Pentingnya Review Izin Demi Keseimbangan Lingkungan

Tuesday, August 23, 2016

Image Source: freepik.com / Edited by author jiayuuki.com
Waktu aku masih usia sekolah dasar, ada sebuah film musikal tentang petualangan seorang anak dengan latar perkebunan dan hutan. Mungkin sejak saat itu pemandangan hijau selalu menjadi favorit, entah itu bentangan persawahan, perkebunan, dan pemandangan hutan (ssstt.. yang terakhir itu yang paling ku suka). Menginjak masa dewasa, pernah suatu pagi aku pergi diam-diam ke hutan sendirian hanya berteman motor pinjaman. Menyenangkan! Udara bersih dan sejuk memanjakan paru-paruku, pun hijaunya area hutan dari atas tebing memanjakan mataku bak permadani dalam naungan langit.

Pernah suatu kali aku berkhayal, jika nanti aku telah berkeluarga dan dikaruniai anak, saat liburan aku akan mengajak mereka berkemah di hutan. Mengajak mereka berbaur dengan alam, mencintai alam, tanpa menyakiti dan merusak alam tersebut. Bermain dan belajar bersama. Seru sekali, bukan? Maukah kalian, kamu, kita, bersama-sama menjaga hutan agar khayalan ini menjadi kenyataan?
-----

Beberapa hari lalu, aku membaca artikel di website Serambi Indonesia. Tahukah, kawan? 80% dari 1.957,02 km2 luas Kabupaten Aceh Tamiang telah dikuasai pemilik HGU (Hak Guna Usaha) perusahaan, yang mayoritas adalah perusahaan kelapa sawit. Astaga, total 80% itu tidak sedikit. Hal ini menyebabkan wakil bupati Aceh Tamiang, Drs Iskandar Zulkarnain, kesulitan melakukan pengadaan lahan untuk fasilitas publik. Lagi-lagi masyarakat yang dirugikan. Belum lagi banyak sertifikat tanah palsu yang beredar di masyarakat, inilah yang menyebabkan kemunculan konflik tanah. Mengetahui hal ini rasanya sedih sekali, seolah permasalahan di negeri ini tak ada habisnya. Haruskah kita berputus asa? Tentu saja TIDAK.

Dampak Positif Review Izin Untuk Penataan Perizinan

Cara yang bisa dilakukan dalam waktu dekat untuk menangani masalah jumlah izin HGU di Indonesia khususnya Aceh adalah dengan melakukan review izin untuk penataan perizinan. Jika review izin dilakukan, maka akan berdampak positif dalam jangka panjang bagi kelestarian hutan dan menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi generasi masa depan.

Dampak positif mengevalusi izin HGU yang akan terasa dalam jangka pendek yaitu untuk memastikan bahwa perusahaan mematuhi peraturan yang berlaku. Apabila perusahaan patuh terhadap peraturan, tak akan ada lagi konflik lahan dengan masyarakat. Selain itu, perusahaan dengan kepemilikan HGU justru dapat memberikan sumbangsih bagi kesejahteraan masyarakat, tak akan ada lagi masyarakat miskin di sekitar perusahaan karena mereka akan memiliki PAD atau pendapatan asli daerah.

Apabila perusahaan patuh terhadap peraturan, mereka tidak akan berani beroperasi di hutan lindung, mereka akan mengelola perkebunan, usaha budidaya, serta industri pengolahan hasil kebun dengan baik. Hal ini akan mencegah terjadinya banjir yang sering melanda Aceh dan wilayah-wilayah lain. Pun pemerintah akan dengan mudah membangun fasilitas publik karena tak akan ada yang berlaku curang perihal lahan.

Review Izin Usaha Perkebunan Perusahaan Kelapa Sawit

Perusahaan kelapa sawit/ Image Source: mongabay.co.id / Photo by Junaidi Hanafiah
Untuk meningkatkan perekonomian, bisnis kelapa sawit memang begitu menggiurkan, dan Aceh terkenal dengan bisnis tanaman ini. Namun, tahukan kawan? Bisnis ini memiliki efek jangka panjang yang sangat fatal, tanah akan rusak dan keseimbangan alam menjadi terganggu.

