Kata-Nya Ada Sungai Susu di Surga

Monday, March 23, 2015

Sekitar akhir tahun 2013 mungkin, persisnya aku lupa. Saat itu seorang teman kuliah menawariku untuk datang ke acara tausiyah Ustadz Yusuf Mansur yang diadakan oleh PPPA Daarul Qur'an di gedung Indosat, Surabaya. Duh, acaranya malam dan selesai jam 10 lebih, jauh pula dari rumah, gumamku saat itu. Aku yang berdomisili di Sidoarjo berpikir berkali-kali karena harus pulang malam. Bismillah, niat tholabul ilmi, semoga diizinkan Ibu, ditambah bisa melihat Ustadz YM secara langsung. Kapan lagi? Akhirnya ku putuskan, "Iya, Insya Allah aku ikut".

Sebelum acara dimulai, para peserta diajak shalat Isya' berjamaah, Alhamdulillah. Setelah itu acara pun dimulai. Dari tausiyah yang ustadz berikan, yang paling ku ingat adalah ketika membahas mengenai impian. Siapapun boleh bermimpi, berharap impiannya dikabulkan. Ucapkan saja apa yang diingini, sesering mungkin. Insya Allah jika diimbangi dengan ikhtiar, impian itu akan tercapai. Begitu juga dengan surga, jika kita membahasnya, beramal sholeh sebagai upaya ikhtiar memperolehnya. Insya Allah, nggak ada yang nggak mungkin selama kita yakin. Kurang lebih demikian yang disampaikan Ustadz.

"Coba buka Qur'annya, Surat ke 47 ayat 15. Baca dah terjemahnya" Perintah Ustadz.

"(Apakah) perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya?" (Terjemah QS. Muhammad : 15)

Subhanallah.. merinding! Di surga ada bermacam-macam sungai. Bahkan ada sungai SUSU! Minuman favoritku! Ya Allah, aku jarang banget minum susu, kalau udah benar-benar nggak tahan ingin minum, baru aku beli yang ukuran 1 liter itu. Sementara di surgaNya ada bejibun sampai jadi sungai?! Ini baru sungai, bagaimana dengan hal yang lain? Masya Allah, dunia nggak ada apa-apanya.. sungguh nggak ada apa-apanya.

Bagaimana cara masuk surga? Aku memang kuliah di kampus Islam, tapi aku bahkan belum pantas disebut agamis. Bukan lulusan pesantren, yang suaranya merdu saat baca Al-Qur'an.. Allah..

"Coba hafalin tuh ayat 15, saya kasih waktu 10 menit." Tantang Ustadz Yusuf.

Masya Allah.. dihafalin? 10 menit? Ini emang satu ayat, tapi panjangnya nyampe EMPAT BARIS! Hm, harus dicoba, harus. Masa iya aku kalah sama ibu-ibu di depanku itu, yang juga mencoba ngafalin. Bismillah..

Baris pertama.. baris kedua.. lewat. Lanjut ngafalin baris ketiga. "Waktunya udah selesai. Siapa yang udah hafal angkat tangan, panitia tolong kasih mic-nya, ya." Kata Ustadz.

Ha? Waktunya habis? Padahal baru nyampe baris ketiga.. Aduuuh.. sayang banget. Tiba-tiba ada seorang perempuan sebaya denganku yang angkat tangan. Lalu baca taawuz, basmallah.. "Matsalul jannatillati wu'idzal muttaquuna fiiha...." perempuan itu membacanya dengan sangat lancar. Subhanallah. Empat baris ini berhasil dihafal dalam waktu 10 menit? GILA! Gimana caranya??

"Darimana, mbak? Masih kuliah?" Tanya Ustadz ke perempuan tadi.

"Iya, Ustadz. Saya dari kampus Unair." Jawabnya dengan sangat kalem.

"Jurusan apa?" Ustadz tanya lagi.

"Kedokteran, Ustadz." Perempuan itu menjawab dengan mantab.

"Masya Allah, calon dokter dan hafidzah, ini. Manteb!" Kata Ustadz kepada seluruh peserta tausiyah.

Deg! Rasanya itu.. Malu. Iya, maluuu banget. Dia yang kuliah bukan di kampus yang basisnya Islam, meskipun jurusannya kedokteran, tapi mampu menjawab tantangan Ustad untuk menghafalkan ayat ke 15 tadi. Sementara aku? Kuliah di kampus Islam, tapi aku bisa apa? Sedih, Ya Allah. Malu.

Sejak hari itu, aku merasa termotivasi untuk bisa menghafalkan Al-Qur'an. Tapi, mungkin aku belum memiliki tekad yang terlalu kuat, sekedar membaca, mendengar, tanpa mengulang-ulang bacaan. Aku bisa meniru saat mendengar, tapi jika harus membaca sendiri, aku masih belum mampu.

