Sudahkah Kita Berupaya Memahami?

Thursday, May 12, 2016

Beberapa hari resah terhadap sesuatu yang aku sendiri belum mengerti kenapa keresahan ini hadir. Seolah agama disudutkan. Seolah agama hanya menciptakan sekat-sekat yang tak seharusnya ada, seolah sekat itu hanya menyulitkan manusia yang lainnya, menyulitkan kehidupan dan hubungan satu dengan yang lainnya.

Kawan, aku hanya manusia biasa, yang banyak khilaf dan jauh dari sempurna. Tak semua jawaban yang dipertanyakan bisa ku jawab, pun apabila aku menjawabnya belum tentu itu akurat. Tidakkah kau sendiri tergerak untuk mempelajarinya lebih dalam? Ada alasan tertentu mengapa aku selalu membawa Al-Quran di dalam ranselku, entah akan ku baca atau tidak setibaku di tujuan. Aku hanya merasa aku perlu mendekat kepada-Nya, aku hanya merasa aku perlu mencari perhatian-Nya, aku merasa aku tak akan sanggup menghadapi nafsu dunia tanpa-Nya. Tuntutan kehidupan yang hanya akan membuat pemenuhan nafsu dan melupakan akhirat-Nya.

Bukankah segala sesuatu di sisi Allah adalah yang terbaik? Barangkali itulah alasan mengapa batasan-batasan itu hadir. Mengapa laki-laki dan perempuan tak patut berbaur. Kalaupun harus berinteraksi ada adab yang akan menjaga keduanya. Jangan salahkan aturan ini, kita hanya perlu mempelajari apa makna di balik perintah-Nya. Sudahkah kita memaknai segala sesuatu yang diajarkan-Nya melalui kalam-kalam--yang sepertinya bisa kita hitung dengan jari kapan kita membaca Al-Qur'an dan mengamalkan isinya?

Pernahkah terbesit dalam pikirmu untuk mencari tahu bagaimana Sang Pembawa Pesan menjalani kehidupan? Pengetahuanku terbatas, aku juga masih belajar agar mampu meneladani idola terbaik muka bumi itu. Kita semua tahu, Rasulullah saw adalah manusia terbaik yang sangat taat kepada Allah swt. Dan tidak kah kau ingin tahu mengapa dan bagaimana Rasul ingin umatnya mengikuti jalannya? Rasulullah adalah pembawa pesan dan pemberi peringatan. Rasulullah selalu menjaga pandangannya, akhlaknya mulia mencerminkan Al-Qur'an. Meski begitu Rasul tak pernah memaksa siapapun untuk berpindah agama menjadi muslim. Dan faktanya, jumlah umatnya mampu membuat kita tercengang. Tidak kah kau setuju akan hal ini?

Menurutku pribadi, kita wajib mengutamakan saudara seiman, tanpa mengabaikan mereka yang beragama selain Islam. Tidakkah kau ingin memudahkan saudara seimanmu untuk semakin dekat kepada-Nya? Seperti dalam mencari rezeki yang halal, mencari ilmu agar menjadi manusia mandiri dan bermanfaat, membantu menjaga kesehatan dan keamanan. Tidakkah kau ingin mengutamakan mereka? Salahkan jika ada umat Rasul yang ingin mengutamakan saudaranya? Aku pernah mendengar sebuah kisah bahwa Rasul menyuapi seorang yahudi tua yang buta, memijat kakinya yang kelelahan, padahal Rasul saat itu dicaci maki olehnya. Yahudi itu sangat membenci Rasul, namun Rasul tetap berbuat baik kepadanya. Ini bukti bahwa Islam mengajarkan kebaikan, Rasulullah tentu mengutamakan saudara seiman, namun Rasul tidak pernah mengabaikan mereka yang beragama selain Islam. Maka mari kita berhati-hati agar tidak menaruh prasangka buruk terhadap agama yang kita anut ini. Barangkali kita hanya belum berupaya memahami atas aturan yang kita sangka membatasi.

Maafkan jika ada beberapa sifatku yang tak kau sukai, tegur aku jika menurutmu aku melakukan kesalahan. Janganlah membenciku, sayangi aku sebagai saudara seiman. Bukankah mencintai seorang kawan karena-Nya adalah kebaikan?

"Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran."
 (Terjemah QS. Al 'Asr: 1-3)

You Might Also Like

0 komentar

Thank you for reading. What do you think about the article above?

Forum Lingkar Pena Sidoarjo

Friends

Community