Angin, Hujan, dan Dimensi Rindu

Sunday, August 30, 2015



Episode 1 – Empat Sekawan

Pohon-pohon di tepi lapangan kampus bagai payung raksasa bagi puluhan mahasiswa yang berteduh di bawahnya. Salah satu kampus Islam di Surabaya. Hijau, sejuk, meski tak begitu luas. Tapi itu bukan masalah, karena sampah plastik yang ditemukan di beberapa sudut kampus lah yang menjadi masalah. Sering membuat tidak nyaman. Padahal setiap pagi dibersihkan oleh tukang sapu, tapi ketika para mahasiswa menjejakkan kaki di kampus, ada saja yang masih bertabiat membuang sampah sembarangan. Menyebalkan memang. Barangkali ini alasan Nada selalu menyindir siapapun yang lupa—atau mungkin sengaja melupakan—kewajiban menjaga kebersihan.

“Kei, kamu tidak melupakan sesuatu, kan?” Tanya Nada pada Kei.

“Apa?” Kei balik bertanya.

“Itu..tuh..” Nada memberi kode dengan lirikan mata bulatnya.

“Hahaha.. Sudah dua semester kita bersahabat, tapi lo masih juga belum hafal kebiasaan Nada. Parah lo, Kei. Noh, sampah lo, jangan buang sembarangan lagi. Ntar si blekok marah.” Ledek Fian yang duduk bersebelahan dengan Kei.

“Issh.. Apa sih? tukang ngeledek.” Ucap Nada pada Fian.

“Duuuuh, kalian berisik banget sih?! Nggak tahu kalau ada orang lagi sedih, apa? Suntuk banget. Semalam ketiduran dan nggak bisa nonton Moto GP, huhu.. Gue nggak bisa mantengin wajahnya suamikuuuu, Rossi-ku! Aaaaa…” Protes Okta kepada tiga sahabatnya.

“Ah, elo tuh, Ok. Mudaan dikit napa? Masih cekepan juga gue daripada Rossi. Selera lo gitu banget sih?” Fian berganti meledek Okta yang kini mulai manyun.

Setelah tadi disindir Nada. Kei mengambil bungkus permen yang dibuangnya tadi, lalu menaruhnya di saku celana. Nada yang masih memperhatikan Kei, bibirnya terlihat membentuk simpul senyum. Khawatir bertatap mata dengan Kei, buru-buru dia berpaling ke arah Okta, menghibur sahabatnya yang manyun karena ledekan Fian.

Nada, Kei, Fian, dan Okta. Empat sahabat yang mendapat julukan Empat Sekawan oleh teman-teman satu kelas. Mereka berempat bersahabat sejak semester satu, ketika keempatnya memilih program studi Ilmu Komunikasi. Kei yang paling pandai di kelas, disusul Okta, Fian, lalu Nada. Mungkin itu alasan teman-temannya memberi mereka julukan tersebut, selain karena keempatnya memang sering mengadakan belajar bersama di bawah pohon, tepatnya di tepi lapangan sebelah barat. Nada dan ketiga sahabatnya memilih tepi lapangan sebagai tempat favorit mereka di kampus. Selain teduh, dekat sekali dengan masjid kampus, jadi mereka bisa ikut jama’ah dzuhur setelah suara adzan berkumandang.

“Nad, kamu bikin akun blog ya? Wordpress atau blogspot?” tanya Kei kepada Nada.

“Lho, kok kamu tahu?” Wajah Nada heran. “Em.. blogspot, Kei. Kenapa?” Nada balik bertanya.

“Gapapa. Baguslah, daripada aku yang sampai sekarang nggak bikin-bikin.” Jawab Kei.

“Emm.. Kamu tahu darimana?” Nada masih penasaran darimana Kei mengetahui hal itu. Rasa-rasanya dia baru bercerita hanya kepada Okta kalau ia akan berlatih menulis dengan membuat akun blog. “Okta cerita?” Nada mencoba menebak.

