Film Review: Ketika Mas Gagah Pergi

Tuesday, February 02, 2016

Hari Jum'at, tepatnya tanggal 22 Januari 2016, aku nekat berangkat sendirian ke bioskop untuk menonton film Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP). Sebenarnya aku sudah mengajak beberapa teman, tapi bentrok dengan jadwal mereka. Akhirnya ku putuskan berangkat sendirian, selain karena penasaran, aku ingin mengapresiasi pemutaran film ini di minggu pertama setelah mengetahui perjuangan pembuatan film ini yang sungguh inspiratif. Jujur, saat menonton film ini aku belum mengetahui kisah lengkapnya seperti apa, aku belum membaca novel KMGP. Aku hanya mengetahui kisah singkatnya, yaitu seorang gadis yang mengalami perubahan dari sisi spiritual sejak kehilangan kakaknya yang bernama Gagah. Selebihnya, aku sama sekali tidak tahu.


Review

Adegan film dimulai dengan menampakkan keelokan Ternate, Gagah yang diperankan oleh Hamas tampak menikmati pemandangan tersebut sambil mengabadikannya dalam kamera. Karena kurang hati-hati, dia tergelincir dari atas tebing ke laut. Dari sini aku menebak, sepertinya alurnya akan maju mundur. Dan benar saja, setelah itu adegan berganti. Film ini diambil dari sudut pandang Gita--adik Mas Gagah yang diperankan Aquino, dia menceritakan bagaimana sosok Mas Gagah sebagai pemuda tampan, cerdas, mudah bergaul, sangat sempurna sebagai model.

Setelah kepergian ayahnya, Gita yang berkarakter boyish menjadi lebih akrab dengan Mas Gagah. Ia sangat menyayangi kakak laki-lakinya itu, selain sebagai sosok kakak, Mas Gagah juga seperti sosok ayah dan sahabat bagi Gita. Semua berubah ketika Mas Gagah pergi ke Ternate selama lebih kurang dua bulan untuk melakukan penelitian tugas akhir dan mengerjakan sebuah proyek. Sekembalinya Mas Gagah dari Ternate, Gita seperti kehilangan sosok Mas Gagah yang selama ini ia kenal. Mas Gagah merubah penampilannya menjadi lebih sederhana, lebih santun, dan lebih agamis.

"Jika kita tidak setuju pada suatu kebaikan yang mungkin belum kita pahami, kita bisa mencoba untuk menghargainya," begitu kata Mas Gagah kepada Gita.

Namun Gita masih belum bisa menerima perubahan Mas Gagah yang tiba-tiba. Ia tak suka dipanggil 'dik manis' dan diberi nasihat-nasihat agama, apalagi saat Mas Gagah memberinya hadiah rok. Tak hanya Mas Gagah yang membuatnya semakin sebal, di bus dan di kereta Gita sering bertemu dengan pemuda berbaju kotak-kotak yang pembawaan dirinya mirip dengan Mas Gagah. Bak orasi, pemuda itu berapi-api menyampaikan berbagai hal yang terjadi di Indonesia hingga Palestina, dan selalu dikaitkan dengan agama yakni firman Allah dan sunnah rasul-Nya. Saking seringnya Gita bertemu dengan pemuda berbaju kotak-kotak itu, ia menjadi penasaran siapa pemuda tersebut.

Dari segi teknis seperti pengambilan gambar dan sound, hampir tidak ada cela. Bagus. Namun tetap ada beberapa hal ganjil dalam film ini. Salah satunya saat Yudi--pemuda berbaju kotak-kotak yang diperankan Masaji--menolong seorang Ibu yang rumahnya sedang kebakaran, ia hendak mencari suami Ibu tersebut yang katanya sedang ada di gereja. Yudi tidak menanyakan di mana lokasi gereja yang dimaksud si Ibu. Bukankah di Jakarta banyak sekali gereja? Lalu bagaimana dia bisa menemukan suami Ibu tersebut?

Terlepas dari beberapa keganjilan, film ini sangat layak ditonton. Banyak sekali nilai-nilai yang bisa didapatkan oleh penonton.

