Kegundahan Hati dan Kong Zi

Monday, January 05, 2015

Beberapa hari ini aku merasa berperang dengan diriku sendiri. Kekecewaan terhadap sahabat hingga beberapa minggu. Ditambah rasa amarah pada Ibu yang tak juga mengerti inginku. Aku tak mungkin bersikap kasar kepada orang-orang yang pernah berjasa dalam hidupku, terutama Ibu, tak mungkin. Sering aku berbicara dengan diriku sendiri--mem-batin. Apa yang salah dengan diriku. Sekeras ini kah hatiku? Tidak. Aku tidak boleh berburuk sangka dengan hati yang selama ini membuatku lebih peka. Aku mencoba berpikir kembali, barangkali hati dan akalku sedang tak bersahabat. Barangkali keduanya sedang berada dalam kondisi tak seimbang. Barangkali keduanya sedang menguatkan argumen masing-masing dan menjauhi titik tengah. Barangkali.

Membaca. Salah satu cara yang sering membuatku sadar. Salah satu kegiatan yang selalu memiliki manfaat menakjubkan. Aku membaca beberapa artikel di blog, media sosial, dan juga membaca buku Mellow Yellow Drama. Sebuah buku yang tepatnya adalah memoar sang penulis. Di dalamnya ada nasihat Kong Zi. Aku memang sedang penasaran dengan Kong Zi, siapa dia--aku juga belum mencari tahu. Aku masih sangat bodoh dan harus lebih sering membaca. Apapun.

Tentang Ibu. Aku memiliki seorang Ibu yang tangguh, hebat, cekatan. Satu yang tak kusukai dari Ibuku, adalah bentakan. Ibu sering berkata keras sekali. Bahkan saat telepon di dalam kamar, aku bisa mendengarnya dengan jelas dari ruang tengah. Aku bukan sedang mengumbar aib, sungguh bukan. Aku hanya ingin menerima semua ini, kenyataan ini, aku sedang belajar menerima kehidupanku dengan lapang. Ibu sering marah jika aku bermalas-malasan. Tentu, Ibu mana yang suka melihat anaknya malas? Tak ada. Hanya dua yang bisa dilakukan seorang Ibu saat anaknya malas--ini berdasar survey kecil-kecilan yang kulakukan. Satu, Ibu akan diam saja, mengumbar anaknya, terserah apa yang dilakukan sang anak. Dua, Ibu akan marah jika melihat anaknya bermalas-malasan, barangkali masa kecil Ibu sangat jauh dari hal bernama 'kenyamanan', sehingga terbiasa rajin sejak kecil. Mungkin, pilihan kedua inilah yang dilakukan Ibuku. Marah. Apalagi dengan sifat Ibu yang sering berkata keras. Amarah itu jadi 'cettar membahana'--kalau kata Syahrini. --'

Aku memang sering terlena dengan rayuan si malas. Tapi tak jarang aku bisa berhasil melawan rayuannya. Aku merajinkan diri. Ya, aku berusaha. Hingga akhirnya sekarang aku sudah semester tujuh saat menulis ini. Alhamdulillah, mimpi bisa kuliah itu terwujud. Tak lama lagi aku akan lulus. InsyaAllah tahun ini akan mengalami hal bernama 'wisuda sarjana'. Mimpiku memang tinggi. Tak akan ku sangkal untuk hal satu ini. Aku memang terkadang menjelma menjadi makhluk malas, tapi aku adalah si pemimpi. Mimpiku harus ku perjuangkan. Aku tak mau hidupku sia-sia, aku tak mau menjadi makhluk tak berguna. Aku ingin menebar manfaat. Aku ingin hidupku berarti. Aku ingin meyakinkan diriku bahwa Allah menciptakanku untuk suatu tujuan mulia. Bukan sekedar ciptaan yang sia-sia. Aku bukan makhluk yang tak berguna.

