Resensi Novel Yorick: Anak Panjalu yang Terbang Hingga ke Rusia

Tuesday, April 30, 2019

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

(Sumber gambar: id.wikipedia.org)

Yorick
Penulis: Kirana Kejora
Jumlah halaman: 346 halaman
Penerbit: PT Nevsky Prospekt Indonesia
Tahun terbit: 2018
Harga (P. Jawa): Rp 89.000
Format: Paperback
Rating Jia Yuuki: 4/5
Blurb:

"Jangan hanya mobil-mobilan. Pabriknya pun suatu saat nanti, bisa kamu beli!"

Senja di Saint Petersburg, Yorick menatap aliran tenang Sungai Neva, sambil mengingat kembali kalimat sakti Sang Nenek, orang tua tunggalnya sejak kecil. Satu-satunya orang yang ia miliki itu memang tak bisa membelikan apa-apa yang ia inginkan, namun telah memberi cara bagaimana ia bisa membeli semua yang ia butuhkan, bukan saja yang sekadar ia inginkan.

“Aku bangga, walaupun aku tidak punya apa-apa, tidak punya keluarga seperti yang lain, tidak diajari dan dimentori, tapi aku punya Nenek yang tidak dimiliki orang lain. Nenek, adalah "maha guru" dengan seribu pelajaran.”

Pendaki sejati tak akan pernah turun gunung sebelum ia bisa mencapai puncaknya. Petarung tangguh meski sekarat, tak mungkin menyerah sebelum ia bisa menjadikan badai sebagai sahabat. Penyelam ulung, hanya akan muncul ke permukaan setelah mutiara laut berada dalam genggaman.

The beginning is always the hardest.
The winner dare to fight alone.

***

Novel Yorick, teman perjalanan ke luar kota (doc. pribadi) 

Resensi Novel

Kirana Kejora kembali menelurkan karya ciamik berdasarkan kisah nyata, untuk ketiga kalinya novel Kirana difilmkan. Ya, setelah Air Mata Terakhir Bunda, Ayah Menyayangi Tanpa Akhir, tahun ini (2019) Film Yorick yang akan meramaikan bioskop tanah air. Mengapa novel ini dipilih untuk difilmkan? Apa yang istimewa? Selamat membaca resensi saya sampai selesai, semoga bermanfaat. Tenang, saya tidak akan memberi spoiler.

⇒ Gaya Bahasa dan Penyampaian

Tulisan Kirana kaya penggunaan diksi dan beragam perumpamaan. Di novel ini pun penulis menyampaikan kisah Yorick dengan cukup apik. Bagi mereka yang lebih suka gaya bahasa sederhana dengan sedikit diksi mungkin akan merasa terganggu. Namun, bagi mereka yang menyukai permainan diksi tentu novel ini bisa menjadi alternatif bacaan yang tepat. Di dalam novel juga dapat ditemukan filosofi mengenai kehidupan melalui benda-benda yang ada di sekitar kita, peniti salah satunya (hlm. 41).

Novel Yorick bisa dinikmati oleh anak-anak remaja maupun orang dewasa. Cara penulis menyempaikan kisah dalam buku ini tidak akan menyulitkan pembaca untuk memahaminya.

⇒ Plot

Novel Yorick diawali dengan kehidupan masa sekarang, dan dengan cara yang cerdas, penulis membawa para pembaca menuju masa lalu Yorick--tokoh utama dari novel ini. Alur maju-mundur tidak membuat pembaca merasa bosan, justru dapat membuat pembaca merasa penasaran dengan apa yang terjadi pada tokoh utama.

Novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu, dan penulis mampu membagi 'panggung' masing-masing tokoh dengan baik.

⇒ Penokohan

Meskipun tokoh utama dalam novel ini adalah Yorick, namun Mak Encum dan sahabat-sahabat Yorick memiliki peran besar terhadap karakter Yorick. Penulis menggambarkan tokoh utama dalam novel ini sebagai seorang pejuang bermental baja. Hidup sebatang kara tak membuat Yorick pantang menyerah, karena nasihat neneknya--Mak Encum--telah terpatri dalam jiwa. Pun Iyan, Tejo, dan Rotten, serta orang-orang baik di sekitar Yorick, adalah penguat di kala ia merasa kesepian. Mereka adalah 'keluarga tak sedarah' bagi tokoh utama.

