Sahabat Pertama

Saturday, April 11, 2015

Terima kasih ya, atas do'amu barusan. Semoga Allah mendengar dan mengabulkannya. Sungguh, aku sedikit kaget ternyata kamu memiliki ekspektasi seperti itu padaku. Aamiin.. aamiin.. aamiin.. Tak henti-henti aku mengucapnya. Terima kasih, sahabatku.. saudaraku.. adikku.. Kau lebih dari sekedar teman bagiku.

Sejak kejadian sekitar 11 tahun yang lalu, hari itu juga ku putuskan, kau bukan sekedar teman, kau akan ku anggap seperti adikku, seperti keluargaku. Meski, ya.. sejak lulus SMA, kita sudah jarang berkumpul. Kita, yang sudah berteman sejak taman kanak-kanak, selalu satu sekolah hingga SMA, saat lulus kau melanjutkan belajar ke perguruan tinggi dengan beasiswa. Sementara aku, kerja dulu beberapa bulan. Tapi kau selalu menyemangati. Aku pun bisa kuliah juga di tahun berikutnya.

Kesibukan masing-masing membuat kita jarang bertemu meski jarak rumah kita hanya beberapa meter saja. Tapi percayalah, aku akan selalu mendo'akanmu. Semoga selalu yang terbaik untukmu. Jangan pernah merasa sendirian, ya.. Kau masih punya tante yang sayang padamu. Kau juga masih punya sepupu dan keponakan. Dan kau masih punya kita, teman-temanmu. Aku yakin, Ayah Ibumu pasti bahagia di sisi-Nya. Putri kecilnya kini telah dewasa, tumbuh dengan sangat cantik dan pandai.

Sekali lagi, terima kasih ucapanmu malam ini. Ucapan itu sangat berarti bagiku. Seperti doa terindah yang ku dapati dari gadis yatim piatu. Aku yakin, doa itu dengan anggunnya akan berpilin ke atas langit, menjumpai Sang Pengabul Do'a. Semoga, do'a itu juga akan kembali kepada yang mendo'akan. Kita akan bahagia dalam peluk-Nya. Merengkuh rasa damai karena saling menyayangi dan mengasihi satu sama lain, saling mengingatkan, saling mencinta karena-Nya.

Kau adalah sahabat pertamaku, semoga tetap terjalin hingga ke surga-Nya, Allah Azza wa Jalla.

You Might Also Like

0 komentar

Thank you for reading. What do you think about the article above?

Forum Lingkar Pena Sidoarjo

Friends

Community