Pesan Untuk Fatih

Sunday, May 10, 2015

Suara mobil berhenti berderum, tepat di depan sebuah lembaga desain dan animasi yang cukup bergengsi di Surabaya. Saat pintu mobil terbuka, keluar seorang laki-laki berusia 44 tahun dan berjalan masuk ke dalam gedung, tampak juga seorang remaja berusia 17 tahun yang lebih memilih tetap berada di dalam mobil hitam mengkilat itu.

“Selamat Siang.” Ucap laki-laki paruh baya dengan kemeja biru muda polos dan jas hitam yang menutupi kemejanya.

“Selamat Siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” Jawab seorang lelaki yang berdiri di balik meja customer service. Terlihat dari raut wajahnya, ia seumuran dengan laki-laki yang keluar dari mobil tadi.

“Iya, saya ingin bertemu de..” laki-laki itu terlihat sedikit syok. “Fa.. Fatih?” tanya laki-laki yang ternyata bernama Dani.

 “Masya Allah, Dani? Dani Anggriawan?" Fatih balik bertanya kepada Dani.

“Fatih Al Irsyad! Hahaha.. Sudah berapa tahun kita tidak bertemu? Ternyata kamu bekerja jadi customer service ya, di sini?”

“Hahaha.. bukan, kebetulan customer servicenya sedang shalat dzuhur, jadi aku gantikan sementara,” Fatih menanggapi. “Bagaimana kabarmu, Dani?” Lanjut Fatih.

“Seperti yang kau lihat, kabarku baik. Kau bagaimana?” Dani kembali bertanya.

“Alhamdulillah, Allah beri nikmat luar biasa.” Fatih yang memakai kemeja putih masih terlihat gagah.

“Apa yang membawamu ke tempat ini? Apa ada yang bisa aku bantu?” Tanya Fatih.

“Begini, apa aku bisa bertemu headmaster dari lembaga ini?" Dani balik bertanya.

“Aku headmaster-nya, Dan. Ada apa?” Jawab Fatih dengan tersenyum.

“Oh! Jadi kau adalah headmaster-nya?!” raut muka Dani kembali syok. “Maaf.” Dani melanjutkan, “Begini, aku orang tua Rangga. Kemarin dia ikut tes pendaftaran di sini. Tapi katanya tak lolos, padahal dia ingin sekali masuk lembaga ini. Aku minta tolong.. terima dia. Nanti aku bersedia bayar dua kali lipat.” Pinta Dani kepada Fatih.

“Wah, maaf Dan, tidak bisa. Memangnya dia gagal dalam tes apa?” tanya Fatih.

“Katanya dia gagal di wawancara dan menggambar. Padahal dia ingin sekali bisa menyaingi sepupunya dalam hal animasi.” jawab Dani.

“Sekali lagi aku minta maaf. Kami tidak bisa meloloskan peserta yang gagal saat tes. Lembaga Desain Makemotion memang dikhususkan untuk mereka yang benar-benar berminat dan berbakat. Sehingga tes seleksi memang sangat ketat, meliputi tes menggambar, wawancara, dan tes bahasa Inggris. Jika tidak lolos, bisa ikut pendaftaran tahun depan. Para pengajar sangat professional, sengaja kami datangkan dua master dari Jepang. Apabila siswa tidak mampu mengikuti proses pembelajaran maka tentu akan kesulitan. Itulah kenapa seleksinya sangat ketat. Aku minta maaf.” Fatih menjelaskan dengan sangat detail agar tidak menyakiti perasaan teman lamanya itu.

Remaja yang berada dalam mobil pun tak tahan menunggu ayahnya di dalam ruangan. Ia khawatir tidak bisa menyaingi sepupunya untuk mendapatkan pelatihan desain dan animasi dari lembaga Makemotion. Akhirnya remaja yang bernama Rangga itu memutuskan untuk menemui ayahnya di dalam.

Saat pintunya terbuka, mata Rangga bertatapan langsung dengan Fatih, headmaster dari lembaga Makemotion.


***

Mata bulat Fatih yang lugu membuat Pak Anton—wali kelas Fatih— memilihnya menjadi ketua kelas. Saat remaja, Fatih tergolong anak yang pendiam, dia hanya memiliki beberapa teman dekat. Tapi di balik sifat diamnya, teman-teman Fatih menilai bahwa dia anak yang baik dan sering tersenyum meskipun jarang berbicara. Barangkali Pak Anton memilihnya untuk membuatnya menjadi lebih ‘hidup’.

