Mengendalikan Amarah

Thursday, January 26, 2017

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Source: www.kompasiana.com
Kemarin malam ketika ponselku berbunyi, tiba-tiba yang sebelumnya aku baik-baik saja, mood seketika berubah, aku kecewa. Sangat kecewa.
---

Suatu hari, saat tim marcomm masih menumpang di ruang Pak Ferry, Mas Reiga menyampaikan kepada tim untuk memilih lokasi tempat duduk sesuai desain interior ruangan baru yang ia buat. Terserah pilih yang mana, siapa cepat, dia dapat, hehe. Aku masih ingat dengan benar, aku memilih nomor 4, yakni berada si sisi kanan dari arah pintu, dan berada di tengah sisi kanan, bersebelahan dengan nomor 6.

Saat tim berpindah ke ruang baru, aku bergeser ke posisi nomor 6, alasanku sederhana, nomor 4 dan 6 tak ada yang memilih, maka tak ada salahnya aku berpindah, toh aku akan lebih mudah meminta persetujuan Mas Reiga untuk copywiting yang aku buat. Karena dia duduk di bangku nomor 7.

Dua hari setelah kepindahan kami, malam harinya tetiba ada chat masuk, ternyata ada foto ruangan di sana, dan terlihat mejaku dipindah tepat di depan pintu, di sisi kiri ruangan jika dari arah pintu, di bangku nomor 5. HAHAHA, sedih saya. Sangat sedih. Jika memang akhirnya diatur, maka mengapa awalnya kami disuruh memilih?? Aku terlanjur kecewa dan sedih. Malamnya mataku sembab karena belum mampu mengolah emosiku, aku belum ikhlas.

Mengapa hanya masalah tempat duduk saja aku bisa marah? Karena kecewa. Jangan biarkan aku memilih jika ujungnya akan diatur dan tak sesuai pilihan. Kenapa aku marah? Karena aku tidak suka berada di sebelah pintu, aku orang yang mudah kehilangan fokus jika merasa terganggu, bukankah di sebelah pintu artinya akan mudah melihat orang-orang keluar-masuk? Jika pintu lupa tak ditutup maka otomatis yang berada paling dekatlah yang akan menutupnya, bukan?

Paginya mataku bengkak, i am serious. Benar-benar bengkak. Aku memang seperti itu, menangis sebentar saja mata sudah bengkak -_- beruntungnya aku memakai kacamata, jadi sedikit samar, meskipun tetap terlihat haha.

Awalnya aku chat menyatakan protes, tapi kemudian aku tak tahan dengan rasa kecewa dan marah yang aku rasakan, maka aku membalas chat tersebut dengan kalimat yang kurang lebih, "Oke gapapa, aku duduk di dekat pintu." Mungkin Mas Reiga kasihan, jadi aku diperbolehkan kembali duduk di posisi nomor 6 jika memang tak nyaman. Tapi aku terlanjur marah, tak hanya marah ke Mas Reiga, tapi juga marah kepada diriku sendiri, kenapa hanya masalah tempat duduk saja aku protes? Meski aku memiliki alasan rasional, hal itu tak kusampaian, aku bersedia duduk di posisi nomor 5, tepat di depan pintu.
---

Paginya, kepalaku sedikit pening. Aku memang begitu, jika menangis maka kepalaku pusing dan mataku bengkak -_-. Saat subuh, aku ingat sebuah video Ustadz Nouman Ali di channel youtube tentang mengendalikan amarah, maka aku segera meraih ponsel untuk menonton video itu. Ketemu! Sambil nonton sambil nangis (lagi), sedih karena sadar betapa lemahnya diriku mengolah emosi.

Inti video ini membahas Surah Asy Syura ayat 36, 37, dan 40.
36. Apapun (kenikmatan) yang diberikan kepadamu, maka itu adalah kesenangan hidup di dunia. Sedangkan apa (kenikmatan) yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakkal,
Oh Allah, maafkan hamba ya.. padahal yang Engkau sediakan di dunia hanyalah fasilitas sementara, apapun itu. Bukankah apa yang kusukai belum tentu baik untukku dan apa yang tidak kusukai belum tentu tidak baik untukku? Bagaimana bisa aku lalai menyadari bahwa yang ada di sisi-Mu lebih baik dan lebih kekal?

Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun, sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali.

Zia ingin jadi orang yang beriman? Maka, ayo, harus bisa tawakkal :')
37. dan juga (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah segera memberi maaf.
Oh Allah, mohon maafkan, lagi-lagi aku lalai.. meski Engkau memperbolehkan membalas sebuah perbuatan yang menyakiti hati atau fisik secara setimpal, namun Engkau memberi pilihan yang lebih baik, meski berat, namun pilihan itu sungguh jauh lebih baik. Memaafkan. Aku mengartikan ini dengan memaafkan orang yang membuat kita kecewa pun memaafkan kelalain diri sendiri agar mampu untuk ikhlas.
40. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang dzalim.
Tuh kaaan.. tuh kaaan.. bahkan Allah memberi pilihan untuk membalas dengan cara memaafkan dan berbuat baik. Meski dalam konteks ini Mas Reiga tidak berbuat jahat, cuma bikin kecewa. Yaa jauh beda lah ya level kejahatannya hahaha. Aku saja yang berlebihan karena belum mampu megendalikan amarah. Toh lama-lama aku juga akan terbiasa duduk di posisi depan pintu, bikin ajang latihan pengendalian air, api, udara, dan bumi aja macam avatar, ahihi, maksudku pengendalian fokus. Yakali dengan berlatih mengendalikan fokus, aku bisa memiliki kemampuan menulis yang lebih baik. Semoga.. Bisa juga jadi ladang pahala, bagian nutupin pintu kalau ada yang lupa nutup ._.

Mas Reiga misal gak sengaja baca tulisan ini, maafin zia yang kalau lebay. Tapi aku yakin Mas Rei pernah mengalami kecewa, ya seperti itulah yang aku rasa, ceileh hahaha.. Alhamdulillah, pelan-pelan aku belajar mengendalikan amarah dan kecewa, bukankah itu bagus ketika kita bisa merasakan kecewa? Artinya kita masih hidup, artinya hati kita masih peka, artinya Allah memberi kesempatan untuk berlatih mengendalikan emosi di dalam diri, agar mampu bersabar dan lebih bersyukur atas apa yang terjadi. Insya Allah..

*Woooo zia sok bijak, padahal masih labil gitu pake sok bijak, hahaha yaweslah sakarepku kan iki blogku. #modeegois :p

You Might Also Like

2 komentar

  1. prokprokprok, akhirnya ruangan marcomm jadi juga, (so kapan join ke sini nu XD *addduh*)

    di cc-in ke mas reiga dulu no zi tulisannya hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi sssstt.. jangan berisik, Nu! XD

      Delete

Thank you for reading. What do you think about the article above?

Forum Lingkar Pena Sidoarjo

Friends

Community