Anak-Anak Sukun Dan Pensil Yang Berkeliling

Sunday, February 22, 2015

Pernah terbesit keinginan untuk mengabdi kepada negara dengan cara mengajar di pelosok desa suatu saat nanti, ketika aku telah lulus kuliah. Tapi, sebelum hal itu terjadi, sepertinya Tuhan ingin melatihku terlebih dahulu dengan mengikuti program kampus untuk mengabdi selama satu bulan di desa terpencil di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Letak desa itu di pegunungan, jika menggunakan motor, butuh waktu satu jam lebih untuk mencapai pusat kota.


***

"Vin, jadwalmu ke taman kanak-kanak, lusa, kan?" "Hari ini ikut aku mengajar di SD Sambongrejo I ya?" "Tempatnya di dukuh Sukun." Ajakan Leli padaku.

"Siap!" "Apalagi aku penasaran dengan ceritamu tentang guru-guru dan antusiasme murid-murid di SD itu." Sahutku pada Leli.

Setelah sarapan, aku dan Leli bersiap menuju dukuh Sukun. Selama KKN, aku, Leli, dan teman-teman yang lain tinggal di rumah Kepala Desa Sambongrejo, tepatnya di dukuh Sambong. Butuh sekitar 10 menit untuk menuju dukuh Sukun dengan menggunakan motor. Bicara tentang medan, jangan berharap motor kita kan berjalan di aspal yang mulus, yang ada justru batu-batu kerikil pegunungan yang jika tidak mampu menjaga keseimbangan motor akan membuatmu terjatuh. Belum lagi jika semalam terjadi hujan, tanah kekuningan itu akan terasa sangan licin dan membahayakan. Di samping jalan itu kan sudah terlihat jurang..

Sesampai di SD Sambongreo I, anak-anak sukun --begitu aku menyebutnya-- berlarian menghampiri Leli dan aku sembari tersenyum dan mencium tangan kami. "Kak Leli !" "Ada Kak Leli !" "Ada kakak baru juga!" Histeris mereka menyambut kami.

Sebelum mulai mengajar, Leli mengajakku ke ruang guru untuk berkenalan dengan para guru di sekolah tersebut. Hah? Mana gurunya? Kok cuma ada satu orang?

"Selamat pagi, Bu Ning." Sapa Leli pada guru paruh baya itu.

"Selamat pagi, Mbak Leli." "Mau mengajar lagi di sini?" "Itu temannya namanya siapa?" Tanya Bu Ning pada Leli.

"Ini teman saya, Bu. Vina. Hari ini dia juga ingin mengajar di sekolah ini." Jawab Leli sambil tersenyum. Aku mengangguk.

Setelah berbincang sebentar, aku putuskan untuk mengajar siswa kelas empat, sementara Leli mengajar siswa kelas enam. Bu Ning meng-handle sisanya, dikarenakan beberapa guru izin tidak mengajar karena alasan yang menurutku kurang patut. Sulit dipercaya memang, satu guru meng-handle beberapa kelas. Metode seperti apa yang beliau gunakan? "Biasanya saya kasih tugas, lalu saya tinggal ke kelas yang lain." "Ya, begitu, mau bagaimana lagi?" Cerita Bu Ning padaku.

Sebelum memulai pelajaran, aku memperkenalkan diri di depan siswa-siswa kelas empat. Aku bertanya pada mereka hari ini pelajaran apa saja, aku tidak ingin mengubah jadwal pelajaran mereka. "Bahasa Jawa, Kak." Jawab mereka saat kutanyai. Mampus! Aku kan nggak menguasai bahasa Jawa dengan baik? Duh, bismillah, aku coba dulu deh. Alhamdulillah, tema pelajaran bahasa Jawa-nya yaitu tentang pramuka, setidaknya aku cukup mengerti meski hanya mempelajari pramuka sampai kelas tiga SMP. Saat ku tanya apakah mereka pernah belajar pramuka, mereka menjawab, tidak. Ya Allah, separah ini kah? Mereka belajar tanpa ada buku panduan, hanya buku tulis itupun untuk beberapa mata pelajaran. Buku panduan hanya dimiliki oleh guru mereka, dan diletakkan di meja guru. Buku panduan yang lusuh dan sudah tidak layak. Miris.

Saat aku mengajari mereka apa itu pramuka, apa manfaat belajar pramuka, mereka mendengar dengan sangat antusias. Sungguh, ini pertama kalinya aku melihat mata-mata malaikat kecil yang memiliki semangat tinggi pada keilmuan. Hanya saja, belum tersedia fasilitas layak untuk mereka. Sedih, aku belum bisa membantu banyak. Aku beri mereka sedikit tugas untuk menjawab pertanyaan dan menuliskan jawabannya di buku masing-masing.