“Iya.” Kei mengangguk.

Sejak awal masuk kuliah, keinginan Nada untuk menjadi blogger semakin kuat. Namun baru awal semester tiga ia sempat membuat akun blog. Nada sedikit syok dengan mata kuliah dasar di awal semester yang kebanyakan adalah mata kuliah agama. Ada Ilmu Kalam, Tasawuf, Studi Hadist, Studi Al-Qur’an, dan yang lainnya. Duh, bismillah, yakin bisa. Begitu dulu pikirnya saat menghabiskan waktu luang untuk melahap buku-buku agama, ia merasa tak ingin tertinggal oleh teman-temannya yang mayoritas adalah mantan santri.

Nada yang lulusan SMA dengan fokus ilmu pengetahuan alam, selama dua semester hanya mendapat IPK 3,2. Masih di bawah Okta dan Fian yang mendapat IPK 3,5. Berbeda lagi dengan Kei yang alumni pesantren modern, IPK-nya tertinggi di kelas. 3,8. Meskipun lulusan SMA, Nada tidak merasa salah memilih kampus. Ia tetap yakin pada impiannya. Toh, mata kuliah agama juga penting sebagai pondasi di program studi yang ia ambil. Faktor y bergantung kepada faktor x. IPK merupakan faktor y yang bergantung pada upaya mengutamakan ilmu. Ya, upaya mengutamakan ilmu adalah faktor x. Begitulah prinsipnya.

***

Mahasiswa memang identik dengan kamar kos. Tapi tidak bagi Kei. Bukan pulang pergi kampus-rumah seperti yang Nada, Okta, dan Fian lakukan. Orang tua Kei lebih memilih pesantren mahasiswa sebagai tempat tinggal puteranya di Surabaya. Rumah Kei memang masih di wilayah Surabaya, namun berbatasan dengan Kota Gresik. Cukup jauh jika harus menempuh perjalanan dari rumah ke Jalan Ahmad Yani, Surabaya. Kewajiban hadir pukul enam pagi pada tahun pertama menjadi mahasiswa membuatnya memutuskan untuk kos. Namun, permintaan itu ditolak ayahnya. Jadilah Kei sekarang sebagai mahasantri. Mahasiswa plus nyantri.

Di belakang bangunan kampus memang banyak ditemukan pesantren. Apalagi mayoritas mahasiswa memang alumni pesantren. Sehingga banyak yang tetap memilih pesantren sebagai rumah kedua. Hanya segelintir saja lulusan SMA dan SMK yang melanjutkan studi di kampus ini, termasuk Nada, Okta, dan Fian. Kei memang sedikit berbeda. Jika biasanya mahasantri bersahabat dengan mahasantri yang lain, Kei lebih dekat dengan Fian, meskipun sering juga bercanda dengan teman sekamarnya.

Kamar Kei berisi empat orang, termasuk Kei. Namun ketiga temannya berbeda jurusan dengannya. Namanya mahasiswa tahun kedua, beberapa masih butuh waktu untuk bertransformasi menjadi dewasa. Sehingga jika sedang berkumpul di kamar lebih sering bermain game dan bertukar koleksi film daripada membahas agama, apalagi mata kuliah. Ditambah pesantren mahasiswa yang ditempati Kei tidak seketat pesantren pada umumnya. Seperti kebanyakan kamar laki-laki, cukup berantakan di bagian lemari. Tapi bukan lemari Kei, ia memang yang paling rapi di antara teman sekamarnya. Tak ada tempat tidur, hanya alas tikar dan sarung sebagai selimut. Khas pesantren. Buku-buku berjajar rapi seperti perpustakaan mini di rak buku yang diapit lemari Kei dan lemari salah satu temannya.

Pagi ini gerimis. Bah, malas ke kampus. Pikir Kei.

“Bro, antum ada jadwal pagi ini, kan? Ayo jalan bareng ke kampus!” Ajak salah satu teman sekamar Kei yang rambutnya mirip Tom Cruise, Dani.