(Sumber gambar: https://web.facebook.com/yorickmovie)

⇒ Isi Buku

Novel Yorick berkisah tentang seorang anak yang menghabiskan masa kecilnya di Panjalu, Ciamis. Mengambil latar belakang tokoh anak broken home yang terbuang, menjadi keunikan tersendiri dari novel ini. Yorick remaja tumbuh dalam ketidakpastian. Tidak menyinggung lebih jauh tentang kedua orang tua Yorick, novel ini lebih fokus kepada '1000 pelajaran' yang diberikan oleh Mak Encum. Di bawah asuhan sang nenek yang buta aksara, tertanam prinsip-prinsip bijaksana dalam diri Yorick kecil yang berguna sebagai bekal menghadapi masa remaja yang penuh luka, khususnya luka psikis.

Ketika masa remajanya penuh dengan ujian yang luar biasa, Tuhan Yang Maha Adil mengirimkan sahabat-sahabat terbaik sebagai wadah untuk merasakan bahagia. Kehadiran sahabat memberi warna tersendiri bagi hidup Yorick. Perjalanan demi perjalanan, tantangan demi tantangan, datang silih berganti, hingga Yorick dewasa mampu menakhlukkan dirinya dengan menerima 'kepahitan' sebagai cambuk untuk menjadi Elang masa depan, terbang dari bumi Jawa Barat menuju Rusia.

Selain persahabatan, ada bumbu romansa juga dalam Novel Yorick. Di luar fakta bahwa ini berdasarkan kisah nyata, tokoh Yorick dalam novel sangatlah kuat. Saya pribadi dibuat kagum dan terharu dengan ketangguhannya menghadapi ujian kehidupan. Bagian kisah persahabatan menurut saya adalah bagian terbaik. Selain menjadikan novel ini dekat dengan pembaca, bumbu humor membuat novel ini lebih 'hidup'. Ada satu dari sekian kalimat yang saya suka dari novel ini, "Kesetiaan, ketulusan, kepercayaan, tiga pilar utama bangunan persahabatan mereka." (hlm. 199).

Selain mengajarkan tentang perjuangan hidup, Novel Yorick juga mengajarkan pembaca untuk belajar menjadi sahabat yang baik, yang bersedia meluangkan waktu untuk sahabatnya, tanpa diminta, tidak hanya dalam kesenangan, namun juga saat mengalami keterpurukan, untuk kemudian berjuang bersama melampaui impian.

⇒ Kritik & Saran

Ada beberapa ejaan yang salah yang saya temukan dalam Novel Yorick. Saya juga menyayangkan tidak ada pembatas buku, padahal novel ini cukup tebal sehingga butuh bookmark untuk menandai halaman jika harus mengambil jeda saat membaca. Di bab-bab awal menurut saya terlalu banyak diksi yang seolah dipaksakan. Membaca seperempat novel di awal bagi saya terasa kurang menarik, namun setelah itu hingga bagian akhir cerita cukup sering membuat saya menangis terharu, tegang, hingga tertawa karena ulah sebagian tokoh. Novel ini seperti es campur, bacaan 'segar' bagi siapa pun yang haus makna kehidupan.

Saya sangat merekomendasikan Novel Yorick untuk dibaca adik-adik remaja dari keluarga broken home. Saya percaya bahwa semua anak, termasuk anak-anak broken home, bisa meraih impian mereka. Keluarga, saudara, dan lingkungan tidak berhak meng-underestimate mereka. Karena setiap anak di dunia ini berhak mendapat kesempatan untuk merasakan bahagia dan sukses di masa depan.

Salam Literasi!

***

Yuk, intip behind the scene-nya sebelum filmnya tayang di bioskop!


You Might Also Like

1 komentar

  1. Suka sama karyanya kirana kejorakah? Kira2 filmnya ini bakal sukses tidak, menurut mbak

    ReplyDelete

Thank you for reading. What do you think about the article above?

Forum Lingkar Pena Sidoarjo

Friends

Community