"Nang, aku nyilih petelot e dilut."[1] Ucap siswa bernama Budi kepada Anang, temannya. Miris. Bahkan pensil saja masih berkeliling dari satu meja ke meja yang lain. Bagaimana dengan anak-anak kota? Kelas lima SD sudah diberi ponsel oleh orang tuanya. Tapi di sini, jangankan ponsel, pensil saja dipakai bergantian.

***

Seusai jam istirahat, aku mengajari mereka materi ilmu pengetahuan alam, kali ini tentang energi. Energi panas dan energi bunyi. Ya Allah, mereka mendengarku dengan seksama, takjim. Apa yang ku ucap, ingin sekali segera mereka tulis. Tapi ku larang. "Dengarkan kakak dulu, ya?" "Perhatikan dengan baik, nanti kakak beri waktu untuk menulis apa yang kakak catat di papan tulis." Tegasku. Dan mereka menurutinya.

Bel tanda pulang pun berbunyi. Sebelum pulang, mereka terbiasa berdoa dan memberi salam kepada guru yang mengajar mereka. Lalu satu persatu menyalamiku dan pamit untuk pulang. Belajar yang rajin, ya, dik. Semoga suatu saat nanti impian kalian akan tercapai. Menjadi orang yang berguna untuk agama dan bangsa ini.

---
[1] Nang, aku pinjam pensilnya sebentar.

You Might Also Like

10 komentar

  1. Kakak emang kkn nya dimana, masak disana nggak ada pensil? Guru juga pada nggak ngajar semua *disitu saya kadang merasa sedih

    ReplyDelete
  2. Kalau terbesit keinginan, aku juga pernah kaya gitu, tapi apa daya kasih tak sampai *ehh

    Peran pemerintah untuk memajukan pendidikan di indonesia kayanya yà masih berat ya, masih banyak yang kudu di benahi agar hal seperti kaya gini gak terjadi

    ReplyDelete
  3. Sedikit fiksi, ya. "Pangeran mah, apa atuh. Gk ngerti fiksi."

    Ini Pengalamannya keren banget. Gue juga pernah kek gini kemaren. Waktu KKN, jadi kangen sama anak2 SD yang gue ajar kemaren. :)

    ReplyDelete
  4. Wah, saya juga punya cita-cita jadi guru. Tapi kalo jadi guru ke pelosok, belum kepikiran deh. Asal jadi guru, saya terima.

    ReplyDelete
  5. Serius kak, aku selalu sedih kalau denger cerita tentang mengajar anak-anak pelosok. Soalnya aku pernah ngisi pendidikan karakter di SD dekat rumahku, walaupun enggak pelosok banget, tapi aku dibuat sedih karena anak-anak SD jaman sekarang sudah hampir terinfeksi (?) budaya-budaya dari luar.

    Dan itu, pensil aja keliling ? :'(
    Semoga pemerintah daerah segera menangani fasilitas sekolah itu, biar anak-anak bisa belajar dengan nyaman dan memiliki semangat belajar yang tinggi. Demi kualitas pendidikan di Indonesia :))

    ReplyDelete
  6. kak itu beneran pensil pake gantian? duh gimana merka kalo belajar dirumah ? :3

    ReplyDelete
  7. Pengalamannya keren nih.
    Kasian ya, pensilnya dipakenya bergantian. Pemerintah harus ngeliat sekolah ini nih. Anaknya belajar semangat tapi kekurangan..

    ReplyDelete
  8. Awuuuw. Miris. Ini perlu dioerhatiin banget, siapa lagi yang bakalan nerusin cita-cita perjuangan bangsa kalau bukan mereka suatu saat nanti. Semoga pemerintah membaca ini. Share, ah.

    Salam kenal, keknya gue baru mampir. Hahaha.

    ReplyDelete
  9. Btw, fiksinya di mana, ya? ._.
    Tapi, itu beneran yang pensil masih ganti-gantian? Miris banget, ya. Ini seharusnya dapet perhatian lebih dari pemerintah setempat. :(

    Semoga anak-anak itu terus semangat, dan tidak putus asa, ya! Sebab, mereka yang akan menjadi penerus bangsa ini. Halah. Berat banget bahasa aku. Hahaha. :(

    ReplyDelete
  10. I like your posts .. Inspiring .. Lanjutkan faw.

    ReplyDelete

Thank you for reading. What do you think about the article above?

Forum Lingkar Pena Sidoarjo

Friends

Community