Nilai Agama & Sosial

Film ini secara tersirat mengajak kita untuk berani berhijrah. Tidak mudah memang, kita bisa saja kehilangan teman, sahabat, bahkan keluarga. Rasulullah SAW saja hendak dibunuh saat berdakwah, penentangnya sangat banyak. Maka tantangan yang kita hadapi tak akan bisa disamakan dengan Rasul. Untuk itu kita harus berani dan yakin dapat melalui proses hijrah yang kita pilih. Bukankah Rasulullah adalah sebaik-baik teladan? Maka kenapa kita takut untuk meneladani beliau? Di film ini, Mas Gagah adalah sosok yang sedang berhijrah untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Bukan mengejar ketenaran, melainkan hidayah-Nya.

Selain semakin mendekat kepada Sang Pencipta. Mas Gagah juga menjadi pribadi yang lebih peduli terhadap orang lain. Film ini mengajarkan kita agar tidak egois, tidak hanya memikirkan diri sendiri. Sebisa mungkin kita harus bisa bermanfaat untuk orang lain. Rasulullah bersabda bahwa, "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain." Sudah saatnya kita menjadi lebih peka terhadap sekitar, membantu siapa saja yang membutuhkan pertolongan. Tetangga rumah misalnya. Apalagi saudara seiman.

Beberapa hari setelah menonton film ini, aku bertemu seorang kawan baru untuk bertukar buku. Kami sempat diskusi tentang film ini, baik kelebihan hingga kekurangannya. Hingga di akhir percakapan kami ingat sesuatu, film ini benar-benar menerapkan prinsip agama bahwa perempuan dan laki-laki yang bukan mahram tidak boleh bersentuhan. Meskipun dalam film KMGP Hamas dan Aquino berperan sebagai kakak dan adik, namun mereka sama sekali tidak bersentuhan tangan. Tampak kaku memang, tapi aku yakin mereka sangat totalitas dalam memainkan perannya masing-masing. Pembahasan ini berhasil membuat kami melakukan kesepakatan. "Mulai sekarang, kita nggak perlu salaman ya!" begitu ucapku. "Iya!" dan kawanku pun setuju.

Terus memperbaiki diri itu sudah tugasnya manusia yang tak akan luput dari kesalahan. Maka sudah saatnya kita berhijrah, dan hijrah dapat dimulai dari hal yang sederhana. Kalian yang belum nonton filmnya, segeralah menonton! Ajak keluarga atau sahabat, aku yakin, pasti ada sesuatu yang bisa kalian dapatkan dari menonton film ini.

Sebagai pemudi muslim, aku bangga Indonesia bisa membuat film seperti ini. Impian Bunda Helvy dan pembaca KMGP untuk memfilmkan kisah Mas Gagah kini terwujud setelah dua puluh tahun menunggu dengan doa dan upaya. Film ini dari dana patungan para penontonnya, hasil penjualan tiket sebagian juga akan disumbangkan untuk kemanusiaan. Ini salah satu bukti kekuatan ukhuwah umat muslim khususnya yang berada di tanah nusantara.

You Might Also Like

16 komentar

  1. Trailernya kampret mbak, gue pengen nonton :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha jangan cuma pengen, lekas nonton!

      Delete
  2. Waah salah satu the best film yg mencerahkan menurut saya...
    Sejak sma saya udah baca novelnya...

    Sukses buat GAnya yaa mbak
    Salam kenal mbak Jia ^^

    ReplyDelete
  3. udah ke 2 kalinya dalam sehari gue baca soal review film mas gagah dan yang ini yang paling ............

    film yang keren dan abis lihat trailernya jadi pengen borong tiketnya. film islami yang udah jarang nonggol di bioskop. tapi kebanyakan film islami menggambil latar luar negeri tapi yang satu ini tetap syuting di indonesia. penasaran sama cerita lengkap mas gagah.

    semoga sukses yaa lombanya n kalo menang beliin tiketnya dong :D

    ReplyDelete
  4. pasti yg pertama di blog gue kan rud..
    hahaha

    wah sama! aku juga niat awal mau pergi nontin sendirian. tp ga jadi.. akhirnya ikut nobar..

    semoga menang yaa..
    iya ya... yudi cm nanya siapa nama suami ibu itu. hadeuhh.. yud...yud...

    btw semoga menang yaa kitaaa aq ikut lomba juga.. :)

    ReplyDelete
  5. Gue jadi penasaran sama ni film. Kok kayaknya seru ya?

