Rasanya Jadi Volunteer

Volunteer. Kata yang sudah nggak asing di telinga kaum muda. Volunteer dalam bahasa Indonesia artinya relawan. "Rela"wan. Rela bantu ini itu. Rela meluangkan waktu, tenaga, bahkan materi untuk membantu.

Banyak banget lembaga maupun event yang menawarkan kepada kaum muda untuk jadi volunteer sebagai ajang cari pengalaman. Karena dengan jadi volunteer, kita bisa ngerasain dunia kerja. Kita akan berubah menjadi pekerja--yang tidak digaji tentunya. Contoh lembaga yang menawarkan program volunteer itu seperti Greenpeace, Unicef, Dompet Duafa, dan masih banyak lagi. Kalau event, biasanya hanya event-event besar saja yang menawarkan program volunteer, salah satu contohnya yaitu event festival kreatif seperti Phinastika. Nah, kali ini aku mau sharing tentang rasanya jadi volunteer di Daarul Qur'an.

Pertama kenal Daarul Qur'an (DaQu) dari seorang teman yang sudah jadi volunteer di lembaga tersebut. Dia sering banget posting di facebooknya tentang kegiatan-kegiatan volunteering--yang tak jarang mengajaknya ke berbagai kota mulai dari Jakarta sampai Banyuwangi. Wih! Pasti seru nih, ke luar kota bukan untuk liburan tapi bantu orang! Selain dapat pengalaman, teman baru, pastinya juga pahala kan? Hal itu yang bikin aku ingin men-jajal gimana sih rasanya jadi volunteer?

Pertama kali bergabung saat bulan ramadhan tahun 2013. Saat itu DaQu lagi butuh tenaga untuk membantu menghimpun dana sedekah dari para donatur untuk adik-adik di pesantren tahfidz Daarul Qur'an yang tak jarang adalah para dhuafa. Kita--para relawan, disebar ke berbagai mall untuk jaga gerai sedekah di sana. Jadi bagi para pengunjung mall yang ingin sedekah, bisa melalui kita, kita tulis di kwitansi yang lapis tiga (satu buat donatur, satu buat kantor, satu lagi buat arsip) untuk kemudian disalurkan oleh DaQu.

Selain jaga gerai, pernah juga aku dimintai bantuan saat ada event, pernah juga jaga kantor DaQu. Ketika para staff sedang ada kegiatan di luar kota, tak jarang para relawan dipercaya untuk menjaga kantor selama mereka bertugas. Jadi di kantor kita melayani para customer yang ingin sedekah atau sekedar bertanya tentang program-progam yang ditawarkan oleh DaQu seperti waqaf, umrah, haji, pembelian buku dan CD Ustadz Yusuf Mansur (pendiri Daarul Qur'an), dan lain-lain.

Kemarin, sejak tanggal 1-8 April, aku dimintai bantuan untuk jaga gerai lagi di mall, bedanya ini bukan fokus ke sedekah, tetapi lebih ke promosi pesantren tahfidz. Tapi tetap, saat ada yang ingin bersedekah, kita akan tetap melayani mereka dengan amanah. Nah, suka dukanya jaga gerai tuh banyak. Iya, banyak banget!

Belajar Sabar dan Ikhlas
Tak jarang lokasi mall yang harus kita tempuh itu ternyata cukup jauh. Bisa tuh satu jam perjalanan, apalagi kalau macet, satu jam lebih. Aduhai dah, jalan raya terasa seksi oleh keringat para pengendara dan bau monoksida yang nusuk-nusuk hidung--bikin mual. Belum lagi harga bensin naik, ditambah karcis parkir yang harus dibayar oleh kantong kita sendiri. Bisa bayangin tiga rebu kali sekian hari, hihi, lumayan atuh. Namanya mahasiswa pastilah hidup irit adalah "motto"nya. Tapi itung-itung itu sedekah kita yaa.. jadi kudu ikhlas. Allah kan Maha Kaya :) Duit bisa dicari. Tapi amal baik, kita yang nyiptain. Surga nggak bisa dibeli pake duit, surga dibeli pake amal baik. #mendadak bijak :p