Hutan adalah ekosistem yang memiliki hubungan timbal balik antar komponennya. Contoh sederhana, apabila suatu kawasan hutan yang merupakan lintasan kawanan gajah dirusak oleh manusia, maka gajah akan turun ke perkampungan. Jika hal ini terjadi, konflik manusia dengan gajah tidak bisa dielak. Belum lagi orang utan akan kehilangan tempat tinggalnya jika hutan-hutan lebat itu dihabisi oleh ambisi keserakahan umat manusia.

Pernahkah terlintas? Suku di pedalaman yang biasa mencari madu liar akan kesulitan mendapatkan mata pencahariannya. Bahkan manusia sendiri merasakan dampak negatifnya. Sungguh egois jika kerusakan hutan dibiarkan terjadi. Jangan sampai kita bersenang-senang saat ini tapi menyesal tiada guna di esok hari, maka review izin untuk penataan perizinan usaha perkebunan perusahaan kelapa sawit harus segera dilakukan.

Upaya yang Bisa Dilakukan oleh Pemerintah Terkait Hutan Aceh

Selain melakukan review izin untuk penataan perizinan, pemerintah juga perlu melakukan beberapa hal lain sebagai berikut:
  1. Sosialisasi kepada masyarakat saja tidak cukup. Pemerintah harus bekerjasama dengan masyarakat atau komunitas peduli lingkungan untuk turut menjaga, mengawasi, dan melaporkan perkembangan hutan di Indonesia, wilayah Aceh khususnya, sehingga bisa mencegah illegal logging.
  2. Menjalankan hukum dengan adil bagi perusahaan yang melanggar peraturan. No compromise!
  3. Tidak melakukan korupsi. Duhai kawan, tentu kita semua mengetahui efek dari tindakan yang sangat merugikan ini.
  4. Mengajak masyarakat lokal yang menanam sawit untuk beralih ke tanaman kakao, tanaman karet, atau tanaman produktif lainnya. Serta menerapkan moratorium sawit kepada perusahaan dengan kepemilikan HGU. Bukan dihapus atau dihentikan, melainkan dilarang melakukan perluasan bahkan membuka lahan baru.
  5. Terakhir, seperti saran wakil bupati Aceh Tamiang di website serambi Indonesia, alangkah baiknya BPN (Badan Pertahanan Negara) mengirim petugas ke lapangan guna menerima kritik dan masukan dari masyarakat sebelum mengeluarkan sertifikat. Hal ini akan berguna agar sertifikat tersebut tidak menimbulkan masalah dikemudian hari. Serta SKPK atau satuan kerja perangkat kabupaten di lingkungan pemerintahan Kabupaten Tamiang melakukan penyusunan perencanaan agar tidak menyalahi tata ruang dan menyalahi aturan.
Dampak yang Dirasakan dan Hal yang Bisa Dilakukan Kaum Perempuan

Asap di Aceh Barat / Image Source: mongabay.co.id / Photo by Chik Rini
Sebagai penyuka alam, aku ingin pemerintah Aceh melakukan review izin usaha perkebunan sawit, agar hutan di negeri ini tidak lenyap, agar hutan tetap asri dan lestari, agar tatanan hutan dan tanah dapat dikelola dengan baik dan bijak. Aku akan sedih jika generasi setelahku nanti tidak bisa lagi menikmati indahnya alam di negeri ini, apalagi mendapatkan manfaatnya, seperti udara dan air yang bersih. Bukankah efek kabut asap--hasil pembakaran lahan gambut untuk perkebunan sawit--yang terjadi beberapa waktu lalu sangat membahayakan bagi kesehatan?

Sebagai anak perempuan ibuku, aku ingin bisa membantu ibuku di dapur dengan tenang. Tentu para perempuan tahu, kita butuh sawit sebagai bahan minyak goreng dan berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya, tapi tentu saja kita tidak ingin menggunakan minyak sawit dari perusahaan yang tidak taat hukum, bukan? perusahaan yang abai pada lingkungan dan merusak keseimbangan di dalamnya.

Untuk para perempuan ibu pertiwi, yuk bersama-sama kita bantu pemerintah untuk menjaga lingkungan kita. Bagaimana caranya? Pertama, pastikan anggota keluarga kita tidak bekerja di perusahaan yang abai pada tata tertib hukum di negeri ini, dan tentu saja bukan perusahaan yang meremehkan keseimbangan alam. Kedua, kita harus bijak dalam memilah dan memilih produk yang ramah lingkungan.