Aku ingin berbakti untuk negeriku. Aku lahir di sini, tumbuh dan besar di sini, belajar di sini. Allah memberiku kesempatan untuk bisa mengenyam pendidikan tinggi. Maka aku ingin membalas kesempatan yang Allah berikan dengan menjadi manusia yang bermanfaat untuk sekitar. Aku ingin setelah lulus nanti, pergi merantau. Bekerja di luar kota, menabung, lalu melanjutkan belajar lagi. Setelah itu mengabdi ke pelosok negeri selama setahun. Kemudian kembali menemui Ibu. Bekerja, membangun usaha, dan membangun yayasan pendidikan di lingkungan rumah. Tapi, terkadang keinginan kita akan menghadapi tembok rintangan. Izin dari Ibu adalah hal tersulit yang ingin sekali aku dapat. Wajar jika seorang Ibu khawatir pada anak perempuannya. Wajar. Khawatir atas keberadaanya yang jauh dari sang Ibu. Tapi, hei, satu hal yang selalu melintas dalam pikiranku, hidup ini adalah tentang 'Aku dan Tuhan'. Siapapun, semua hanya tentang 'Aku dan Tuhan'. Kita memang hidup di bumi, hidup bermasyarakat, memiliki keluarga. Tapi, sadarkah, semua ini sebenarnya hanya tentang 'Aku dan Tuhan'. Kita diciptakan-Nya untuk suatu tujuan, dan setelah tujuan itu terlaksana, kita akan kembali pada-Nya. Aku hanya ingin melakukan yang terbaik, yang menurutku 'inilah tujuanku'.

Setelah membaca beberapa bacaan, aku seperti perlahan disadarkan. Barangkali salah satu tujuanku adalah juga berbakti pada Ibuku. Tak seharusnya aku marah saat impianku tak disetujui. Seharusnya aku bisa lebih bersabar. Bukankah siapa yang bersabar akan beruntung? Allah, maafkan aku yang lalai. Aku yakin, jika tekadku kuat, jika aku terus berdo'a dan bersungguh-sungguh berusaha, Allah pasti akan menunjukkan jalan terbaik untukku. Impianku pasti akan terwujud tanpa aku perlu berbalik marah pada Ibu. Terima kasih, Allah, atas teguran tanda kasih sayang. Maaf jika sering lalai. Padahal, Allah selalu sayang.

Ibu selalu bangun paling awal, paling pagi di antara yang lain. Ibu selalu mendo'akanku tanpa aku memintanya. Ikhlas, tulus dilakukan karena rasa kasih yang besar. Bukankah saat melahirkanku Ibu bertaruh dengan nyawanya? Ibu melakukan pekerjaan rumah untuk keluarganya. Berkorban paling banyak. Tenaga, waktu, semua didedikasikan untuk keluarga. Memasak, mencuci, membersihkan rumah, merawat semuanya. Bu, maaf jika aku kurang peka. Padahal yang Ibu inginkan hanya aku bisa meneladani Ibu agar bisa lebih rajin lagi. Bangun pagi, shalat, mengaji, membantu Ibu membersihkan rumah dan membantu memasak. Menjadi perempuan tangguh sepert Ibu. Melawan rasa sakit demi bisa menghidangkan sarapan pagi. Maaf ya, Bu. Aku akan berusaha lebih baik lagi. Bisa jadi, marahnya Ibu adalah cara terbaik yang bisa membuatku sadar. Mungkin aku tak peka dengan nasihat halus. Barangkali 'sentilan pedas' lebih 'mempan' untukku. Anggap saja cara pamungkas yang dikirim Allah untuk menegurku. Kini, aku mulai bisa menerima Ibu apa adanya. Belajar mengendalikan diri saat Ibu marah dan mulai membanding-bandingkanku dengan yang lain. Aku harus bisa lebih bersabar. InsyaAllah.

