The Little Girl is Growing Up

Friday, November 25, 2016

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Image Source: deloiz.blogspot.co.id
Seringnya, anak bungsu dianggap sebagai anak yang paling manja di antara yang lain. Namun bagiku itu tidak selalu benar.. bergantung terhadap latar belakang keluarga, tentu saja. Ketika aku menginginkan sesuatu, tak selalu sesuatu itu seketika disediakan oleh kedua orang tuaku. Terkadang aku tak mendapatkan keinginanku, terkadang aku harus menunggu dalam waktu yang lama, dan terkadang keinginan itu diganti dengan hal yang lain. Sejak kecil, Ibu selalu mengajariku untuk mengatur keuangan sendiri, dengan cara membiarkanku mengolah uang yang diberikan oleh beliau atau saudara. Misalnya saat sekolah dasar, alat-alat sekolah seperti pensil, tempat pensil, rautan, buku gambar, dll, aku beli dengan uang jajanku. Bisa saja aku meminta kepada Ibuku, namun entah kenapa aku jarang melakukannya kecuali terpaksa (karena tidak ada tabungan sama sekali). Saat lebaran, angpau yang aku dapat bahkan bisa bertahan hingga setahun lebih. Berbeda dengan anak seusiaku yang lain saat itu, yang uangnya digunakan untuk memberi barang keinginannya. Entah itu baju, boneka, atau sepeda.

Saat SMA, Ibu memberiku uang saku harian. Uang tersebut harus aku olah juga untuk biaya SPP. Beruntungnya kakak keduaku saat itu sudah lulus SMK dan bekerja, jadi SPP-ku juga dibantu kakak. Ya, aku hidup dalam keluarga yang sangat sederhana, namun kesederhanaan itulah yang membuatku bisa bertahan hingga saat ini. Dan aku sangat bersyukur aku tak terlahir dari keluarga yang kaya harta, bisa-bisa karakterku menjadi manja karena semua permintaan bisa dengan mudah kudapatkan. Lulus SMA, aku ingin sekali melanjutkan kuliah. Karena kelalaianku saat kelas sebelas dan duabelas, aku mendapatkan nilai yang sangat rendah saat ujian nasional (aku pun diperbincangkan di sekolah!), mungkin hal itu yang menyebabkanku tidak lolos dalam tiga kali seleksi penerimaan mahasiswa. Uang orang tuaku sudah berkurang karena membayar formulir yang cukup mahal. Ibuku pun berkata, "Sudah, kamu kerja saja, tidak usah kuliah." Mendengar hal itu aku cukup sedih.. aku pun jatuh sakit karena ada beberapa masalah psikis yang terjadi.

Kubulatkan tekad, baik, aku akan bekerja, namun tahun depan aku pasti bisa melanjutkan kuliah. Singkat cerita, aku bekerja selama lima bulan, lalu pertengahan tahun 2011 aku diterima di sebuah perguruan tinggi, biaya masuk menggunakan tabunganku sendiri, aku pun kuliah dengan sistem 'patungan'. Ibuku bersedia membantu biaya kuliahku, namun hanya sebagian, sisanya aku harus melengkapinya sendiri. Aku pun mengambil part time mengajar les privat, terkadang menerima pesanan desain, lumayan.. Aku juga beberapa kali apply beasiswa, lalu ikut penelitian yang juga ada fee-nya. Wah, benar kata pepatah, siapa yang bersungguh-sungguh, pasti akan menemukan jalannya. Aku tidak mau lalai lagi seperti saat SMA, aku harus belajar dengan baik tentang keilmuan yang ingin kudalami (meskipun kadang masih lalai, hehe.. pemalas!).

Selama kuliah, aku ikut beberapa komunitas. Aku tidak aktif dalam organisasi kampus, aku lebih suka berkegiatan di luar kampus ketika tidak sedang kuliah. Menurutku, mengikuti kegiatan di dalam komunitas itu waktunya lebih fleksibel daripada organisasi. Terkadang aku juga menjadi volunteer di sebuah lembaga. Inilah masa-masa terbaikku. Aku yang dulu selalu gemetar jika berdiri di depan kelas, sekarang menyapa orang yang tidak kukenal pun sering kulakukan. Saat masa kuliah, aku dua kali mengambil internship di dua perusahaan yang berbeda namun sejenis. Entah pikiran apa yang membuatku harus melakukan ini, padahal teman-temanku tidak melakukannya. Seolah ada yang membisikkan sesuatu di telingaku, "Aku tidak mau apply pekerjaan di job fair, sedih rasanya mengetahui fakta betapa susahnya mencari pekerjaan di negeri ini, ratusan pengangguran berkumpul jadi satu. Ya Allah, aku harus punya portfolio sebelum lulus kuliah, setidaknya itu modal awalku."