Ketiga, jika kita adalah seorang kakak atau adik, baiknya kita bekerjasama dan saling mengingatkan untuk bergaya hidup hijau. Seperti hemat energi, tidak membuang sampah sembarangan, dan sebagainya. Dan jika kita adalah seorang ibu, kita harus didik anak-anak kita untuk mencintai lingkungannya seperti kita mencintai mereka.

Keempat, kita bisa melakukan campaign via media sosial. Kita bisa memposting kalimat-kalimat yang mensupport review izin di media sosial masing-masing, twitter misanya, bisa kita gunakan hashtag sawit bukan solusi >> #sawitbukansolusi << . Selain itu, terus dukung kelompok atau organisasi yang peduli terhadap alam di Indonesia, MaTA (Masyarakat Transparansi Aceh) misalnya.

Kelima, selalu jujur dan melakukan yang terbaik sesuai bidang yang kita geluti, apapun profesi kita. Baik pelajar, mahasiswa, teknisi, dokter, pengusaha, penulis, ibu rumah tangga, dll, selama yang kita lakukan adalah hal baik dan memberikan dampak baik untuk lingkungan kita (alam atau sosial), kita harus terus melakukannya demi keseimbangan kehidupan. Karena alam dan manusia memiliki hubungan yang erat. Jika manusianya 'sakit' lalu merusak alam, alam akan balik menyakiti kita. Sebaliknya, jika kita bijak menjaga alam, alam akan berbaik hati menjaga dan memberikan 'manfaatnya' kepada kita.

Selamat berkontribusi menjaga keseimbangan lingkungan. Mencintai alam tanpa menyakiti dan merusaknya, semoga bukan sekadar khayalan. :)

***

Referensi artikel:
1. http://blog.mataaceh.org
2. http://aceh.tribunnews.com/2016/04/08/aceh-tamiang-dikepung-hgu
3. http://www.mongabay.co.id/2016/08/18/izin-hgu-di-aceh-harus-dikaji-kembali-mengapa/
4. http://www.mongabay.co.id/2016/07/04/tidak-akan-ada-lagi-tanaman-sawit-di-aceh-utara-benarkah/

You Might Also Like

16 komentar

  1. Sedih juga melihat hutan yang dialih fungsikan secara besar - besaran, pengalih fungsian hutan juga dapat mengganggu ekosistem yang ada, rantai makanan yang putus, hewan2 yang keluar dari hutan.

    Apalagi waktu musim tanam setelah panen akan ada oknum yang membakar hutan, ketika asapnya meracuni warga sekitar oknum tadi pura2 tidak melakukan apa2.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, sedih sekali jika hutan terus-menerus dilenyapkan. Review izin harus segera dilakukan dan ditangani dengan tegas hasil review tersebut.

      Delete
  2. hutan di dunia semakin lama akan semakin habis, khususnya Indonesia..
    kasihan generasi-generasi yang akan datang..

    ReplyDelete
  3. Hhhhh kadang perusahan2 itu malah tanpa mikir langsung bakar hutan untuk buka wilayah, dan ini banyak bgt kan di pulau sumatra dan kalimantan. Parahnya, kalo udah sampai bencana asap, pemerintah pusat lambat banget nanggapinnya. Emang harus pemerintah daerah sendiri yg bertindak, untuk pencegahan bisa pake review izin itu. Keren euy.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, pemerintah daerah harus cekatan, dan masyarakat harus bersedia diajak bekerjasama demi kebaikan bersama.

      Delete
  4. Asik dan seru kalau bisa bersama dengan keluarga camping di hutan. Sedih juga lihat hutan-hutan di Sumatera dan Kalimamtan habis buat ditanami pohon kelapa sawit. Kayaknya review izin ini bisa dijadikan jalan agar perusahaan gak seenak udelnya bakar-bakar hutan buat dijadikan lahan baru menanam pohon sawit.