“Fatih, kok kamu duduk sendirian di teras kelas? Kamu nggak jajan?” tanya Pak Anton yang masih di dalam ruang kelas saat pelajaran baru saja selesai. Suaranya sedikit meninggi agar Fatih mendengarnya.

“Oh, Pak Anton. Iya, Pak. Saya tidak jajan.” Jawab Fatih yang menoleh ke arah Pak Anton sambil tersenyum.

“Boleh minta tolong? Kemarilah!” Pinta Pak Anton pada Fatih. Fatih pun segera berlari kecil menghampiri Pak Anton yang sedang duduk di meja guru, ditemani tumpukan buku gambar yang akan diberi penilaian.

“Ada apa, Pak? Apa yang bisa saya bantu?” tanya Fatih kepada guru SMP favoritnya.

“Ini, tolong kamu beli dua mangkuk bakso. Nanti bawa kemari.” Fatih mengangguk dan segera menuju kantin yang hanya lurus beberapa meter saja.

Saat Fatih kembali dengan dua mangkuk bakso, Pak Anton telah menyelesaikan urusannya dengan buku-buku gambar itu. “Duduklah di sini, ayo kita makan bersama.” Perintah Pak Anton pada Fatih.

Fatih sedikit kaget, ternyata dua mangkuk bakso itu adalah untuk Pak Anton dan dia sendiri. Fatih ditraktir. Pak Anton memang sosok guru sesungguhnya. Disiplin pada tugas-tugas sekolah, lugas dan tegas saat mengajar, pun pandai mengajar sambil bercanda—membuat suasana belajar semakin menyenangkan. Dan kini, ternyata Pak Anton juga hobi mentraktir siswa. Mereka berdua berbincang hingga akhir bel istirahat selesai. Fatih semakin menganggumi profesi seorang guru dari Pak Anton.

***

Lain halnya dengan guru yang Fatih temui saat ia sudah beranjak SMA. Dua bulan menjelang Ujian Nasional. “Kalian iuran saja, pakai jasa joki. Tapi tetap, setiap mata pelajaran yang diujikan ada siswa yang meng-handle. Misalnya Nisa, kamu pegang mata pelajaran matematika. Kamu kan pintar. Jangan pelit. Kapan lagi kamu bantu teman kamu?” Ujar Bu Widya saat mata pelajaran matematika hampir berakhir. Fatih benar-benar tak habis pikir saat Bu Widya menyuruh dia dan teman-temannya untuk berkoordinasi saat ujian nasional, menggunakan jasa joki pula. Bagaimana mungkin seorang guru yang merupakan teladan siswa justru menyarankan tindakan curang seperti itu? Fatih hanya terdiam di kelas.

Saat istirahat, Fatih pergi ke masjid sekolah untuk shalat dhuha. Ia bertemu Dwilujeng—sahabatnya sejak kelas X—sedang melepas sepatu di teras masjid.

“Fatih, aku benci menyontek. Kau kenal aku, kan? Apa yang harus aku lakukan? Aku disuruh Bu Widya membagikan jawaban kimia kepada teman-teman saat ujian nanti. Aku tidak berani menolak. Tapi aku sungguh tidak mau melakukannya.” Mata Dwilujeng berkaca-kaca. Hampir saja dia menangis, tapi ia tahan.

“Aku juga bingung, Dwi. Kau tahu kan di kelas aku hanya diam tanpa mengeluarkan pendapat. Aku tak berani menatap mata Bu Widya. Ayo kita shalat dulu, kita pikirkan nanti saat di rumah.”

***

Saat sore hari di ruang tamu, tampak Fatih duduk di kursi teras dengan memangku sebuah buku. “Kok melamun? Kasihan itu bukunya dicuekin, Nak.” Suara Bapak membuyarkan lamunan Fatih. Kini Bapak duduk di sampingnya.

“Pak, kata Bapak, kita harus patuh sama guru kan, Pak?” tanya Fatih yang kini malah menutup bukunya yang sedari tadi terbuka tanpa dibaca.

“Ada apa? Kenapa kamu bertanya seperti itu?” Bapak kembali bertanya sambil membetulkan sarungnya agar lebih longgar dibagian perut.