Latihan Mental
Widih, latihan mental, bok! Iya, MENTAL! Soalnya nggak jarang kita dikira "para peminta sedekah", duh! istighfar dulu, hehe. Waktu pertama kali aku bener-bener sebel parah, sampe2 nulis di note yang kubawa, aku coret2 tuh note buat  meluapin kekesalan. Dalam hati rasanya teriak "Woi, Buk! Ini duit bukan buat gue! Tapi buat adik-adik dhuafa! Lu kalau nggak mau bantu ya nggak usah gitu juga kali tatapannya, ish! Gue cuma melayani donatur dan membagikan brosur. Gue gak minta-minta duit lu!". Hahaha parah yak. Tapi lama-lama aku kebal, semacam latihan mental kan? Sejauh apa keikhlasan kita jadi volunteer? Sejauh apa kita ikhlas bantu suatu lembaga untuk mendanai kebutuhan adik-adik yang sedang menghafalkan Al-Qur'an? Sejauh apa kita bisa mengatur emosi kita? Sudah mampu-kah kita membalas senyum terhadap orang yang bisanya cuma mencibir? Sungguh, ini semacam latihan mental bagiku yang tergolong makhluk sensitif, hehe.

Pernah suatu hari, saat itu ada pasangan suami istri yang nonton video yang diputer di LCD gerai DaQu sambil nunggu lift-nya turun, dengan gesit mbak Ai--partner jaga gerai-- mengampiri mereka. "Ini Bu, silahkan brosurnya." Mbak Ai kemudian menjelaskan secara singkat tentang pesantren tahfidz, lalu menyodorkan buku tamu jika ingin mendapatkan majalah DaQu secara gratis. Ibu itu lalu membuka tasnya untuk mengambil sesuatu. "Oh, ada kartu nama ya, Bu?" tanya Mbak Ai. Aaaaand, do you know what happen then? Ibu itu ngambil duit lima ribu lalu menggenggamkannya ke tangan Mbak Ai, dan dengan gesit buru-buru masuk lift yang udah kebuka. EBUSET! Paraaaah... dikiranya kita pengemis, apa? Allah, ampun. Ini mah bukan lagi latihan, tapi ujian mental, hehe. Akhirnya kita berdua wegah ngelirik tuh duit. Kita tinggal di paper bag punya DaQu. Udah, buat sedekah aja~

Ngulek Sambal Di Mall
Pengalaman seru yang nggak bakal aku lupa. SPG depan gerai bawa cobek dan uleg-an, bawa buah kedondong dan mentimun, bawa cabai, plus yang terpenting, karena dia orang Madura, dia bawa petis khas Madura. Hahaha ini seru banget. Para SPG toko-toko pada ngumpul di toko baju depan gerai DaQu, Mbak--yang begonya aku lupa nanya siapa namanya-- ngajak aku dan Mbak Ai buat gabung. KITA RUJAKAN DI MALL! Iya, rujakan rame-rame. Banyak pengunjung mall yang lewat pada ngeliatin, bodo amat, kapan lagi seru-seruan bareng orang yang baru dikenal :p Hal ini bikin aku semakin yakin, orang Madura itu nggak semuanya kasar--seperti kebanyakan orang bilang. Justru banyak dari mereka yang lebih kalem dan lebih menyenangkan. Aku rasa kita nggak berhak men-judge suatu kelompok (baik itu ras, agama, organisasi, de el el) itu buruk, jelek, salah. Kita sama sekali nggak berhak melakukan itu, karena semua kejelekan yang terjadi adalah berasal dari pribadi. Misal nih, Islam yang terbagi menjadi beberapa golongan. Ada NU, Muhammadiyah, HTI, dll. Sebenanya semua sama, yang bikin bentrok mah orangnya aja. Ada yang gampang sewot, ada yang stay calm and cool. Sebagai muslim, menjaga ukhuwah kan penting banget, yang penting kita sama-sama ngamalin Qur'an dan Sunnah Rasulullah, aku rasa udah baik. Jadi nggak perlu saling membenarkan dan menyalahkan :) Semua muslim kan sodara. Kayak Rujak buah tadi, dari beragam bahan bisa jadi satu menu enak bin nikmat, hehe.

Kuliah Outdoor
Nah, ini nih yang paling aku demen. Secara aku kuliahnya di bidang iklan. Aku jadi belajar gimana sih suasana di lapangan. Aku jadi ngerti sifat-sifat para customer yang beda-beda karakter. Aku jadi ngerti strategi yang baik saat promosi (Makasih buat Pak Ivan :D ). Aku juga jadi belajar betapa komunikasi antar tim itu penting banget (antara staff kantor dengan tim lapangan, antara atasan dengan anggota timnya). Dan kita juga harus jeli dengan hal-hal kecil yang tak terduga saat di lapangan. Banyak deh pokoknya :))