Tentang sahabat. Atau mungkin teman biasa yang aku masih belajar menyebutnya sahabat--ya, aku selalu butuh waktu untuk meyakinkan diri menyebut seseorang sebagai sahabat. Tentang dia, mungkin sejenis trauma. Pengalaman masa kecil terhadap rasa kecewa dan sakit hati yang butuh bertahun-tahun untuk menyembuhkannya. Sepertinya ini terulang lagi, ketika kepercayaan yang sudah ku beri malah diabaikan. Sakit hati sekali. Sungguh. Bisa jadi tak perlu serumit ini. Bicara, bisa jadi itu obatnya. Hanya saja aku terlalu malas untuk bertatap muka. Mendengar namanya saja muak. Astaghfirullah. Aku memang bisa baik ke siapa saja, tapi sekali aku merasa sakit dan kecewa yang teramat sangat, aku akan diam dan menjauh agar mulutku tak menyakiti siapapun. Aku bisa berkata sangat kejam jika sedang marah. Itulah kenapa aku lebih memilih diam dan pergi. Aku tidak mau menjadi orang yang jahat. Apalagi kepada temanku. Kepada yang 'pernah' baik padaku. Aku masih belajar menerima rasa sakit ini. Aku khawatir ini bukan lagi rasa sakit hati, aku khawatir aku merasa cemburu. Cemburu karena Ibu pernah membandingkanku dengannya. Tapi, aku rasa aku tidak perlu cemburu atau iri. Setiap orang punya impian masing-masing. Dan impianku berbeda dengannya. Mungkin, aku hanya perlu berdamai dengan diriku. Semoga mimpinya bisa tercapai, bisa sukses sedini mungkin. Dan semoga aku tak perlu membencinya. Aku harus belajar memaafkan orang lain. Harus. Bismillah.

Lega rasanya sudah nulis--plong. Setelah ini aku akan membahas sedikit tentang Kong Zi. Barusan aku searching tentang beliau. Aku kagum pada kalimat-kalimatnya yang dikutip oleh Kak Jia Hui ke dalam bukunya, Mellow Yellow Drama. Sebenarnya aku sudah penasaran pada Kong Zi saat jalan-jalan di toko buku bulan April 2014 lalu, aku menulis satu kalimat yang sangat menancap di hatiku, hanya saja aku bodoh tak menulis judul bukunya. Begini kalimatnya, "Orang zaman dulu menuntut ilmu hanya untuk meningkatkan kualitas diri sebagai manusia. Namun, orang zaman sekarang menuntut ilmu untuk memperlihatkan kepada orang lain bahwa ia seorang intelek." Di buku itu--yang aku lupa menulis judulnya--menjelaskan bahwa Kong Zi adalah pakar pedagogi terbesar di Tiongkok 2.500 tahun lalu. Kalimat-kalimat Kong Zi sangat dalam dan menenangkan. Seolah petuah yang sangat layak untuk dipelajari. Aku memang beragama Islam, yang menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman, bukan beragama Khonghucu, tapi tak ada salah jika kita belajar dari mana saja. Yang penting iman kita tetap kepada Allah, jadi ini memang diluar pembahasan keagamaan.

"Zi zu bu ru , zi zi bu dai (tahu cukup tidak menjadi hina, tahu batas terhindar dari bahaya)." Ini juga kalimat yang ku kutip dari buku--yang aku lupa menulis judulnya, hiks. Dalam banget kan maknanya, seperti mengingatkan kita untuk tidak sombong dan tahu batas. Jadi, siapa sih Kong Zi? menurut sumber yang aku baca, "Confucius (or Kongzi) was a Chinese philosopher who lived in the 6th century BCE and whose thoughts, expressed in the philosophy of Confucianism, have influenced Chinese culture right up to the present day. Confucius has become a larger than life figure and it is difficult to separate the reality from the myth. He is considered the first teacher and his teachings are usually expressed in short phrases which are open to various interpretations. Chief among his philosophical ideas is the importance of a virtuous life, filial piety and ancestor worship. Also emphasised is the necessity for benevolent and frugal rulers, the importance of inner moral harmony and its direct connection with harmony in the physical world and that rulers and teachers are important role models for wider society."

Terima kasih, Kong Zi. Meskipun kau telah lama tiada, tapi nasihatmu akan selalu hidup dalam kebudayaan Cina. Mungkin ini seperti keajaiban membaca, semakin banyak baca, semakin kita tahu bahwa kita masih harus banyak belajar agar paham hakikat hidup yang sesungguhnya. Terima kasih juga kepada Rasulku yang pernah bersabda, "Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina". Aku selalu yakin pada kalimat itu sejak kecil, Cina pasti memiliki rahasia-rahasia yang patut untuk ku pelajari. :)

Terima kasih, Allah. Engkau Sungguh Maha Besar. Sungguh luas sekali ilmu-Mu. Manusia tahu apa sih? Tak pantas sombong. Semoga kita semua terhindar dari sombong, aamiin.

You Might Also Like

0 komentar

Thank you for reading. What do you think about the article above?

Forum Lingkar Pena Sidoarjo

Friends

Community