Zeby The Stray Cat

Thursday, February 28, 2019

 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ


Tonari no Zeby
Postingan pertama di 2019. Alhamdulillah masih bisa update blog setelah mengambil jeda dua bulan dari rutinitas bekerja (baca: resign!). Lama banget ya dua bulan, hahaha. Sebenarnya nggak jeda, tapi ganti aktivitas. Semoga tahun ini lebih produktif menulis, baik menulis dengan tangan maupun menggunakan gawai.

Di postingan ini saya mau cerita tentang Zeby, kucing yang hampir setengah tahun berkeliaran di samping rumah. Saya lupa tanggal berapa tepatnya dia muncul, mungkin sekitar pertengahan bulan Oktober kucing berbulu lebat dengan warna hitam putih itu duduk-duduk di depan pintu belakang rumah. Saat itu saya sedang makan jamur krispi yang saya masak sendiri, sambil ngobrol dengan tetangga di teras rumahnya. Dia melihat saya penasaran (mungkin juga lapar), akhirnya saya potekin sedikit dan saya kasih ke dia. Apakah dia mau? Tentu saja tidak hahaha. Mana ada kucing makan jamur.

Beberapa hari muncul, akhirnya saya beri dia nama Zeby. Simply karena warnanya hitam dan putih seperti zebra, dan supaya huruf depan namanya sama dengan nama panggilan saya, hehe. Bulu Zeby cukup lebat, berbeda dengan kucing kampung biasa. Barangkali Zeby keturunan kucing persia medium. Namun tubuhnya mungil. Selama beberapa bulan mengamati, Zeby tergolong kucing yang cerdas dan mandiri. Awalnya dia buang air di dekat tanaman samping kamar saya, tapi sekarang dia selalu buang air di kamar mandi kos-kosan tetangga. Padahal tidak ada yang mengajarinya. Mungkin dia mengamati (?) orang-orang penghuni kos-kosan. Meski sesekali meong-meong minta makan ke saya atau tetangga saya, Zeby pandai berburu cicak, tikus, atau hewan yang biasa diburu kucing. Dia bahkan sering dapat potongan ikan dari penjual ikan di seberang jalan raya.

Zeby hamil besar
Pertengahan Desember Zeby melahirkan, saya menyadari kondisi hamilnya saat November karena perutnya nampak menggendut. Sama kayak saya, bedanya saya isi lemak hahahaa. Saya tidak tahu di mana lokasi Zeby melahirkan, saat itu dia muncul di gang sendirian dengan kondisi perut tidak gendut lagi. Beberapa hari kemudian di waktu pagi, setelah semalam hujan lebat, dari dalam kamar saya mendengar suara bayi kucing, seketika terpikir kalau itu suara bayi-bayi Zeby. Saya langsung ke luar rumah dan mencari sumber suara. Ketemu!

Ups! Ketahuan
Zeby sedang menyusui anaknya di rak sepatu adik kos. Pintar sekali, sepatu-sepatunya Feril dan Hasan dibuang ke lantai, lalu raknya dibuat tempat tidur ketiga bayinya. Dasar koceng cerdas hahahaa. Kalau malam sebelumnya tidak hujan mungkin mereka tidak ada di rak sepatu itu.

Saat persembunyiannya ketahuan, Zeby melotot khawatir, lucu sekali ekspresinya. Tetanggaku yang bernama Pak Joko dan istrinya yang biasa kupanggil Mami (singkatan dari Mbak Patmi hehee) juga suka kucing. Merekalah yang menolong Zeby. Ibu menyiapkan kardus dan diberi kain di dalamnya untuk tempat bayi-bayi Zeby. Mereka diletakkan di teras kosan Mami. Tingkah bayi-bayi Zeby jadi hiburan saya dan para tetangga kalau lagi ngumpul santai. Saya memberi mereka nama Tiger, Momo, dan Nino. Zeby tipe ibu kucing yang nggak manjain anak-anaknya tapi sayang banget ke mereka.

Kittens
Kalau di Jepang ada Tonari no Totoro, di tempatku ada Tonari no Zeby, huahahahaa.. (tonari artinya tetangga.) Mohon maklum ya readers, bagi saya Totoro dan kucing atau sebangsanya adalah makhluk yang menggemaskan! Banyak banget momen deg-degan soal Zeby dan kittens, pernah suatu hari hujan deras ditambah air laut pasang, menyebabkan beberapa daerah di Sidoarjo banjir. Bahkan rumah saya pun kebanjiran. Entah nasib Zeby dan anak-anaknya, karena kos-kosan sebelah juga kebanjiran. Besok paginya, setelah sebagian genangan mulai surut. Saya hanya melihat Nino sembunyi di rak sepatu adik kos (lagi). Saya cari-cari di mana yang lainnya belum ketemu, khawatir hanyut. Sampai akhirnya mereka nongol sendiri. Tiger dan Momo bersembunyi di belakang box sepatu -___-

