Nikmat dan Lalai


Betapa sungguh, Allah itu Maha Baik. Nikmat dari-Nya seringkali tidak kita sadari. Sehari-hari hanya mengeluh ini dan itu, lupa bersyukur bahwa bisa jadi nun jauh di sana orang-orang menginginkan fasilitas yang kita dapatkan. Mengapa tak memanfaatkan potensi yang telah diberikan oleh Allah untuk berbagi kebahagiaan bersama mereka yang bersedih hatinya? Mengapa lebih memilih mengeluh daripada mensyukuri dan memaksimalkan nikmat dari-Nya?

Pagi ini Allah seolah menyuruhku untuk membaca kalam-Nya, beberapa ayat dalam Surah Sad, tiga ayat paling akhir menjadi poin penting.

"Katakanlah (Muhammad), "Aku tidak meminta imbalan sedikit pun kepadamu atasnya (dakwahku); dan aku bukanlah orang yang mengada-ada."" (Terjemah QS. Sad: 86)

"(Al-Qur'an) ini tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh alam." (Terjemah QS. Sad: 87)

"Dan sungguh, kamu akan mengetahui (kebenaran) beritanya (Al-Qur'an) setelah beberapa waktu lagi." (Terjemah QS. Sad: 88)

Coba kita resapi tiga ayat tersebut. Allah telah mengutus Rasulullah untuk menjadi imam kita, karakternya yang penuh teladan seringkali kita abaikan. Padahal masa hidup Rasul sangatlah tidak mudah, namun beliau tidak mengeluh, justru sering bertaubat dan bersyukur atas nikmat yang Allah berikan kepadanya. Bahkan Rasul tidak meminta imbalan kepada manusia atas dakwah yang telah beliau sampaikan kepada kita. Bukankah beliau adalah teladan paling sempurna? Oh, Allah, maafkan kelalaian kami.

Al-Qur'an adalah peringatan, bagaimana bisa kita masih saja lalai padahal waktu kita di dunia sangatlah sebentar. Shalat ditunda-tunda, puasa justru malas-malasan, mengkaji Al-Qur'an hanya sebentar, mencibir makanan, membicarakan keburukan orang lain. Oh, Allah, maafkan kelalaian kami.

Tidak lama lagi kebenaran Al-Qur'an akan kita ketahui. Astaghfirullah, bagaimana bisa kita masih saja lalai? Oh, Allah, lindungi kami dari siksa kubur dan jauhkan kami dari siksa api neraka.

No comments:

Thank you for reading. What do you think about the article above?