Waktu terus berjalan.. lulus kuliah, aku mengalami hal yang juga dialami banyak fresh graduate, SUSAH SEKALI MENDAPATKAN PEKERJAAN! HUAHAHAA.. Tapi aku tidak menyerah, aku yakin Allah sedang menyiapkan sesuatu untukku. Dan benar saja, aku mendapat kesempatan bertemu dengan seorang profesor yang kuidolakan sejak lama. Selama enam hari aku dan beberapa orang yang terpilih digembleng di yayasan yang didirikannya bersama sang istri, kami ditempa beberapa pelatihan. Bulan berikutnya, tawaran pekerjaan pertama setelah lulus kuliah menghampiriku. Seorang teman komunitas menawarkan sebuah lowongan, akhirnya akupun bekerja di sana. Hanya enam bulan. Lalu aku memilih resign karena porsi pekerjaan yang kukerjakan sangat sedikit. Seperti 'magabut' (makan gaji buta) saja, pikirku saat itu. Pasca resign, selama dua bulan aku bekerja freelance dari rumah dan belajar dagang. Setelah itu aku mendapatkan tawaran pekerjaan lagi di luar kota dari seorang yang kukenal saat melakukan internship tahun 2014 di Jogja (Terima kasih, Mas! Karena sudah percaya sama zia, Insya Allah zia akan berusaha dengan baik). Nah kan, rezeki nggak ke mana. Selama kita yakin sama Allah, pasti ada jalan. Percaya, deh..

Impianku selama kuliah adalah mencicipi profesi copywriter di ibukota, atau kalau tidak ya bekerja di sebuah NGO. Karena sebelum Allah memberiku kesempatan menikah dan berkeluarga, aku ingin mengalami hal yang seolah mustahil kudapatkan mengingat aku ini siapa sih? Cuma anak bungsu yang biasa saja, cantik enggak, jenius enggak, doyan tidur mah iya, huahaha. Such a lucky girl, aku menjadi seorang copywriter di sebuah NGO. Apalagi iklim-nya islami bangeeeet.. Antara sedih dan senang. Karena apa-apa yang terjadi adalah ujian-Nya, seberapa teguh hati kita meyakini dan mensyukuri nikmat yang diberikan-Nya kepada kita. Sedih karena aku harus jauh dari Ibuku yang sangat menyayangiku, ya, anak bungsu yang selama ini tidak boleh jauh dan memang tidak bisa jauh darinya. Ibuku sendiri mengatakan hal itu, "Iyo, awakmu tak aboti."

Rasanya ajaib Ibu mengizinkanku pergi ke Jakarta. Bu, terima kasih ya, now your little girl is growing up.. aku belajar mandiri di sini. Insya Allah, impian Ibu akan zia upayakan. Jika tantangan anak sulung adalah menjadi panutan bagi adik-adiknya. Tantangan anak bungsu adalah harus bisa lebih baik dari kakak-kakaknya, dan mengupayakan impian kedua orangtuanya yang belum bisa dipenuhi oleh putra-putrinya yang lahir terlebih dahulu. Bu, zia selalu kangen sama Ibu. Kalau dulu zia sebal diomelin Ibu, sekarang zia kangen dengar omelannya Ibu, hahaha.. apalagi masakan Ibu (bahkan saat weekend mbak pamer "Ibu masak enak, lho" hiks..). Terima kasih atas do'a yang zia tidak bisa dengar namun Allah selalu mendengarnya. Terima kasih atas penjagaan yang engkau pintakan kepada-Nya. Karena tanpa Ibu, zia tidak akan mengenal madrasah pertama yang sungguh mulia.

Di antara dua meja,
Jkt, 611152
JY

You Might Also Like

0 komentar

Thank you for reading. What do you think about the article above?

Forum Lingkar Pena Sidoarjo

Friends

Community