Orang Tua atau Karir?

Saturday, October 07, 2017

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ



Berawal dari seorang teman yang membuat polling via instagram story tentang pilihan 'orang tua atau karir', aku tergerak untuk berbagi cerita yang berkaitan dengan hal tersebut (terima kasih ya, aku jadi update blog). Meskipun aku tidak tahu apa motif temanku itu membuat polling, dan meskipun bukan ditujukan padaku, entah kenapa aku ingin menulis apa yang aku rasakan. Barangkali, agar tidak ada yang menghakimi apa yang kita lakukan tanpa tahu motivasi di baliknya.

Anak Bungsu Bisa Mandiri

Aku sering mendengar jika anak bungsu itu anak kesayangan, anak yang paling dimanja, anak yang serba enak hidupnya, anak yang gak bisa mandiri, dan sebagainya. Setujukah kalian jika ada yang berkata demikian? Fyuuh.. sebagai anak bungsu, perempuan pula, aku menolak pendapat tersebut. Ibuku mendidik ketiga anaknya dengan adil. Tak ada yang dimanja, karena masing-masing anak itu istimewa, berbeda antara satu dengan yang lainnya. Meskipun Ibuku pernah berkata bahwa aku memang anak yang 'diaboti', maksudnya yang paling berat jika berjauhan. Namun Ibu tak pernah mendidikku dengan manja. Bahkan ketika aku memutuskan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, ibu sudah berpesan jika tidak akan bisa membiayai kuliahku secara penuh, aku harus mencari tambahan uang sendiri untuk melengkapi sebagiannya. Uang jajan juga tidak diberikan setiap saat, jika beliau ada rezeki, aku akan diberi. Jika tidak ada, ya aku tidak diberi dan tidak pula meminta ke beliau. Allah kan Maha Kaya, jadi ya aku minta ke Allah saja, pasti ada banyak jalan keluarnya. Terbukti, aku bisa lulus tepat empat tahun, Alhamdulillah.

Memutuskan Merantau

Keinginan merantau sudah kumiliki sejak di bangku SMA, aku juga sering mengutarakan keinginan ini ke Ibu. Tapi saat lulus kuliah, tentu saja beliau tidak mengizinkan, hahahaa.. butuh waktu yang sangat lama hingga akhinya Ibu dengan mudah berkata, "Mungkin memang rezekimu di sana (Jakarta)". Singkat cerita, setelah banyak hal yang kulalui dan kurasakan, aku mendapatkan ridho Ibu untuk merantau dan bekerja di lembaga kemanusiaan yang berpusat di Jakarta Timur. Begitulah Ibu, apa-apa yang diharapkan adalah yang terbaik untuk anak-anaknya. Maka tak terbantahkan bahwa surga memang berada di telapak kaki Ibu. Jika orang tua ridho, Allah pun ridho, begitupun sebaliknya.

Saat itu pembimbing magangku semasa kuliah memberi kabar bahwa ada lowongan pekerjaan sebagai copywriter di lembaga kemanusiaan. Aku yang memang ingin 'mencicipi' profesi copywriter atau merasakan bekerja di NGO entah sebagai apa, mendapat kabar tersebut bersemangat sekali. Aku pun mengirim curriculum vitae dan portfolio ke email yang diberitahukan pembimbingku. Beberapa hari kemudian aku mendapat kabar untuk melakukan interview. Berangkatlah aku ke Jakarta. Sendirian. Bisa dibayangkan, sampai di stasiun tengah malam, aku tertidur si sana hingga waktu subuh. Setelah sholat dan memantaskan penampilan, aku menggunakan jasa ojek untuk mengantarku ke alamat kantornya. Kepagian, tentu saja, hahaha tapi tidak apa, itu lebih baik. Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya direkturnya siap untuk mewawancaraiku, setelah itu aku mengerjakan beberapa psikotes di ruangan yang lain, dan saat menandatangani daftar hadir wawancara, ternyata sudah banyak yang diwawancarai, hehe.. pasrah deh sama hasilnya. Kemudian aku istirahat di tempat seorang kenalan, besok paginya kembali pulang. Beberapa hari menunggu hasil interview, Alhamdulillah aku diterima bekerja di sana. Sekali dayung, dua pulau terlampaui. Dua target ter-checklist. Tidak ada yang mustahil selama yakin bahwa ada Allah yang akan memberi pertolongan.