“UN nanti, Fatih disuruh Bu Widya nyontek, Pak.” kini Fatih menatap mata Bapak. “Bapak tahu kan kalau Fatih lemah di matematika? Fatih memang cuma suka pelajaran kesenian. Tapi Fatih nggak mau nyontek, Pak. Apa yang harus Fatih lakukan?”

“Bu Widya? Guru matematikamu itu? Dia wali kelasmu, kan? Kok bisa nyuruh siswanya nyontek saat ujian? Duh.” Bapak hanya geleng-geleng kepala, tidak menyangka wali kelas yang terlihat ramah itu justru mengajarkan ketidakjujuran.

“Kamu nggak perlu neko-neko (1). Sudah, belajar dan berdo’a saja. Nggak usah ikut-ikutan nyontek. Masa baru ujian nasional saja sudah bertindak curang, bagaimana nanti saat kamu dewasa, Nak? Dengarkan Bapak, sebaik-baik teladan adalah Rasulmu, Nak. Kejujuran itu harga mati, tidak bisa ditawar, apapun resikonya. Bapak tidak pernah menuntutmu mendapatkan nilai tertinggi, tapi jika kau mampu mendapatkannya dengan cara yang jujur, Bapak akan bangga padamu.” Bapak melepas pandangannya ke luar jendela. Fatih menatap wajah bapaknya lekat-lekat. Tampak sederhana, hanya berkaos dan bersarung. Tapi jiwanya, bijaksana.

“Kalau Fatih mendapatkan nilai jelek tapi dengan cara jujur, bagaimana, Pak?” Tanya Fatih ragu-ragu, ia sadar ia sangat lemah dalam mata pelajaran mafia—matematika, fisika, kimia.

“Kalau mendapatkan nilai jelek, berarti kamunya saja yang malas belajar, Nak.” Jawab Bapak singkat.

“Hahaha.. Bapak kan tahu Fatih cuma suka pelajaran seni sejak kecil. Kalau ujiannya menggambar, Fatih yakin akan mendapat nilai 10.” Jawab Fatih bersemangat.

“Yasudah, buat saja ujian sendiri.” Sahut Bapak sambil tersenyum.

“Jadi, karena Fatih tidak bisa matematika, boleh ya Pak, Fatih ikutan menyontek? Siapa tahu Fatih kebagian duduk di belakang, jauh dari pengawas.” tanya Fatih menggoda Bapaknya.

“Pengawas itu bukan yang duduk di depan kelasmu, tapi dua malaikat yang menjaga di kanan dan kirimu. Masih berani menyontek?” Jawaban Bapak membuat Fatih tidak berani menggodanya lagi.

“Hal negatif yang disepelekan, akan berlanjut hingga masa depan. Indonesia akan maju jika dititipkan pada pemuda yang giat dan memegang teguh kejujuran. Bukan yang maunya hanya instan. Perubahan negeri bisa terjadi jika diciptakan, bukan sekedar sulapan. Jadilah bagian yang menciptakannya, Nak.”

***

Saat ujian pun tiba, Fatih ternyata mendapat bagian duduk di bangku paling depan. Lengkap sudah niat Fatih untuk tidak mencontek, ia mampu memegang prinsipnya dengan baik. Teman-temannya, seperti rencana awal, menggunakan jasa joki dan mengandalkan jawaban siswa yang diberi tugas untuk meng-handle mata pelajaran khusus. Ketika hasil ujian keluar, Fatih mendapatkan nilai terendah satu sekolah. Tapi, dialah yang paling jujur satu sekolah.

Saat seleksi penerimaan mahasiswa baru, teman-teman Fatih cukup banyak yang diterima di kampus bergengsi. Sedangkan Fatih, kesulitan mendaftar karena nilainya sangat rendah. Dia bersabar meski sudah tiga kali gagal mendaftar di perguruan tinggi yang ia targetkan.

Untuk menghibur hatinya, ia sering membawa buku sketsa gambarnya ke mana-mana, menggambar apapun yang bisa digambar. Suatu ketika saat Fatih berada di masjid untuk shalat, ia meletakkan buku sketsa itu di sampingnya. Seorang anak kecil yang hanya berjarak dua sajadah dari Fatih, tiba-tiba menghampiri Fatih dan membuka-buka bukunya. Setelah ayah gadis kecil itu selesai shalat, ia menghampiri anaknya. Ayah gadis itu kagum pada gambar-gambar Fatih yang sangat bagus dan detail. Setelah Fatih selesai shalat, terjadilah percakapan yang mengubah hidup Fatih.

