Sudahkah Kau Berbakti?

Tuesday, September 08, 2015

Dimas, seorang pemuda yatim yang tinggal di Malang. Dimas hanya hidup berdua dengan Ibunya, tak ada saudara. Mereka hidup sangat sederhana, atau lebih tepatnya sangat miskin. Ditambah, Ibu Dimas telah renta, lumpuh, pun buta. Ia harus merawat Ibunya dan dirinya sendiri. Betapa sulit menjalani hidup seperti Dimas. Dalam kesehariannya, Dimas mencari nafkah dengan mengurus peternakan ayam tetangganya. Lumayan, setidaknya cukup untuk membeli makan berdua dengan Ibunya. Bila ada kelebihan, terkadang ia gunakan untuk membantu tetangganya yang juga mengalami kesulitan hidup sepertinya. Oh, mulia sekali ya.

Selain rajin bekerja, Dimas juga rajin beribadah kepada Tuhan, ia sering berdo'a agar bisa bertemu dengan seorang guru yang tinggal sangat jauh dari tempat tinggalnya. Ia hanya pernah mendengar namanya dari orang lain yang pernah berjumpa dengan guru tersebut. Suatu hari, ia mendapat kabar bahwa sang guru mengalami cedera yang membuat giginya patah. Mendengar kabar tersebut, Dimas sangat sedih, hal ini membuatnya mengambil batu dan memukulkan batu tersebut ke giginya agar patah. Seolah ungkapan rasa hormat dan cinta pada sang guru, sekalipun belum pernah ia jumpai.

Hari demi hari ia jalani dengan kerinduan yang mendalam. Ia sungguh ingin menemui sang guru, namun, bagaimana mungkin ia tega  meninggalkan Ibunya sendirian? Ia harus menemani Ibunya. Ketika rasa rindu itu telah sampai pada puncaknya, ia tak bisa memendamnya lagi. Dimas memutuskan untuk meminta izin pada Ibunya agar diperkenankan pergi menemui sang guru. Dengan rasa haru, Ibunya mengizinkannya pergi, asalkan setelah menemui guru tersebut ia harus segera kembali pulang.

Sungguh gembira hati Dimas, bagaimana tidak? Sebentar lagi ia bisa menemui guru yang sangat dikagumi dan dihormati itu. Ia pun segera berkemas dan berangkat. Tak lupa ia telah menyiapkan berbagai kebutuhan Ibunya dan mencium tangannya, pun berpesan pada tetangganya untuk menemani sang Ibu selama ia pergi.

Setelah perjalanan jauh dan sampai di rumah sang guru, ternyata guru tersebut tidak ada di rumah, beliau sedang ada keperluan di tempat lain. Dimas hanya bisa menemui istri sang guru saja. Betapa kecewanya hati Dimas. Ia ingin menunggu, tapi ia harus segera kembali mengingat pesan Ibunya. Karena ketaatannya pada sang Ibu, Dimas pun pulang dengan hati bersedih karena tak bisa menemui guru yang sangat ia hormati itu.

---

Sedih ya? Tapi tak apa, bukan kah ketaatan pada orang tua itu sangat penting daripada keinginan-keinginan?

Jika pemuda dalam cerita di atas bernama Dimas. Kisah aslinya, pemuda berbakti itu bernama.. Benar! Uwais Al-Qarni. Sebenarnya masih ada kelanjutannya, tapi kucukupkan ceritanya sampai di situ. Guru yang kumaksud, adalah Muhammad saw.--Baginda Rasul, Sang teladan terbaik sepanjang zaman. Right at the point. Sebagai muslim, mencintai Rasulullah memang lebih utama daripada kedua orang tua. Namun dalam hal ini, Uwais memiliki kewajiban untuk merawat Ibunya yang telah renta, bukan berarti tak mencintai Rasul. Justru dengan menemani Ibunya, adalah bukti betapa besar cintanya pada Rasulullah. Bukan kah dalam sebuah hadist, Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallam bersabda bahwa,“Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah. Jika engkau ingin maka sia-siakanlah pintu itu atau jagalah ia.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah). Pun dalam hadits lain beliau juga bersabda, “Celaka, celaka, celaka!” Ada yang bertanya,”Siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang mendapati salah satu atau kedua orang tuanya telah berusia lanjut, tetapi tidak membuatnya masuk ke dalam surga.” (HR. Muslim).

Jika belum pernah mendengar kisah ini secara lengkap, coba searching, banyak sekali tulisan yang membahas kisah ini. Aku lupa mendengar kisah ini di mana. Maka maafkan aku tak mencantumkan sumbernya. Semoga ada hikmah yang bisa kita ambil, pengingat bagi diriku dan siapapun yang membaca tulisan ini.

Wassalam.

You Might Also Like

4 komentar

  1. aku juga pernah dengar cerita . cerita bikin aku lebih taat sama orang tua

    ReplyDelete
  2. dari awal cerita sama sekali tak terbayangkan kalau itu kisah lama, sungguh menarik sekali, ternyata si Dimas itu Uwais Al-Qarni. Menurut saya tidak apa-apa tidak mencantumkan sumbernya, karena dari segi cerita saya pikir orisinil :)

    ReplyDelete
  3. Baca ini jadi merenung. Kelamaan merenung jadi ketiduran

    ReplyDelete

Thank you for reading. What do you think about the article above?

Forum Lingkar Pena Sidoarjo

Friends

Community