Siang dan Sprei

Wednesday, November 09, 2016

Siang ini hujan deras.. kilat dan guntur berlomba-lomba menyapa bumi. Mulutku tak berhenti meminta pada-Nya, "Allah, alihkan hujannya ke tempat lain. Hari ini aku nyuci sprei.. Kalau basah aku tidurnya bagaimana?"

Seketika aku rindu rumah. Biasanya aku malas mengambil jemuran. Berbeda dengan Ibu yang siap siaga ba'da dzuhur membereskan jemuran yang telah kering.

Caput, teman baruku yang cantik itu bertanya, "Kenapa, Zi?" Melihat mulutku seperti sedang berbisik mungkin membuatnya penasaran.

"Aku nyuci sprei, Put. Kalau hujan, alamat basah spreiku." Aku tak berhenti berharap Allah akan memberi solusi.

"Pakai selimut saja," jawabnya. Masya Allah, kalau bukan karena Ibuku, mungkin aku ke Jakarta tidak membawa selimut. Aku ingat benar, dua selimut sengaja Ibu bawa ke jasa laundry agar aku bisa memilih salah satunya untuk kubawa. Padahal keluarga kami biasa mencuci sendiri.

Sepulang kerja, sebelum membuka pintu kamar, aku cek jemuranku. Allahu Akbar! Cucianku tidak basah, hanya lembab di beberapa bagian. Allah telah hadirkan angin agar hujan condong ke Selatan. Lalu, nikmat Tuhanmu yang mana yang kau dustakan?

Bu, terima kasih ya.. Barangkali ada doa Ibu agar Allah memberi penjagaan siang dan malam padaku. Betapa romantisnya Tuhan kita ini, ya, Bu.

"Maka ingatlah kepada-Ku, maka Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku. Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al-Baqarah: 152-153)

You Might Also Like

0 komentar

Thank you for reading. What do you think about the article above?

Forum Lingkar Pena Sidoarjo

Friends

Community