September 2014, saat awal semester 7, aku magang di Kota Jogja sebagai tuntutan perkuliahan. Beruntung ada fasilitas wifi yang menggiurkan, saat pekerjaan selesai dan ada waktu luang, aku manfaatkan untuk membuka situs youtube. Tiba-tiba aku teringat cerita bahwa putri Ustadz yang bernama Wirda pernah bermimpi bertemu dengan Rasulullah. Seketika aku tulis keyword "mimpi Wirda bertemu Rasul". Enter. Aku klik video itu lalu aku tonton. Belum selesai video itu aku tonton, mataku sudah sembab memerah dan mengeluarkan banyak air mata. Ya Allah, sesak rasanya. Malu. Iri. Campur aduk. Iriiii banget. Beruntung banget bisa melihat wajah Rasulullah, mimpi shalat berjamaah pula. Allah, aku juga ingin. Tapi, usiaku sudah kepala dua, dan tekad menghafalku masih nol besar. Apa iya Rasul berkenan hadir dalam mimpiku? Entahlah..

Sejak hari itu aku browsing cara menghafalkan Al-Qur'an. Ketemu. Tapi kalau nggak ada tentor langsung rasanya susah. Cuma bisa baca, lalu dicoba diterapin. Tapi tetep aja susah. Iya, susah. Nggak paham cara praktiknya. Akhirnya kegiatan yang paling sering hanya mendengar murottal, lalu menirukannya. Sangat tidak maksimal.

Semester 8 pun tiba, akhirnya aku harus melakukan skripsi. Entah tiba-tiba terpikirkan untuk mengambil tema strategi komunikasi pemasaran sebuah rumah tahfidz milik Daarul Qur'an yang ada di Surabaya. Aku mengetahui rumah tahfidz ini dari seorang temanku yang kuliah retorika. Aku mengantar surat izin ke kantor Marketing Gallery di sana, yang aku tahu kantor itu membantu pemasaran rumah tahfidznya.

Ngobrol banyak dengan Mbak Dini, seorang customer service kantor itu. Ternyata beliau juga sedang mengerjakan skripsi. Kuliahnya non-regular, jadi bisa kerja secara fulltime. Salut! Lalu dia memberikan koleksi video Ustadz yang dia miliki. Alhamdulillah, rasanya senang banget. Kata Mbak Dini, "Biasanya sambil ngerjain skripsi, aku ndengerin ceramahnya Ustadz".

Beberapa hari kemudian, aku teringat video yang diberikan oleh Mbak Dini, aku pun memutarnya di software video player. Saat itu, di video, Ustadz membahas mengenai cara asyik ngafal Qur'an. Subhanallah! Alhamdulillah! Ini yang aku cari! Aku praktikkan langsung apa yang Ustadz katakan dalam video itu, dan Alhamdulillah, aku memahaminya dengan baik. Sekarang, aku mulai mempraktikkan apa yang Ustadz ajarkan melalui video tersebut. Alhamdulillah, sedikit demi sedikit tekad itu terkumpul. Sedikit demi sedikit keyakinan bisa menghafal Qur'an sudah ku miliki. Insya Allah, aku pasti juga bisa. Ini memang tidak mudah, tapi juga tidak sulit jika kita yakin. Aku bisa hafal beberapa ayat dalam waktu singkat. Ajaib.

Ketika kita memiliki keinginan yang baik, yang positif, meskipun akan selalu hadir kendala serta tantangan dalam meraihnya. Yakin, yakin Allah akan menunjukkan jalannya. Insya Allah aku, kamu, siapapun, bisa menghafalkan Al-Qur'an dan menerapkannya dalam keseharian.

"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (Terjemah QS. Al Insyirah : 5-6)

Jadi.. Allah, apakah aku bisa masuk surga? Apakah aku bisa minum susu sepuasnya di sana? Apakah aku bisa bertemu dengan kekasih-Mu, Muhammad? Dan... bertemu dengan-Mu, Allah?

You Might Also Like

4 komentar

  1. Aku juga jadi terharu baca ceritanya. Kadang malu ada orang non jurusan islami tapi hafiz, alim, sholeh dls. Dengan tanda petik. Mereka ahli dalam bidang yg diambil tapi juga ahli diluar bidang yg diambil dalam konteks ini keagamaan.

    ReplyDelete
  2. kelihatan, kalau mbak dini itu orang yang sangat membantu sekali.
    semoga bisa afal ya :)

    ReplyDelete
  3. baca ceritanya jadi terharu mbak,semoga bisa cepat hafal ya :D

    ReplyDelete
  4. Semoga Allah permudah dalam menghafal ya mbak. :) bermanfaat banget, widya jadi tahu kalo di surga ada beragam jenis sungai. :)

    ReplyDelete

Thank you for reading. What do you think about the article above?

Facebook

Friends

Community