Book Review: Tiga Bianglala

Tuesday, June 28, 2016

Image Source: Google
Tiga Bianglala
Penulis: Misna Mika
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 304 halaman
Tahun terbit: 2013
Rating (Jia Yuuki): 4/5

Blurb:

Itut menjalani hari-hari di kampung Bala, pinggiran kota Palembang. Ia tinggal berimpitan dalam rumah reyot tapi hangat bersama lima orang saudara, dan kedua orangtua.

Dengan sifat iseng, jail, dan penuh akal, Itut yang berkulit hitam dan kumal mencoba menikmati masa kecil bersama Manna, sobatnya yang cantik dan manis. Bermain cak engkleng, menyewa sepeda, mencuri buah dari pohon tetangga, hingga berjualan es bungkus adalah kegiatan yang mengisi hari-hari mereka dengan segala keterbatasan. Tak peduli pada gerombolan Vivi yang menyombongkan kekayaan, mereka berdua malah memilih berteman dengan Meimei, gadis Tionghoa yang dianggap aneh tapi juara di kelas.

Saat Itut kehilangan ayah, Manna yang kerap dimarahi sang ibu tiri, dan Meimei yang terisolasi karena etnisnya, mereka bertiga saling menghibur dan memberikan semangat. Hingga datang satu mobil mewah ke kampung yang penuh dengan warga miskin tersebut dan mengubah kehidupan tiga gadis cilik itu.

Review:

Ini adalah buku pertama yang ku baca setelah mendownload dan menginstal aplikasi iJakarta via playstore seminggu yang lalu. Sebenarnya sudah lama aku mengetahui tentang buku ini, covernya yang lucu dan menarik membuatku ingin membelinya. Namun sepertinya aku lupa dan malah membeli buku yang lain, hingga akhirnya aku menemukan buku ini di iJak, haha.

Novel Tiga Bianglala bersetting awal tahun 80-an, zaman di mana perbedaan ras dan status sosial masih sensitif. Saat membaca buku ini, aku berhasil dibuatnya tersenyum dan tertawa karena tingkah tokoh utama--Itut, kelas 6 SD--yang kacau lucu sekali, salah satunya ketika dia dan kedua sahabatnya berdandan dan meminum fanta merah untuk mewarnai bibir mereka, kemudian berjalan melenggak-lenggok seperti orang encok.
Pada bagian + 2/3 dari isi novel, emosiku sebagai pembaca berhasil dimainkan oleh penulis. Puisi berjudul 'Ayah' yang dibuat oleh Itut terkesan begitu tulus dan penuh arti. Pada bagian itu aku benar-benar menangis sedih. Novel ini berkisah tentang persahabatan sejati, kepercayaan yang tulus, sikap saling mengasihi antar anggota keluarga, mengajarkan bahwa dalam menghadapi hidup yang penuh rintangan ini manusia harus saling menguatkan satu sama lain, di manapun mereka berada.

Ending novel ini sangat mengharukan, bagi yang mudah cengeng *nunjuk diri* pasti menangis. Aku pribadi puas dengan endingnya, meskipun penasaran bagaimana kehidupan para tokoh di masa depan. Overall, i like the story :)

You Might Also Like

0 komentar

Thank you for reading. What do you think about the article above?

Facebook

Friends

Community