Ayah dan Jas Hujan Abu-Abu

"Ketika di luar sana para orang tua belajar memahami anak-anaknya. Di sini, aku, seorang gadis remaja, sedang berjuang untuk memahaminya. Lelaki yang ku panggil 'Ayah'."

---

Ruang Cinta yang Hilang

Aku Namira, remaja usia 17 tahun. Aku lahir dan tumbuh dalam keluarga yang--aku lebih suka menyebutnya--rumit. Ada Ayah, Ibu, dan tiga kakak berjenis laki-laki. Aku tak akan menceritakan tentang mereka semua. Terlalu rumit dan akan menyayat luka. Mungkin, jika Tuhan memberiku kesempatan, aku akan menulis serialnya. Kali ini, izinkan aku menceritakan tentang Ayahku terlebih dahulu.

Jika ingatanku ini tak menipu, saat aku kecil Ayah sering memandikanku. Sekitar usia 5 hingga 7 tahun. Wangi khas sabun batang lefboi selalu melekat seusai aku mandi. Terlepas dugaan bahwa kuman-kuman juga masih melekat. Aku selalu menyukai momen itu. Momen di mana kamar mandi menyulap dirinya menjadi ruang cinta untukku dan Ayah.

"Namira, ayo mandi, Nak." Ayah memanggilku dari dalam rumah.

"Iya, Yaaaah.." sahutku sambil berlari ke arahnya, meninggalkan mainan yang masih berserakan. Menurut pada panggilan lembutnya.

Di ruang cinta, aku selalu banyak bertanya, dan Ayah selalu memiliki jawaban-jawaban atas pertanyaanku. Terkadang ia bercerita, dan aku mengangguk-angguk--entah mengerti atau tidak.

Beranjak remaja, momen itu lenyap. Tentu saja, aku telah bertambah tinggi. Tak ada lagi momen berdua bersama Ayah tanpa gangguan. Tak ada lagi ruang cinta yang mengikat perbincangan sederhana antara Ayah dan anak bungsunya.

Entah sejak kapan, aku menyadari beberapa hal. Bisa jadi karena aku bukan anak kecil lagi, aku mulai belajar membaca lingkunganku. Sikap ayah berbeda dari kebanyakan cerita dalam buku serial anak-anak milik sepupuku. Jika dalam buku cerita, ketika kita sedih, maka Ayah adalah orang pertama yang akan menghibur kita. Tapi, itu tidak pernah terjadi padaku. Ayah tak pernah memelukku saat sedih, apalagi menghapus air mataku. Tak pernah sekalipun.

Jika dalam buku cerita, Ayah mengajak anaknya duduk di teras sambil memandang senja, melontarkan petuah-petuah dengan lembutnya. Ayahku, sekalipun tak pernah melakukannya. Seolah tak pernah terjadi apapun di sekitarnya. Ayah, aku merindukan ruang cinta.

Jas Hujan Abu-Abu

Suatu hari sepedaku rusak, aku terpaksa meminta Ayah mengantarku sekolah. Semua baik-baik saja sampai kejadian itu tiba. Siang yang merubah hatiku dalam sekejap. Melunturkan rasa rindu akan ruang cinta. Seolah kebaikan yang pernah Ayah lakukan lenyap seketika.

Saat pulang sekolah, aku menunggu Ayah menjemputku. Aku sedikit gelisah karena arakan awan pekat mulai mendekat. Setelah menunggu beberapa menit, dari ujung jalan terlihat Ayah bersama motor otok-otok berwarna merah kesayangannya.

"Ayah, sepertinya akan hujan lebat. Apa Ayah membawa jas hujan?" aku khawatir ia kehujanan, gerimis mulai turun.

"Ayah lupa tidak membawanya." Ayah menjawab singkat.

"Aku membawa jas hujan, Yah." aku mengeluarkan jas hujan abu-abu milikku. Aku hendak mengenakannya untuk melindungi buku-bukuku.

Ayah mengambilnya. Pikirku, Ayah hendak membantuku mengenakan jas hujan itu. Petir menggelegar. Tetesan air hujan berubah menjadi guyuran lebat. Ayah memakai jas hujanku. Hatiku seketika tersambar petir. Wajah Ayah seakan tak ada beban saat mengenakannya. Bagaimana mungkin? Itu jas hujan abu-abuku. Seharusnya aku yang mengenakannya. Tiba-tiba aku merasa ada bisikan, Ayahmu mulai menua, ia lebih membutuhkannya. Kau masih muda. Kau harus belajar mengalah. Entah angin apa yang memaksaku berkata pada Ayah, "Aku tak perlu memakai jas hujan".

Aku tak habis pikir. Bagaimana bisa ia setega itu? Apakah rasa pekanya telah lenyap? Atau jangan-jangan ia tak pernah memiliki kepekaan? Apakah sosok Ayah dalam ruang cinta saat itu hanyalah ilusi? Aku tersedu. Suara derasnya hujan menyamarkan suara tangisku. Air mataku jatuh bersama milyaran tetesan air langit. Jatuh dan meresap ke dalam bumi.

Penerimaan

Tiga tahun berlalu.

Selamat Hari Ayah, adalah hot topic hari ini di media sosial. 12 November 2015. Di saat kawan sejawat mengucapkan rasa terima kasihnya pada Ayah masing-masing. Aku tak tahu apakah aku perlu mengucapkan hal serupa atau tidak. Di satu sisi aku merasa egois karena selalu teringat luka, hatiku sakit bagai disayat pedang tajam samurai saat mengingat jas hujan itu. Tapi di sisi lain, tentu ada kebaikan yang telah Ayah lakukan untukku. Kau pernah memandikanku. Kau bekerja siang-malam untuk menafkahi kami, keluargamu. Terlepas hasilnya sering kurang dan membuat Ibu harus ikut bekerja. Ayah, kau telah rela menua bersama Ibu. Itu sudah cukup.

Ayah, lidahku kelu. Maaf aku tak sanggup mengatakan apapun padamu. Tapi percayalah, aku akan selalu berusaha menerima bahwa kau adalah Ayahku. Ya, bagaimanapun dirimu, kau adalah Ayahku.

Namira, Selamat Hari Penerimaan.

No comments:

Thank you for reading. What do you think about the article above?