Part II: Raga Yang Kembali

(Part I - Cerita Jiwa Untuk Raga)

Raga yang Kembali

"Nanti malam ku jemput, ya!", pesannya melalui social media. 

"Okee", jawabku antusias.

***

Sudah hampir dua bulan aku melakukan praktik kerja profesi di kota seni. Yogyakarta. Kota yang menyimpan ribuan cerita. Kota yang namanya selalu digemakan oleh penggemarnya. Sudah lama kami tak bertemu, terakhir kali pertemuan itu saat aku berkunjung ke kota ini akhir tahun lalu. Saat dia mengajakku keliling kampus impianku. Kampus Seni Nusantara. Hari ini, pertemuan itu akan kembali terjadi. Ya, aku akan kembali mendengar ceritanya, pemilik aura impian.

"Aku sudah di depan", sms darinya. 

"Tunggu, aku sedang pakai sepatu", jawabku yang tak sabar ingin bertemu. Aku berlari melewati gang yang panjang, kostanku tersembunyi dibelakang gang. Khawatir akan menyulitkannya menemukanku, aku menyarankannya menungguku di depan kantor pos berwarna orange itu. Hei, aku melihatnya! Jaket itu, aku mengenalinya!

"Assalamu'alaikum!", sapaku dari balik punggungnya. 

"Wa'alaikumussalam.. Hei, kostmu di mana?", tanyanya penasaran.

"Di sebelah sana, masuk gang. Bagaimana kabarmu? Ke mana kita akan pergi?".

"Pakai helmnya. Tadi aku lama karena searching dulu, ada acara apa di Jogja malam ini. Kita coba ke sana ya, semoga benar ada. Konser musik dan pameran fotografi pesta rakyat saat peresmian Presiden RI ke tujuh ini."

Sebenarnya aku tak terlalu peduli dia akan mengajakku ke mana. Selama perjalanan ini menyenangkan karena aku akan mendengar cerita-ceritanya lagi, itu cukup.

Selama perjalanan, dia selalu bercerita. Iya, dia tak pernah berubah sedikit pun. Sikap ramahnya pada siapapun, cerita-cerita yang sering ia bagi untuk menularkan semangat. Aku selalu menyukainya. Malam ini aku sangat senang, kami bisa kembali bertemu.

Sampai di tujuan, aku mengikutinya dari belakang. Ya, aku lebih suka berjalan di belakangnya, memastikan dia ada di depanku membuatku merasa aman, pemilik aura impian.

"Acara budaya seperti ini, suasana seperti ini, cuma ada di Jogja", katanya padaku.

Iya, aku setuju. Aku memang belum pernah menemukan tempat yang tinggi toleransinya seperti ini. Tua muda membaur jadi satu, menikmati alunan musik jaman dulu. Damai, membuatku tersenyum dan tertawa kecil sendirian, mengamati insan-insan pecinta kesenian. Dia, pecinta seni sejati, kan? Aku juga mengamatinya.

Hari ini kita kembali..
Kembali kita bersama-sama lagi
Kembali kita bersama-sama lagi
....

Sepertinya itu lagu dari Koes Plus. Aku belum pernah mendengar lagu ini sebelumnya. Tapi, aku langsung menyukainya. Entah judulnya apa. Musisi di panggung itu menyanyikan lagu yang sangat menenangkan. Menciptakan senyuman damai. Seperti sudah disiapkan untuk ku dengar, apalagi aku bisa duduk bersebelahan dengannya lagi. Iya, suasana seperti ini kembali terjadi. Mendengarnya bercerita, melihatnya tertawa, hal ini kembali terjadi. Bahagia itu sederhana ya? Bercanda bersama adik kebanggaan, Raga, sungguh beruntung aku mengenalnya.

Setelah pameran fotografi dibuka, dia memberi kode agar kita masuk untuk melihat pameran itu.

"Ke sebelah kiri dulu", sarannya padaku.\

Ketika masuk ruangan, banyak yang melihatnya dari sebelah kanan, khawatir berdesakan, dia lebih memilih sebelah kiri. Selalu begitu, melewati jalan yang tak biasa dilalui orang lain. Dia selalu menjadi diri sendiri tanpa pernah bermaksud menyakiti orang lain. Selalu seperti itu, kan?

Setelah puas melihat hasil foto di pameran, Raga mengajakku pergi. Akan ke mana lagi? aku tak berani bertanya. 

"Kita makan apa?"tanyanya padaku. 

"Terserah, langsung pulang juga nggakpapa", jawabku.

"Jangan, kita makan dulu. Seharian ini aku baru makan satu kali."

"Apa? kalau begitu kamu harus makan!".

Berhenti di sebuah warung makan rica-rica. "Di sini yang paling enak" dia memberitahuku.

Ini akan jadi pertama kalinya aku makan ayam rica-rica. "Nasinya untukmu sebagian, ya? Tadi sore aku sudah makan", pintaku.

"Itu kan cuma sedikit", pendapatnya sambil menunjuk piring berisi nasi milikku.

"Tapi tadi aku sudah makan. Untukmu, ya?" paksaku.

Suasana Jogja malam hari, ditemani gerimis, kami makan malam sambil berbagi cerita. Tiba-tiba saja ingatan ini melambung menuju waktu yang lalu, saat kami pertama kali bertemu. Mungkin ia sudah lupa, dulu kita pernah makan malam berdua. Dan malam ini terjadi kembali. Kembali terjadi.

"Ayo", ajaknya untuk pulang.

Hei, dia mentraktirku? "Jadi ceritanya aku ditraktir nih?"

"Iya, biar aku pernah mentraktir. Tapi kamu yang bayar parkir, ya!" aku tertawa kecil. Adikku ini selalu pandai membuat candaan.

Dalam perjalanan pulang, sungguh ingin aku menghentikan waktu. Bahagia itu saat aku bisa kembali melihat adikku, Raga, mendengar cerita-cerita yang tak biasa. Mendengar kebaikan hatinya, mendengar teledornya, mendengar antusiasme dalam meraih impiannya. Hei, melihatnya bersemangat memperjuangkan impian itu menularkan semangat yang sama padaku.

"Kapan-kapan mainlah ke tempatku", pintanya. 

"Tentu akan aku lakukannya jika ada kesempatan" jawabku. "Raga, terima kasih ya".

"Iya, kak."

Benar, yang kau genggam akan lepas, yang kau lepas masih bisa kembali. Aku memilih melepasnya, Raga. Maka ia akan selalu bisa kembali kapanpun sebagai adikku. Dia mengantarku sampai depan gang. Lalu aku melihatnya pergi. Entah kapan akan bertemu kembali.

410122

No comments:

Thank you for reading. What do you think about the article above?