Desember Istimewa: Traveling Ekstrim Penuh Makna (2)

Setelah bertemu dengan mobil putih dan berbincang dengan driver, kami memutuskan untuk mengunjungi Air Terjun Madakaripura sebelum melanjutan perjalanan menuju Kawah Ijen. Benar, setelah tujuan pertama melihat Sunrise dan Mt. Bromo, tujuan kedua adalah melihat blue fire di Kawah Ijen, Banyuwangi.

Setelah teman-teman puas bermain air dan membersihkan badan, dari kawasan Air Terjun Madakaripura, sekitar sore hari, kami berangkat menuju destinasi kedua. Kami sampai di kawasan Ijen sekitar pukul 10 malam. Sekitar pukul 11 aku baru bisa tidur. FYI, kami tidak menyewa penginapan, istirahat kami habiskan di dalam mobil. Gila memang. Pukul 1 dini hari aku dibangunkan Em. Dia mengira kita akan berangkat saat itu juga, padahal pendakian dimulai pukul 2. Karena sudah terlanjur bangun,aku tidak bisa tidur lagi. Prepare beberapa hal.

Saat mengobrol dengan driver, ternyata dia menitipkan kami pada rombongan dari Kota Jombang. Mungkin bang driver khawatir anak-anaknya nyasar. Aku mah nurut aja secara masih jauh banget dari sebutan pendaki profesional. Setelah membeli tiket masuk, aku dan teman-teman bergabung dengan rombongan lain untuk mulai mendaki. Seru! Tapi gelap. Yaiyalaaaah dini hari. Aku cuma bisa geleng-geleng kepala dan berdoa. Dini hari kemarin ndaki penanjakan dua, dini hari sekarang ndaki gunung Ijen. Cari mati, zi? Nggak lah!

Awalnya sih seru, lah pas jalanan mulai nanjak, ini.. ini.. kaki rasanya gempor, dada sesak banget. Walhasil jalan dikit, berhenti, jalan dikit, berhenti, jalan lagi, berhenti lagi. Teman-temaaaaan maafkan aku! Aku dan Cip yang paling merepotkan. Kami mudah kelelahan karena ini pertama kali mendaki, dua gunung sekaligus! Lama nggak olah raga pula. Tidur malam cuma dua jam. Tapi kita nggak mau nyerah, kepalang tanggung, nasi sudah jadi bubur. Nggak mungkin turun sendirian.

Cip dibantu Af dan An. Sedangkan aku dibantu Em dan Pi. Tasku dibawakan salah satu orang dari rombongan Jombang. Aduhai, mereka semua baik banget pokoknya. Dari situ aku belajar, bahwa setiap anggota tim harus saling menguatkan, menjaga, melindungi satu sama lain. Dan setiap anggota tim tidak boleh mudah putus asa, harus tetap semangat demi anggota lain yang sama-sama sedang berjuang.

Aku ingat betul kalimat yang dilontarkan Em, "Jangan melihat ke atas. Lihatlah langkahmu, selangkah demi selangkah." Bisa jadi, inilah serunya mendaki, jika kita mau memikirkannya dengan baik kita akan paham. Seringnya kita bermimpi tinggiiiii sekali, tapi kita hanya membayangkan masa depan, kita lupa dengan langkah-langkah yang harus kita ambil. Maka baiknya fokus pada setiap hal yang kita lakukan saat ini, selangkah demi selangkah. Akan ada saatnya kita mencapai puncak, jika pun tak sampai. Setidaknya kita telah berusaha dengan baik.

"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap." (QS. Al Insyirah: 5-8)

Dua jam lebih berjalan menanjak, akhirnya pukul 4 lebih sekian kita sampai di puncak. Sayang tidak bisa melihat blue fire karena kabut. Tapi aku puas, aku lega. Udara dingin dan aroma belerang yang menusuk seolah tak jadi masalah. Tahun depan, semoga aku bisa mendaki lagi di gunung yang lebih tinggi. Aku ingin seperti Pi. Padahal Pi masih berusia 27 tahun, tapi sudah pernah mendaki salah satu gunung tinggi di Nepal. Bahkan bepergian ke beberapa tempat di Eropa. Dan dalam dunia akademis, Pi bahkan saat ini sedang menempuh PhD di bidang ekonomi. Ya Allah, perempuan macam apa Pi itu? Bahkan di dalam mobil pun dia belajar. Jujur, aku belajar banyak darinya. Sederhana, murah senyum, tenang, cerdas, baik hati. Dan yang paling membuatku semakin menyukainya, kita sama-sama tidak suka dengan make up!! *Kenapa jadi ngomongin Pi? xD

Here is it, beberapa gambar yang ku ambil saat berada di sekitar Kawah Ijen.