Diketahui, nama ayah gadis itu adalah Pak Wiryawan. Pak Wiryawan adalah seorang dosen di sebuah perguruan tinggi kesenian di Yogyakarta. Mengetahui kisah Fatih atas kejujuran dan bakat menggambarnya, Pak Wirya memberikan tawaran beasiswa kepada Fatih asalkan ia mau melanjutkan studinya di Yogyakarta.

Bertahun kemudian, kejujuran dan keteguhan membawanya menjadi seorang pendiri lembaga desain dan animasi di Surabaya, Makemotion. Kini, Fatih menjadi headmaster di sekolah itu dan menerapkan prinsip jujur kepada siswa-siswanya.

***

“Aku mengenalmu selama tiga tahun di SMA, sepertinya aku memang tidak akan bisa membujukmu untuk menerima Rangga dengan cara ini. Kalau begitu aku permisi. Terima kasih.” Dani membalikkan badannya dan melihat putranya Rangga.

“Ayo, Nak, kita pulang. Kau coba lagi saja di tahun depan, atau mendaftar di lembaga yang lain.” Ucap Dani pada putranya. Keduanya pun keluar ruangan dan segera pergi dari tempat itu.

Di senja hari, sepulang dari lembaga Makemotion, Fatih mengunjungi makam Bapaknya. Setelah berdo’a, Fatih hanya mengucapkan satu kalimat, “Pak, terima kasih atas pesan Bapak saat itu.”

END

1. Neko-Neko : Berbuat aneh (tidak umum)

You Might Also Like

15 komentar

  1. Jujur memang harga mati. Waduh harus mulai berbenah nih. Semoga bisa lebih jujur termasuk dalam hal-hal yang dianggap sepele.

    Ceritanya awalnya gak ngerti ternyata ini Flashback. Ayahnya Fatih Mewariskan ilmu yang sangat berharga. Ilmu jujur.

    ReplyDelete
  2. Waduh ceritanya bagus banget ini... aku sampe terbawa suasana yg ada di dalam ceritanya... banyak sekali pesan moral yg disampaikan dengan cara yg menarik... Oh iya, saya juga menerapkan prinsip kejujuran seperti yg ada di dalam cerita ini... krn sejak kecil org tua saya sudah mendidik saya supaya harus jujur apapun yg terjadinya, semoga saya juga bisa menjadi pemuda yg sukses dan berguna bagi bangsa...
    ditunggu cerita selanjutnya... :)

    ReplyDelete
  3. Keren ceritanya, ini trus story kah cerita'a?

    ReplyDelete
  4. Ceritanya bagus lho. Tapi, gue yg bukan siapa-siapa ini, ngebacanya agak terburu-buru. Karena, saat menulis ini, mungkin dirimu sedang menggebu-gebu.

    Pensan moralnya dapet banget. Semuanya gue suka, sih. Gue aja, belum tentu bisa nulis begini. hehe.

    Kejujuran emang part yang penting banget untuk tidak ditawar. Meskipun banyak hal yang membuat orang merasa aneh dengan sikap jujur. Tapi, percayalah kejujuran akan membawa kebenaran di masa sekarang hingga nanti. :)

    Makasih, ya.

    ReplyDelete
  5. Dani menjelaskan dengan sangat detail, kemudian bagian Kamu nggak perlu neko-neko1. Bagian tersebut sepertinya membuat saya bingung. Tapi, overall, ceritanya keren dan bagus sekali, sangat bermanfaat buat pembaca. Orang yang jujur memang langka, karena dengan kejujuran, maka kita dapat dipercaya :)

    ReplyDelete
  6. wahh....masih adakah murid jujur yang seperti itu.
    Yang kemarin jujur dan dapet penghargaan aja diolok-olok oleh orang, dikatain dan sebagainya.

    salut deh kalau emang ada yang kayak gitu...BERANI JUJUR

    ReplyDelete
  7. Ceritanya paket lengkap banget deh..