Jarak yang Membatasi Bukanlah Halangan untuk Berbakti

Jauh dari orang tua bukan berarti kita tidak bisa berbakti kepada mereka. Hei, banyak cara. Mendoakan setiap usai sembahyang, rajin mengirim kabar dan menjaga komunikasi, melakukan yang terbaik di tempat kerja sebagai prestasi untuk diceritakan, berbagi rezeki kepada keduanya, menjenguk jika ada kesempatan.  Itu semua bisa menyenangkan mereka. Kita tetap bisa berbakti meski jarak membatasi. Anehnya, justru ketika aku merantaulah aku lebih merasa dekat dengan Ibu, apapun aku ceritakan kepada beliau. Meskipun jauh, aku tak terlalu khawatir karena kakak pertamaku tinggal bersama Ibu, pun rumah Ibu dan Bapak bersebelahan dengan rumah kakak keduaku. Jadi mereka tak sendirian. Justru aku di sini yang sendirian hehehe.. nggak juga, sih. Ada Allah, Allah ada. Lagipula aku juga tidak akan lama di Jakarta, Insya Allah, aku pasti pulang ke Sidoarjo tercinta, hihi.

Apa sih Karir itu?

"Zia ngapain kerja jauh-jauh ke Jakarta? Kayak di Surabaya atau Sidoarjo gak ada lowongan kerja aja."

Ssst.. jangan berisik, haha. Lu tahu apa sih motivasiku memutuskan ke Jakarta? Yaudah sih, gak penting juga aku cerita. Toh cita-citaku bukan bekerja di Jakarta, cita-citaku yang sebenarnya adalah menjadi FULL TIME MOTHER! Perempuan mana sih yang nggak ingin jadi Ibu rumah tangga? Profesi paling mulia di muka bumi, hehehe.. Pasti menyenangkan mengabdikan diri untuk keluarga, mendukung suami, menemani anak-anak bermain dan belajar, walaaah jadi ingin menikah wkwkwk (baper detected, kemudian nyanyi lagunya Kunto Aji, sudah terlalu lama sendiri).

Menurut KBBI, karir, bentuk tidak baku dari karier, adalah perkembangan dan kemajuan dalam kehidupan, pekerjaan, jabatan, dan sebagainya; pekerjaan yang memberikan harapan untuk maju. Jadi, profesi apapun, bagiku semua bisa menjadi karir, entah itu copywriter, entrepreneur, designer, pengrajin, petani, bahkan ibu rumah tangga yang 'katanya' kerjanya cuma di dapur (sialan sekali yang berkata seperti ini hehe). Karena semua profesi memiliki potensi untuk maju. Apakah petani bisa maju? Bisa! Sudah banyak contohnya, cari saja di internet. Semua orang bisa berkarir, apapun itu profesinya.

Dari sini semua sudah terjawab, pilih orang tua atau karir? Tentu saja aku memilih keduanya. Orang tua dan karir adalah 'bagian' dari kisah hidup yang telah tertulis dalam skenario-Nya. Karena keduanya sama-sama penting.

Apa yang harus dilakukan jika...

Jika kamu masih galau harus merantau demi karir atau tetap tinggal bersama orang tua, maka banyak hal yang bisa menjadi pertimbangan.

  • Apakah orang tua memberi izin? Jika tidak, maka bertanyalah mengapa tidak diizinkan, lalu sampaikan kembali keinginanmu dalam keadaan yang tepat, berikan alasan terbaik kenapa kamu ingin merantau dan sanggup hidup di perantauan. Kuncinya adalah sabar. Jangan memaksakan kehendak. Jika tak juga diberi izin, hei, Allah sudah punya solusi, sabar dan sholat. Allah Maha membolak-balikkan hati manusia, jadi minta tolong saja sama Allah. Beres. Jika tak juga ada izin, wahai, selain sabar, ada dua hal lagi, yaitu ikhlas dan syukur. Yaudaaa.. ikhlasin aja, bersyukur apapun kondisi kita. Merantau itu bukan hal yang wajib, kok.
  • Apakah keadaan orang tua tidak bisa jauh dari kita? Misalnya mereka sedang sakit atau tidak ada yang menemani karena posisi kita adalah anak tunggal, atau karena saudara-saudara kita juga tinggal jauh, maka temanilah mereka. Tahu cerita Uwais Al Qarni? Jika belum, bisa baca di sini.
  • Apakah sudah lelah baca postingan ini? hehe.. Ini ada music video bagus, MV-nya Aimer yang bikin aku nggak sanggup ngebanyangin bagaimana nanti jika waktu memisahkanku dengan sosok Ibu. Insya Allah bisa membuat kita makin sayang sama orang tua, khususnya Ibu.



Semoga tulisan ini bermanfaat ya, setidaknya untuk diriku sendiri sebagai pengingat bahwa apa-apa yang dimiliki atau dialami hanya bersifat sementara, maka harus dijadikan istimewa.

You Might Also Like

6 komentar

  1. Hello Jia Yuuki..

    Ini nih baru nongol postingan barunya, tepat di tanggal 16 september lalu "Percaya Bahwa Kau Mampu". Tapi belum respon, sepertinya memang sibuk di luar nih..wkwk

    Wah-wah, terkadang kita bisa bergerak nulis dari suatu hal yang tak terfikirkan sebelumnya ya.

