Ketika Kau Membaca

Friday, March 13, 2015

Aku tahu ini telah larut malam, tapi aku bisa apa jika mata menolak terpejam. Aku bukan putri tidur yang menunggu pangeran datang ke puncak menara. Bukan. Aku hanya gadis yang menunggu pangerannya berjuang. Maka tak mungkin ku pejamkan mataku sementara kau berdarah dan bernanah di medang perang.

Aku tahu ini telah larut malam, meskipun lingkar mataku harus biru seolah lebam. Aku yakin suatu hari nanti kau akan datang. Kau akan menang dan menjemputku pulang. Ketika matahari telah nampak di ufuk timur, kau masih bergulat dengan panah dan busur, maka ketika itu aku mengirimkan doa terbaik agar musuh-musuh kita jatuh tersungkur.

Berjuanglah, berjuanglah walau lelah membuatmu payah. Berjuanglah, berjuanglah meski sakit menghambatmu bangkit. Di sini aku pun berjuang, melawan keganasan nafsu yang mengajakku terpejam. Melawan bungkaman angan yang membuatku lupa pada ingatan.

Ku titipkan tulisan-tulisan pada angin yang membawa lembaran. Berharap musuhmu lengah dan kau mampu membaca sebuah pesan. Maka ketika kau membaca suratku, janganlah membuatku semakin ragu. Ketika kau membaca hatiku, kau harus menang dan menjemputku yang telah lama menunggu.

Yakinlah, kau dan aku tak sendirian. Kita bersama Tuhan.
Yakinlah, kita akan bertemu dalam dekapan dan kebahagiaan.




untuk kita yang mencintai ilmu
untuk kita yang sedang melawan kemalasan
 untuk kita yang masih ingin belajar dan memperbaiki diri
percayalah, Allah telah menyiapkan waktu terbaik
kita pasti akan bertemu dalam kesabaran dan keteguhan
semoga semakin dekat dengan-Nya

for someone who still unknown
-zi

You Might Also Like

0 komentar

Thank you for reading. What do you think about the article above?

Facebook

Friends

Community