    Jalan ceritanya unik, ide yang diangkat keren, gaya bahasanya enak dibaca, dan yang paling keren itu, pesan moral yang ingin disampaikan penulisnya itu nyampe banget. Gue belum tentu bisa nulis cerita kayak gini. Gue harus banyak belajar nih :D

    Kejujuran. Itu adalah hal mendasar dalam kehidupan yang saat ini sudah banyak dihilangkan dan disepelekan. Kejujuran memang pahit, tapi akan membawa kita ke arah yang indah dan lebih baik. :)

    Oh, iya. Lembaga animasi makemotion itu beneran ada nggak sih? :D

    ReplyDelete
  8. keceee twiiin...alurnya mundur maju cantiiik cantikk..hihii..
    keep writing twinkuu yang baiiikk :D

    ReplyDelete
  9. Ah, kalau soal jujur ini aku jadi inget temenku deh, dia salah satu siswa yang jujur, dia orangnya juga pintar. Dia tidak mau memberikan contekan apalagi menyontek. Setiap ulangan dia selalu sendiri, tidak berkubu untuk mencari contekan. Salut deh sama dia. Walaupun di beberapa pelajaran saat ulangan dia di bawah yang lain, karena yang lain menyontek jadi nilai sama, tapi untuk pelajaran yang tidak bisa dicontek karena tidak ada yang bisa, bahkan lumbung contekan sekalipun, dia bisa mendapatkan nilai tertinggi di mata pelajaran itu.

    Orang jujur memang hebat :)

    ReplyDelete
  10. Gue sempat bingung ketika bacanya, kok tiba-tiba fatih yang jadi headmaster jadi berubah menjadi anak kecil, eh pas baca sampai akhir, ternyata alur cerita maju mundur toh. gue paham.

    pesan dan pembelajaran dari ayahnya, yang menamkan nilai kejujuran, bisa membuat fatih jadi sukses,

    ya nilai-nilai kejujuran jauh lebih penting dan berharga, ketimbang nilai-nilai yang bagus diatas kertas. kejujuran adalah kunci utama kita untuk bisa meraih kesuksesan.

    ReplyDelete
  11. Mengharukan banget cerita tentang kejujuran gitu ya. Coba orang Indonesia kaya gitu semua, PNS gak bakal banyak kayak sekarang nih hehe

    Btw tulisannya asik :) Tepuk tangaaan!

    ReplyDelete
  12. Nanggepi yang atas "prok prok prok"

    ReplyDelete
  13. Ini ceritanya mendidik banget. Dan pesannya sangat tersasa. Mengajarkan kejujuran dalam keadaan apapun, walaupun kita akan mendapat kerugian, tapi dengan kejujuran akan mengantarkan kita ke jalan yang lebih baik.

    Keren mbak ceritanya. Bisa buat alur maju mundur gitu. Tapi kayaknya ada typo sedikit mbak, yang dibagian percakapan “Sekali lagi aku minta maaf. Kami tidak bisa meloloskan peserta yang gagal saat tes. Lembaga Desain Makemotion memang..." ini harusnya yang ngomong Fatih kan, bukan dani? Bener nggak?

    ReplyDelete
  14. Ya ampun, ceritanya keren banget.
    Kadng jujur itu menjadi hal yang sepele karena semua orang berlaku tidak jujur. Masih inget kasus anak yang disuruh nyontek tetapi tidak mau? kemudian terjadi masalah.

    Kalau di ujian kita sering dengar fatwa Kejujuran. Tapi itu sepertinya cuma slogan dan baner di depan kelas. Haha.
    Betapa Lucunya negeri ini.

    tetapi cerita ini juga menjadi tamparan buat diri sendiri sih...
    Berani gak untuk jujur? Berani nggak mengakui nilai yang ada itu hasil kerja sendiri atau kerja bareng2?

    ReplyDelete
  15. Kejujuran emang mata uang yang berlaku di masyarakat. tapi sayangnya kebanyakan orang menukar mata uang nya dengan ketidakjujuran. Miris juga ngebacanya tapi aku acungin jempol buat pesan moral yang diangkat dalam cerita ini. membeli pendidikan itu seperti udah menjadi hal yang lumrah di masyarakat. pendidikan ibarat sebuah barang, bukan lagi menjadi hak bagi setiap bangsa. :)

    ReplyDelete

Thank you for reading. What do you think about the article above?

Forum Lingkar Pena Sidoarjo

Friends

Community