    Oh, jadi anak bungsu ya, beda banget, kalau aku anak pertama. Alhamdulilah bisa tepat waktu ya, dan memang benar apa-apa lebih baik minta sama yang Maha Kaya..

    Ini sama denganku, aku juga lebih dekat ke ibu, selama di perantauan sering cerita lewat telfon, intinya jaga komunikasi itu, dan terkadang ada jadwal dimana semingu sekali, telfonan di gabung bersama ayah juga. Karena aku, ibu dan ayah berada di kota yang berbeda-beda..

    Alhamdulilah kalau aku pribadi, orangtua selalu memberikan izin, dan aku selalu minta di doakan, kasih ridho, alhamdulilah bisa lancar. Apapun itu orangtua yang terpenting bagiku, betul tuh jarak yang membatasi bukanlah halangan untuk berbakti.

    Berbagi cerita saja rasanya orangtua senang, begitupun sebaliknya. Dan apapun yang dilakukan harus tetap orangtua ridho :)

    ReplyDelete
  2. "cita-citaku yang sebenarnya adalah menjadi FULL TIME MOTHER! Perempuan mana sih yang nggak ingin jadi Ibu rumah tangga? Profesi paling mulia di muka bumi . . ."

    Wah, satu pemikiran nih dengan Jiah, cita-cita saya setelah wisuda juga pengennya jadi full time mother bukan bekerja di luar rumah, hehe meski akhirnya saya harus memilih bekerja dulu sembari menjemput jodoh hehe nah sekarang setelah menikah baru jadi full wife at home hehe...

    Kalau orang tua saya galaunya karena anaknya mau merantau ikut suami, apalagi ibu saya nggak berat banget melepaskan anaknya tapi yah kalau udah nikah tanggung jawab orang tua pada anak perempuannya udah berpindah ke suami jadi mau nggak mau ortu akhirnya rela membiarkan saya ikut suami. Waktu kuliah sy udah ada pikiran kayak gt sih, kalau nikah nanti kemungkinan besar sy bakal ikut suami makanya setelah sarjana sy memutuskan meninggalkan kota perantauan yang saya tinggali selama empat tahun dan memilih pulang ke rumah orang tua, nggak memilih merantau lebih jauh lagi, alasannya yah cuma karena saya mikir ttg kebersamaan saya sama orang tua. Eh ini sekadar share pengalaman saja hehe... Salut deh kamu bisa merantau jauh gitu, btw smg disegerakan juga jodohnya 😊

    ReplyDelete
  3. kalo menurutku anak bungsu sih masih mending. lebih susahan anak cewek satu-satunya. dan lagi mekar-mekarnya (karir nih) di perantauan tapi orang tua tidak mungkin ditinggal. dalam hal ini sakit, sudah sepuh dan sebagainya.

    sebab sudah besar dan sudah sadar diri, jadi ya terpaksa mengalah. masa ibu yang merawat anak laki-lakinya kan kasihan. apalagi anak menantunya. ya walaupun anak menantunya juga gak drama macem di film-film.

    ya, tapi uang dan kariir itu bukan segalanya. disini kita belajar merelakan dan mengikhlaskan. btw ini curhat hahaha

    ReplyDelete
  4. Wah selamat ya sudah merasakan dunia perantauan.
    Aku yakin saat merantau pasti lebih asik ketimbang tinggal dirumah. iaa ga sih ?

    aku sendiri udah mandiri sejak kelas 6 SD,
    sampe seakrang wisuda aku masih aja merantau.
    dan kemarin pas ibuku nyuruh tinggal dirumah aku malah ga betah he.

    ReplyDelete
  5. Setuju dengan apa yang kamu bilang, kalau jarak bukan halangan untuk terus berbakti. Toh berbakti atau tidaknya seorang anak itu tergantung dengan adab mereka terhadap orangtua, kalau ketemu terus dirumah tetapi melawan mulu apa bisa disebut berbakti?

    Menurut saya orang yang bisa merantau dan jauh dari keluarga itu keren, karena mereka berani maju, berani gagal, berani menghadapi kemungkinan kemungkinan yang terjadi saat jauh sama keluarga. yang paling penting orangtua ridho dan kita bisa jaga kepercayaan mereka. :)

    ReplyDelete
  6. dari pin poin lo di atas, gue setuju banget bahwa justru di saat jauh dari orang tua, kita jadi ngerasa deket. ngerasa gue sih jadi lebih sayang sama nyokap saat jauh. ada kebahagiaan saat berbagi rezeki ke nyokap dan bokap. memang merantau selalu menimbulkan sensasi yang sulit dijelaskan.

    salut sebagai anak bungsu lo mandiri dan enggak manja. :D

    ReplyDelete

Thank you for reading. What do you think about the article above?

Facebook

Friends

Community