Lebih Yakin Sama Tuhan
Ini religius banget, hehe. Aku pernah denger ceramahnya Ustad YM, intinya, kadang itu manusia lebih fokus sama apa yang dipengen. Semua yang dipengen diungkapin ke Allah. Ya Allah, aku pengen ini, ini, ini, sama itu, itu, itu juga Ya Allah. Tapi, pernah nggak sih manusia fokus dulu sama apa yang Allah pengen? Apa sih yang Allah mau dari kita? Bukankah kalau "mau"nya Allah kita turutin, maka apa yang kita pengen juga bakal diturutin sama Allah? :) Nah, ini nih. Pernah waktu itu mall sepiiiii banget. Nggak ada donatur yang menghampiri. Di sini aku ngaji dan do'a, Ya Allah semoga ada yang sedekah. Masa dari tadi aku bercandaaa mulu sama Anifa--partner saat ramadhan dulu. Dan, you know, tiba-tiba ada segerombol keluarga, si Ibu muda itu menghampiri kita berdua. "Mbak, bisa sedekah di sini, ya?" Kita jawab aja bisa buuuuk. Bisa banget. Kalian tahu berapa duit yang dia keluarin? Nggak tanggung-tanggung. DUA JUTA! Subhanallah, rejekinya adik-adik penghafal Qur'an! Pas aku tanya apakah dia udah tahu apa itu Daarul Qur'an, dia jawab NGGAK TAHU, MEN! Kok bisa ya? Alhamdulillah kali ini kita bukan tampang pengemis, tapi penyalur sedekah yang amanah, aamiin XD Insya Allah.

Rasanya jadi volunteer alias relawan itu campur-campur. Overall, seru lah, dan patut dicoba buat kalian yang masih muda :) Kita nggak bakal dibayar pakai duit, tapi kita akan dibayar pakai ilmu. Pinter-pinter kita aja milih lembaga atau event apa yang sesuai sama minat kita. Kalau suka sama lingkungan, gabung aja di Greenpeace atau semacamnya. Kalau suka sama social activity, ya gabung aja sama Daarul Qur'an, Rumah Yatim, Dompet Dhuafa, dan lain-lain. Bukankah pengalaman adalah guru terbaik? So, masih ragu daftar jadi volunteer? :D

11 comments:

  1. wah mau dong jadi voulenteer ka.. itu gimana biar bisa ikutan gitu ? kayanya ikut kegiatan yang mengandung bekal akherat gitu harus dicoba...

    ReplyDelete
    Replies
    1. oh gitu toh.. oke oke makasih infonya :D

      Delete
  2. Entheng bgt idenya bu bos :). Tp menarik.. Great !!

    ReplyDelete
  3. keren banget pengalamannya. Untung kekesalannya diluapkan dengn cara menulis pada sebuah kertas, hehe.. Pengalamannya menarik sekali, saya sampai baca semuanya, sampai ke detail-detailnya, yang pasti jadi volunter harus tahan mental dan pastinya nggak dapat gaji, tapi dapat ilmu yang tentunya lebih bermanfaat :)

    ReplyDelete
  4. Hahaha, ngulek sambel di Mall.

    Nice post :D

    ReplyDelete
  5. Wih, anak muda seperti mbak seharusnya ditiru dan dicontoh oleh semua anak muda di Indonesia. Zaman Sekarang, kayaknya susah banget nemuin anak muda yang masih inget sama kaum dhuafa. Semangat terus mbak jadi volunteernya ! :D

    ReplyDelete
  6. Jiwa sosialnya tinggi banget nih, gue salut sama Mba, jaman sekarang anak-anak muda kalau kerja liat upah dulu besar atau kecil, dan Mba bukan mementingkan upahnya, tapi mementingkan orang-orang yang memang perlu bantuan dari kita.

    semoga dengan keiklasan mba jadi relawan, selalu diberi nikmat sehat dan jasmani oleh Allah SWT.

    ReplyDelete
  7. Yak, negeri ini rusak bukan karena orang jahat. Tapi karena orang baik yang enggan berbuat. Terimakasih Mbak Nur, udah jadi orang baik yang mau berbuat =D

    ReplyDelete
  8. Aku belum pernah jadi volunteer.

    Setuju sih, aku juga kadang kalo berdoa sering minta yang aku pengen tanpa memikirkan apa yang udah aku lakuin dengan perintah Allah. Padahal untuk sholat 5 waktu masih lalai. Pantes aja doa lama dijawab.

    ReplyDelete
  9. Wah, aku pengen banget dah jadi Volunteer, kayaknya seru gitu bisa ngebantu orang dan lingkungan, bisa dapat teman dan pengalaman baru lagi :)

    ReplyDelete

Thank you for reading. What do you think about the article above?