak mudah, ya? Tapi ternyata bisa :)

Desain Tata Letak & Kover

Selanjutnya saya dan tim melakukan riset penerbit, karena kami self publishing, jadi kami harus memikirkan sendiri semuanya dari pra hingga pasca cetak, yaitu dari awal memikirkan ide tulisan hingga strategi pemasaran buku. Setelah mencari penerbit yang cocok dari segi waktu dan biaya, kami memutuskan untuk menerbitkan buku AAM di salah satu penerbit lokal di Yogyakarta yang sanggup mencetak buku dalam waktu satu minggu. Agar lebih hemat, baik hemat waktu maupun biaya, maka saya berinisiatif membuat desain tata letak dan kovernya sendiri tanpa bantuan pihak penerbit.

Sumber gambar: Dokumen pribadi
Allah seolah paham saya ingin sekali memulai semuanya dengan cara yang baik, akhirnya saya terpikir mengunduh perangkat lunak open source bernama Krita untuk mendesain kover buku saya dan tim. Bersyukur menu-menu di dalamnya tidak jauh berbeda dari Photoshop dan CorelDRAW, saya hanya mencoba membiasakan diri dalam beberapa jam dan malamnya berhasil jadi sebuah desain kover buku sekaligus pembatas buku. Ajaib! Tanpa-Nya saya hanyalah debu-debu di kolong meja, hahaha. Untuk desain tata letak, saya hanya menggunakan perangkat lunak microsoft word. Thanks to YouTube! Jadi mengerti bagaimana meletakkan halaman dengan cara mirror, hehe.

Setelah naskah selesai di-layout dan mendesain kover, saya langsung mengirimkannya ke pihak penerbit. Oh iya, sebelum itu, saya sudah mengirim judul, nama penulis, dan kata pengantar terlebih dulu untuk segera diuruskan ISBN-nya. 

Memasarkan Buku

Sambil menunggu proses cetak selesai, saya dan tim mulai menyebarkan informasi pre-order kepada jaringan yang kami miliki, tentunya memanfaatkan media sosial juga. Banyak yang mengira bahwa selama proses menerbitkan dan memasarkan buku ini kami didanai oleh Bekraf, padahal tidak sama sekali. Bekraf hanya memberikan fasilitas untuk memperluas jaringan kami, seperti undangan di acara IIBF, Akatara, dan Bekraf Festival di Solo tanggal 4-6 Oktober lalu, itu pun seluruh akomodasi kami tanggung sendiri. But, it was worth it because I found some new friends (or even a family) from another city, also good memory while I was at Jakarta & Solo.

Sumber gambar: Dokumen pribadi
Sungguh hal yang tidak pernah saya duga, apalagi saat mendapat kesempatan ikut launching buku AAM di Perpusnas (Perpustakaan Nasional RI). Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah. Untuk teman-teman yang penasaran dengan buku AAM, bisa mengikuti akun Instagram @noveletmatahari. Bisa juga klik link ini untuk pemesanan. #malahpromosi XD

Karya apa lagi setelah buku Kumpulan Novelet Anak-anak Matahari? Hmm, semoga bisa terbit buku solo yang lebih bermanfaat tentunya. Doakan ya, teman-teman. Terima kasih :)


You Might Also Like

8 komentar

  1. Tak kira pakai photoshop tok itu, Zi,desain kovernya. Aku baru tau ada software yang namanya Krita. Hehe. Kerenlah, kabeh diayahi dewe,mulai dari lay-out, desain kover, editing, nyari judul, sama survei penerbit yang kenarin sempet cerita sedikit-sedikit itu pas ketemu di Solo. Mantab mantul betul!

    Baru sampai halaman 213 ini aku baca AAM'e xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan kaget sama cerita yang paling terakhir ya, hahaha. Semoga berikutnya aku bisa bikin yang lebih baik dan lebih berbobot. Tak tunggu kesiapanmu berkolaborasi. Uhuk!

      Delete
  2. Wah keren nih Mbak bisa menghandle naskah novelet sampai terbit. Judulnya bagus jadi penasaran dengan isinya hehe. Semoga setelah ini bisa nerbitin buku solo juga ya Mbak. Aamiin😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi terima kasih, Mbak Siska. Silakan dipesan bukunya kalau penasaran dengan isinya :D
      Aamiin, semoga Allah mudahkan menyelesaikan buku solonya akhir tahun ini.

      Delete
  3. Aku pernah liat buku ini dimana ya, ada di Gramedia juga gak sih kak? Jadi penasaran nih sama isinya. Self-publishing memang punya kenangan sendiri ya kak, melakukan semuanya sendiri dan meyakinkan hati kalau hasil karya ini akan diterima di pasaran. Tapi sumpah itu keren bisa launcing di Perpusnas. Hm... aku lupa terkahir kali nulis fiksi itu kapan, dulu pengen banget punya impian buku solo tapi draft pun tidak pernah dibikin sampai sekarang. Semoga aku bisa bikin buku solo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum ada di tobuk, adanya di instagram. Gih pesan biar gak penasaran, hehe.. Yuk, bikin buku solo. Nggak harus fiksi kok, nonfiksi juga bisa.

      Delete
  4. Saya juga sedang menerbitkan buku dengan self publishing. Tapi layout, cover, dan lainnya saya serahkan ke penerbit. Saya nggak bisa desain soalnya.

    Wah keren pemasarannya di support bekraf. Saya nanti paling launching sendiri lewat medsos haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, iyakah? Buku tentang apa, nih? Semoga lancar ya proyek bukunya

      Delete

Thank you for reading. What do you think about the article above?

Friends

Forum Lingkar Pena Sidoarjo