“Ogah, ana belajar saja di kamar.” Sahut Kei.

“Yaelah, gara-gara gerimis? Ini baru gerimis, bro. Belum hujan.” Dani geleng-geleng kepala. “Yasudah, ana berangkat dulu ya, bro. Segeralah menyusul ke kampus. Kalau gak mau basah, pakai saja payung pink punya Bu Hajah, hahaha.” Ledek Dani yang segera keluar kamar menghindari lemparan sarung.

“Diam, kau Dan!” Ucap Kei dengan nada tinggi.

***

Sementara itu di kampus.

“Nad, sms-in si Kei, dong. Udah jam segini gak nongol-nongol.” Pinta Fian pada Nada.

“Udah, tapi belum dibalas, nih.” Nada mengecek ponselnya kembali, tak lama setelah itu muncul tanda ada pesan masuk. “Eh, ini dibalas.” Nada membaca sms dari Kei.

Hujan, Nad.
Aku mau ngampus kalau Fian bersedia jemput, hehe.

“Yaelah, dia minta dijemput di pesantren.” Kata Nada kepada dua temannya.

What? Parah tuh anak, manja banget. Issh…” respon Okta mendengar penjelasan Nada. “Udah, nggak usah diurusin. Tuh anak emang malas banget ngampus kalau musim hujan. Masih ingat kan? Dulu semester awal juga gitu.” Lanjut Okta.

“Hush! Jangan gitu. Barangkali dia nggak enak badan, Ok. Jangan suudzon, ah!” Nada mencoba berpikir positif.

“Udah.. udah.. habis gini gue jemput tuh anak. Bilangin dia, Nad, biar siap-siap.” Pinta Fian pada Nada. Fian pun segera meninggalkan fakultas dan mengambil motornya di bawah pohon di area parkir. Sebab dia hanya memiliki sisa waktu sepuluh menit sebelum masuk kelas, Fian segera memakai jas hujan dan meluncur menjemput Kei.

Sesampainya Fian di depan gerbang pesantren, Kei sudah berdiri di teras dengan jaket anti air andalannya, warna coklat muda dengan capucong yang menutupi rambut halusnya. Fian bisa melihat Kei dengan sempurna, begitu pun sebaliknya. Jarak gerbang pesantren dengan kamar Kei memang hanya beberapa meter.

“Woi, lekas ke sini!” teriak Fian pada Kei.

“Lo aja yang ke sini, bro. Males gue, becek.” Kei membuat alasan yang berhasil membuat Fian melongo.

“Gila, lo! Cepet ke sini atau gue tinggal balik sekarang!” Fian menolak sambil geleng-geleng kepala mengingat respon Fian tentang ‘becek’.

Ah, Fian. Nggak peka atau lupa?! Pikir Kei. Kei lalu segera berlari menuju pintu gerbang dan segera melompat menaiki motor Fian. “Thanks, ya, bro. Lo mau jemput gue. Kalau soal kesetiaan, lo emang nggak bisa diraguin.” Kata Kei sambil menepuk bahu Fian.

“Muke gilee. Kata-kata lo sadis kayak homo.” Respon Fian sambil begidik.

“Hahahaa, jangan ngomong sembarangan! Aku normal.” Protes Kei.

***

Enam belas menit kemudian Fian dan Kei sampai di parkiran motor. Sadar akan keterlambatan mereka, keduanya segera berlari menuju kelas. Beruntung dosen mata kuliah Dasar Jurnalistik terlambat dua puluh tujuh menit, itu artinya Kei dan Fian yang terengah-engah sehabis berlari hanya memiliki waktu satu menit beristirahat sebelum mata kuliah dimulai.

Pak Achmadi, seorang dosen yang memiliki pengalaman sebagai jurnalis, sekarang memilih mengabdikan dirinya sebagai pendidik. Tepatnya, dosen di fakultas dakwah dan komunikasi di universitas tersebut.