    ReplyDelete
  5. Wah baru tahu kalo kondisinya udah separah itu. Dan bener juga kalo perijinan harus direview ya biar nggak separah itu. Belum lagi sepertinya perusahaan hanya mikirin produktivitas tanpa mikirin dampak ke lingkungannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Agree, masih banyak di luar sana perusahaan yang nggak taat hukum. Pemerintah harus tanggap dan adil.

      Delete
  6. Masalah kayak gini bukan masalah enteng, kenapa? Karena satu masalah memiliki keterikatan dengan masalah yang lainnya. Hutan semakin menipis luasnya, kenapa?
    1. Jumlah manusia bertambah banyak, indonesia saja mengalami ledakan penduduk, kalau ini g diatasi, lahan2 yang seharusnya dijadikan tempat hijau, akan habis dan meraup hutan.
    2. Masyarakat kita masih minim kesadaran akan pentingnya hutan, itu bisa dilihat pada pembatatan hutan ilegal untuk membuka lahan sebagai ladang, lalu pencurian kayu, dsb.
    Kedua hal yang aku tulis cuman sebagian kecil aja. PR pemerintah itu banyak, tapi bukan hanya pemerintah saja yang harus bergerak, pihak swasta dan kita sebagai masyarakat harus mampu bahu membahu membenahi hal2 tadi agar generasi kedepannya masih mampu melihat hutan seperti kita

    ReplyDelete
  7. Haduh, parah banget ya, miris bacanya, dengan mudahnya mereka mengambil alih hutan, padahal menurut saya, hutan itu penting banget, mengingat hutan juga merupakan paru-paru dunia, indonesia yang semakin berpolusi, bisa diatasi karna adanya hutan ini, hmm.. perusahaan itu bener-bener cuma mikirin produktivitas ketimbang dampak pengambil alihan hutan itu :(

    ReplyDelete
  8. Separah itu ternyata, aku dukung banget deh gerakan ini agar ekosistem tetap terjaga dan indonesia tidak kehilangan hutannya.

    ReplyDelete
  9. Batu tau, ternyata parah banget ya di aceh itu. Hmmm...
    Bener2 serakah ya? Padahal kan hutan itu sangat penting untuk kita juga. Semoga mereka sadar.

    Semoga dengan ini membuat mereka lebih berpikir ya? Aamiin.
    Semoga indonesia bisa lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  10. Ngeri juga dampaknya. Memang harus memikirkan solusi sekaligus merealisasikan solusi pencegahan kerusakan longkungan akibat rakusnya manusia. Karena nasib lingkungan untuk kondisi Alan di jangka panjang.
    Semoga birokrasi di Indonesia tidak memihak pada yang punya harta.

    ReplyDelete
  11. Permasalahan lingkungan itu mencakup semua pihak memang zi. Banyak yang perlu dibenahi terutama mental masyarakat yang selalu diberi dengan uang.
    Ini yang susah, ketika sudah bermain di sini, tidak hanya pemerintah tetapi masyarakat sekitar pun turut andil dalam wilayah ini. Kadang kita itu kalau sudah terjadi bencana baru memikirkan solusinya. Bukan mencegah dan mengantisipasi.

    Perbaikan sdm tentang lingkungan itu perlu dilakukan, meski susah mengingat masyarakat kita lebih banyak mementingkan perutnya.

    ReplyDelete
  12. Wah sebagai anak pertanian jujur aku malu kurang tahu akan info kasus ini kak.
    Kalau sampai 80 persen gitu sih, bisa dibilang aku setuju dengan statement yang kak jia kemukakan. Kenapa? Kalau waktu duduk di bangku smp dulu ketika mata pelajaran pendidikan lingkungan hidup, di situ sedikit disinggung mengenai AMDAL, kalau tidak salah sih kurang lebih sama semacam bentuk perizinan untuk pembangunan gitu. Agar bangunan yang dibangun itu sesuai dengan standar lingkungan atau dalam artian menjaga keberlangsungan ekosistem di sekitarnya.

    Ya salah satu solusinya kita harus memulai dari diri sendiri untuk peduli terhadap lingkungan sekitar.
    Campaign nya boleh juga sih itu kak.
    Ah, aku jadi tertarik mengangkat isu ini di kelas untuk dijadikan bahan diskusi sama dosen hehehe.

    ReplyDelete

Thank you for reading. What do you think about the article above?

Forum Lingkar Pena Sidoarjo

Friends

Community