Ketika Batasan Menjadi Pilihan

Tuesday, March 15, 2016

"Keep attempting to always get better, keep learning.
Semoga kita bisa mencintai Allah dan rosul-Nya
melebihi kecintaan kepada yg lain." - NH

Seolah terlahir kembali, menata ulang niat yang sempat keliru menuruti hawa nafsu. Bukankah apa yang kita lakukan harus dengan landasan bahwa ini untuk Allah, bukan selain-Nya? Seringnya kita terlalu mengikuti harapan dan impian sehingga lupa hakikat sebenarnya mengapa kita berharap dan bermimpi.

***

Sekitar satu bulan yang lalu, ketika aku pun sama sekali tak ada bayangan harus melakukannya --sebut saja kewajiban A, yang ku lakukan hanya berusaha agar target-target dalam hidupku terpenuhi, semacam menyelesaikan novel dan target-target lainnya. Tiba-tiba saja ponsel berbunyi, membaca isinya membuatku berpikir harus kah kewajiban A ini aku lakukan dalam waktu dekat? Atau aku abaikan saja? Tapi karena aku percaya kepadamu, maka aku pikirkan baik-baik tawaran itu.

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, aku rasa itu benar. Bukankah semua yang terjadi pada semesta telah tercatat dalam ketentuan-Nya?

Begitu pun pertemuanku denganmu. Seolah ini adalah jawaban Tuhan atas do'aku ketika remaja dulu. Sosok adik yang usianya tak terpaut jauh, yang bersedia menjadi pengganggu, yang bersedia diganggu, yang bersedia membaca cerita, yang bersedia ceritanya dibaca, yang bersedia saling menasihati jika keliru. Seperti sahabat-sahabatku yang memiliki adik, aku pun menginginkannya. Tak bisa ku elak, aku pernah merasa bosan selalu menjadi si bungsu. Lalu Tuhan menghadirkanmu melalui cara-Nya.

Sejak terpikirkan mengenai kewajiban A, aku seolah diburu nafsu, tapi aku tak ingin dikalahkan oleh hasutan-hasutan musuh nyataku. Bersyukur Tuhan sendiri yang menundanya. Berselang beberapa Minggu, Tuhan membuatku membaca pesanmu yang kau kirim beberapa bulan lalu. Meski kini kita sudah tak lagi saling membaca cerita, semoga doa-doa kebaikan masih dimudahkan-Nya keluar dari ucapan kita saat beribadah.

Aku sering diletakkan-Nya dalam situasi di mana aku belajar mengenai batasan-batasan sejak usiaku masih kecil. Kini, batasan-batasan itu semakin bertambah jumlahnya seperti bertambahnya usiaku. Sungguh aku sangat bersyukur Dia selalu menjagaku, mengawasiku dari Arsy-Nya. Semoga Tuhan menganugerahkan rasa malu yang besar dalam diri kita masing-masing. Dimampukan-Nya menjaga diri benar-benar. Ditambahkan kecintaan kita kepada-Nya dan Rasul-Nya.

Aku dengan batasanku, dan kau dengan batasanmu. Bukankah hal ini juga telah tertulis dalam ketentuan-Nya? Selamat menjaga batasan. :)

Wassalam

You Might Also Like

0 komentar

Thank you for reading. What do you think about the article above?

Facebook

Friends

Community