“Maaf ya, saya terlambat hampir tiga puluh menit. Alhamdulillah subuh tadi istri saya melahirkan, jadi saya harus mengurus ini itu d rumah sakit.” Penjelasan Pak Achmadi atas keterlambatannya yang tidak biasa, karena beliau adalah tipikal orang yang tepat waktu.

“Wah, bayinya laki-laki atau perempuan, Pak?” tanya Okta antusias. Maklum, Pak Achmadi adalah dosen favorit Okta.

“Alhamdulillah, perempuan. Baik, kita langsung saja ke materi minggu ini.” Jawab Pak Achmadi tanpa basa-basi.

Pak Achmadi menjelaskan mengenai bagaimana meliput dan menulis berita. Membuat Okta semakin semangat dan mengagumi profesi jurnalis. Kuliah berlangsung selama 73 menit.

“Aaaah.. Pak Achmadi! Semakin ngefans deh gue.” Teriak Okta pada dirinya sendiri ketika Pak Achmadi dan seluruh teman-temannya telah keluar kelas, kecuali ketiga sahabatnya.

“Duh, Okta. Bisa nggak sih lo tuh nggak heboh kalau ngefans sama orang? Heran gue.” Celetuk Fian.

“Apa sih lo, sirik aja.” Sahut Okta pada Fian.

“Woi, sirik itu menyekutukan Tuhan. Jangan disama-samain, dong.” Fian mencoba membela diri.

“Hahaha..” Kei hanya tertawa melihat Okta dan Fian meributkan hal yang tidak penting baginya.

“Duh, kalian ini berantem terus. Bisa nggak sih kita belajar dengan tenang?” protes Nada pada Okta dan Fian. “Ini juga, ketawa mulu bukannya melerai.” Nada melirik Kei dengan sinis.

“Yah, kenapa aku yang dimarahin?” Kei kemudian menyandarkan punggungnya di sandaran bangku, sambil menyilangkan tangannya pada kepala bagian belakang, seakan menikmati setiap momen bersama sahabat-sahabatnya.

Gerimis masih turun. Suasana dingin menjadi terasa hangat bagi mereka yang saling menyayangi karena persahabatan.

***
(Bersambung)

You Might Also Like

6 komentar

  1. Bagus ceritanya, seharusnya masing-masing orangnya diperkenalkan lebih detail lagi, supaya tahu kelakuannya kayak gimana, tapi semakin ke bawah semakin kelihatan. Konfliknya bisa dibikin lebih seru lagi, mungkin si Okta sama si Fian berantem atau masalah lain. Ini fiksi atau bukan?

    ReplyDelete
  2. Oke, aku memaksa memerrcayai komentar si penulis di atas bahwa ini pure fiksi :P

    Meskipun aku menemukan banyak detail cerita yang hampir-hampir sama sama background si penulis. Hahahaha.

    Oiye, mbak. Cuma saran aja, sih.... untuk memperjelas lagi gender para tokoh. Kadang pembaca macam aku sering ketipu dengan nama, kukira cowok, tapi ternyata cewek. Hehehehe.

    Semoga di postingan selanjutnya aku masih bisa berkomentar sebagai anonim

    ReplyDelete
  3. ahaha. iya saya bingung sama gendernya Kei. dia cowok ya?

    ini alurnya cepat ya. cukup menarik dan nggak ngebosenin bacanya

    ReplyDelete
  4. ceritanya seru..
    ini pure fiksi apa pengalaman pribadi yaa, ato campuran? hahaha

    ReplyDelete
  5. ketahuan... kei dan fian anak ilkom. kehidupan kampusnya kayaknya enak banget ya anak fikom itu...
    curiga ini fiksi yang diangkat dari kisah nyata :). dan ternyata dosen jurnalistik suka ngaret yak.

    ReplyDelete

Thank you for reading. What do you think about the article above?

Facebook

Friends

Community