Tahukah? Ada seorang gerofisikawan dari Amerika yang bernama Frank Press. Menurut wikipedia, beliau telah menulis lebih dari 160 karya ilmiah dan juga menulis buku berjudul Earth and Understanding Earth. Mengutip kalimat dari salah satu buku Ensiklopedia yang juga mengutip dari buku Prof. Frank Press, bahwa gunung-gunung memiliki akar di bawahnya. Akar-akar ini menjulur jauh ke dalam tanah, sehingga kini diketahui bahwa gunung berbentuk seperti pasak.

Ribuan tahun lalu, Allah sudah menjelaskannya di dalam Al-Qur'an.

"Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? dan gunung-gunung sebagai pasak?" (QS. An Naba: 6-7)

"Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka dan telah Kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk." (QS. Al Anbiyaa': 31)


Aku benar-benar senang sekali. Tapi juga ada hal yang membuatku sedih. Banyak bungkus rokok, botol minum, dibuang sembarangan, ditinggal begitu saja oleh pendaki abal-abal. Ngaku pecinta alam, tapi nyampah. Alangkah baik saat mendaki, siapkan kantong untuk tempat sampah. Jadi teman-teman bisa membawanya kembali. Atau justru tak perlu membawa bekal makanan, cukup tumbler berisi air saja. Simple, kan?

Saat turun, badan serasa didorong. Iya, didorong gravitasi. Langkahku jadi lebih cepat, kadang setengah berlari. Selama berjalan turun gunung, aku bertemu banyak pendaki yang baru saja berangkat. Ada nenek-nenek lagi??? Bahkan ada pula anak kecil! Mungkin usia taman kanak-kanak. Aduhai, malu sekali batinku. Harus banyak-banyak berlatih supaya tidak mudah lelah.

Apakah perjalanan selesai di Kawah Ijen? Belum. Perjalanan akan terus berlanjut, di mana pun kita berada. Karena sejatinya hidup ini memang adalah sebuah perjalanan menemukan muara-Nya.

Wassalam.

Note: Pi dalam bahasa Thailand berarti kakak.

6 comments:

  1. Gunung Ijen ya. Indah! Semoga pendaki-pendaki-nya mau megurungkan niat untuk merokok dab tidak buang sampah sembarangan kaya gitu. :(

    Itu bagus mainan darj belerang. Belerang bisa dipegang buat bermainkah? Gak gatal?

    ReplyDelete
  2. Keren, jadi pengen travel juga nih. Kalo liat foto diatas, jadi ingat 5cm. '.'

    ReplyDelete
  3. Oh, ini lanjutan postingan yanmg kemarin yah...

    Baru pengalaman pertama mendaki tapi sudah pergi ke beberapa tempat sekaligus, keren. Manurut saya kamu tidak perlu malu, ini saja sudah hebat dibanding saya, belum pernah mendaki. Btw suvenirnya lucu.

    Sudah jadi ciri khas tersendiri yah di blog ini, kalau setiap posting sesuatu pasti selalu dengan ayat al-quran. Itu menjadi kelebihan blog ini dibanding dengan blog yang lain...
    Teruskan... :)

    ReplyDelete
  4. Sepertinya gue emang gagal keren kalo hanya bisa negliatin cewek naik gunung. Gue kapan ya? Entahlah, mungkin nanti. Kalo gunung udah gak ada yg naikin. :D

    View kali ini, emang lebih keren dari yang kemaren ji, gue sampe "Ya Allah, kerennya..."

    Ow, ya. Untuk hasil kerajinan tangannya keren, ya. Bisa ajalah kalo udah kreatif. Semua jadi sumber dan alam bisa dimanfaatkan.

    ReplyDelete
  5. Aku jg blm prnah mendaki gunung, olahraga pun jarang, gmn jdnya nnti ya kalo msalnya aku ikut naek gunung ddakan gtu?._. Kamu lebih hebat lg pas menstruasi malah naek gunung gtu. Aku malah bingung ntr ganti pmbalutnya gmn kalo pas lg mens gtu, di pgunungan pulaa._. Hmm..

    Naik gunung itu trnyata bnyak filosofinya jg ya. Krjasama tim jg sangat brrti di sini, krna yg blm trbiasa psti bakal putus asa kalo gak disemangatin.
    Aku jg pgn komen fotonyaa... Cakep banget pemandangannya, Subhanallah..
    Ngambil gambarnya jg bagus.. Oiya itu belerangnya dicetak apa gmn tuh?
    Bner kata Tenkousei, Dgn adanya Ayat Al-Quran dlm stiap postingan mnjdi ciri khas trsndiri untuk blog ini, bagus banget :)

    ReplyDelete
  6. bagus banget kak kawahnya sampe bisa buat tiduran dan kerajinan tangan haha. tp mmg harus dijaga biar jgn ada sampah :(
    oh iya bisa minta folbacknya?

    ReplyDelete

Thank you for reading. What do you think about the article above?