    Tadi sempet baca juga artikel yang membahas film ini. kayaknya harus di masukkan ke dalam daftar film yang harus di tonton nih.

    ReplyDelete
  6. aaak jadi pengen nontooon :3
    penasaran gitu

    ReplyDelete
  7. Wah, barusan aja baca filmnya mas Gagah sekarang dah baca lagi. Kayaknya menarik banget ya jadi penasaran.

    Kalo aku bisa nebak si Gita nanti jatuh hati sama pemuda kotak-kotak yang ditemuinya di bis tadi. Wah itu menarik juga ya, gak boleh salaman. Padahal di ceritanya Gagah dan Gita adik kakak lho.. menarik nih.

    Semoga sukses ya kak lombanya..

    ReplyDelete
  8. Duh, berbicara tentang berani berhijrah yang terlintas dipikiran saya sih hadits arbain yang pertama ya mbak.
    Mendengar dari omongan teman sih, film ini rekomendasi untuk ditonton. Semoga saya masih berkesempatan untuk nonton dan ikutan review hihihi.
    Ohiya, ada KMGP 2 ga sih mbak nanti tuh?

    ReplyDelete
  9. Udah dua kali baca review ini juga. Hehehe. Dan paling seneng sama kata-kata mas Gagah "Jika kita tidak setuju pada suatu kebaikan yang mungkin belum kita pahami, kita bisa mencoba untuk menghargainya,"

    Itu menyadarkan kita buat nggak su'udzon juga sama orang lain. Biasanya kan ada orang yang bersedekah, nah kadang orang lain itu mikir. "Lah, palingan mau pamer."

    Semoga orang-orang yang kayak gitu nonton film ini dan tersadar.

    ReplyDelete
  10. Wah ada review nya KMGP lagi, ahaha
    jadi tambah penasaran dan ingin nonton... hehe tapi pertanyaannya film ini masih tayang di bioskop ga yah?

    itu di tanggal tiket mu tulisan nya 22 januari. mga aja si di februari msh ada. klo udh ga tayang terpaksa download dh, hehe :3

    ReplyDelete
  11. Bisa jadi list rekomendasi film indonesia yang akan ditonton untuk minggu2 ini. nice info mba.. semangat lombanya

    ReplyDelete
  12. Hem. .. lihat trialnya untuk keduakalinya, kok malah pengen nonton, ya. Soalnya mas Gagahnya gitu. Agak santai keren gitu..

    Padahal, awalnya dia sosok yang gitu. Eh, akhirnya berubah banget.

    Sepertinya masukin list aja, buat tambahan ditonton.

    ReplyDelete
  13. Hmmmm, baguslah. Film Indonesia sudah menunjukkan tren yang baik. Itu ditandai dengan launchingnya berbagai film yang penuh nilai religi, edukasi, dan pesan moral :)

    Mulai dari filmnya kang Abik hingga Assalamualaikum Beijing, semuanya menginspirasi :)

    Pilem-pilem seperti SUSTER KERAMAS mending dibuang ke laut aje :D

    ReplyDelete
  14. Makin banyak film indonesia yg berkualitas. Semoga makin maju

    Gue pernah nonton film ini, tapi dari review nya si bagus. Mengajarkan jangan takut untuk berhijrah. Sangat inspirasi

    ReplyDelete
  15. pernah lihat trailernya di tv. ini drama yang dibalut bumbu komedia kan?
    gue kira komedinya yang lebih kental... ternyata, unsur agamanya yak yang nomor satu. nice review, mbak! :)

    ReplyDelete

Thank you for reading. What do you think about the article above?

Forum Lingkar Pena Sidoarjo

Friends

Community