Satu setengah bulan kemudian, hal menyedihkan terjadi. Tepatnya hari Jumat, 8 Februari, menjelang siang saya baru keluar rumah, terlihat Zeby meong-meong mencari anaknya. Saya tanya ke Mami di mana para kittens. Oh iya, mereka pindah posisi tidur di teras tetangga yang lain, sebut saja X. Om X ini juga baik ke Zeby, sering ngasih lauknya ke Zeby. Tapi kata Mami karena kittens naik-naik ke gentong air punya Om X, dia memindahkan kittens ke rumah kosong. Lalu orang yang tinggal dekat rumah kosong itu nggak suka dan ngebuang kittens di dekat jalan raya (depan gang rumah saya). Pas siang hari mereka bertiga sudah nggak ada. Kondisi ngebuangnya saat si Zeby lagi keluyuran nyari makan. Huhuu.. kecewa banget sama si Om X.

Foto kittens sehari sebelum hilang.

Saya sedih banget melihat kondisi Zeby yang kebingungan nyari anak-anaknya. Mereka masih menyusu. Sedih banget, padahal Kamis pagi saya masih sempat memotret tingkah anak-anaknya yang aktif. Nino yang ketiduran dengan posisi lucu. Momo dan Tiger yang mainan tanaman cabai dan naik-naik ke pot tanaman lainnya. Tapi hari Jumat kami harus kehilangan mereka yang sampai sekarang entah ada di mana. Saya sempat mencari mereka di dekat pasar dan perumahan, tapi nggak ketemu. Zeby mengalami gejala depresi. Saya sampai nangis lihat kondisinya. Meong-meong terus nyari anaknya, bulunya makin kusam dan kotor karena nggak dijilatin. Kepalanya juga hangat kayak orang lagi demam. Makannya banyak tapi kondisinya lemas. Puncaknya hari Rabu dia muntah di depan kamar mandi sebelah kosan Mami.

Seminggu kemudian, Alhamdulillah kondisi Zeby membaik. Sesekali kalau nengok teras Om X masih meong-meong keingat anak-anaknya, tapi suaranya nggak parah kayak sebelumnya. Makannya mulai membaik. Herannya dikasih makan Mami pilih-pilih. Giliran saya kasih makan nasi kepal ikan pindang dia doyan banget. Badannya masih lemas, sih. Sering tiduran tapi bulunya sudah nggak sekusam minggu lalu. Terima kasih buat Fajar, teman kuliahku, atas sarannya supaya Zeby dibiarkan pulih sendiri tanpa harus menawarkan orang lain untuk mengadopsinya. Fajar juga nyaranin supaya Zeby disteril, tapi saya masih nggak tega. Berharap suatu hari nanti kalau Allah mengizinkan punya rumah sendiri, saya ingin sekali memelihara kucing. Untuk saat ini belum bisa karena masih tinggal dengan orang tua dan mereka nggak suka pelihara hewan.

Readers, mohon doanya ya supaya Zeby bisa pulih dan aktif seperti sebelumnya. Baru kali ini saya lihat kucing secerdas Zeby. Sekarang Zeby jarang stay di gang rumah saya, sesekali lewat tapi lebih banyak menghabiskan waktu di tempat lain. Mungkin ada rasa trauma. Zeb, survive, yaa.. I know you're a strong stray cat!

You Might Also Like

4 komentar

  1. Zeby, nama kucing yang lucu dan inim. Dari baca postingan ini jadi keliatan banget betapa cerdasnya Zeby. Semoga dia bisa segera menemukan anaknya ya.

    Btw beda banget si Zeby dengan kucing yang pernah ada di rumah mertua saya ini, anak-anaknya malah ditinggalin padahal masih menyusu juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe tiap kucing memang punya karakter beda-beda. Sayangnya sampai skrg Zeby nggak ketemu anak-anaknya. Tapi Alhamdulillah dia bisa survive dan pulih dari traumanya :)

      Delete
  2. Saya juga pengen banget pelihara kucing di rumah. Tapi Ibu saya ngga suka kucing. Waktu itu saya ngotot pelihara kucing, dia ngelahirin di lemari rumah. Sejak saat itu, Ibu saya ngebatasin jarak rumah dan kucing. Meski begitu, saya masih sering liat kucing di samping rumah. Sisa makan saya untuk setiap kucing atau ayam di samping rumah~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama, Ibu saya juga nggak terlalu suka kucing. Apalagi Bapak, beliau malah anti kucing, hehe. Jadinya ya nggak bisa pelihara, cuma bisa ngasih makan sesekali ke kucing-kucing liar, sama kayak yang kamu lakuin :)

      Delete

Thank you for reading. What do you think about the article above?

Friends

Forum Lingkar Pena Sidoarjo