Cahaya Di Dalam Kegelapan

Wednesday, August 13, 2014

Lahir dengan berat 2 kg dan mata yang tidak sempurna, dokter itu memerintahkan suster untuk manggendongmu ke dalam inkubator. Kau sangat mungil dan cantik, namun ayah hanya bisa memandangmu dari balik kaca inkubator. Ibu sangat lemah, terbaring tak berdaya dengan mata tertutup di atas tempat tidur beroda.


Delapan bulan kemudian, dokter mengizinkan ibu dan ayah membawa kau pulang. Suara derum mobil ayah menemani perjalananmu menuju rumah yang akan menjadi tempat perlindungan teraman. Seluruh keluarga besar berkumpul di rumah untuk menyambut kedatanganmu. Kedatangan  bayi mungil dengan tangisannya yang kencang. Rumah sangat penuh dengan rasa haru dan syukur. Rasa syukur akan kebaikan Tuhan yang masih memberikanmu kesempatan untuk mencicipi kebahagiaan. Merasakan warna-warni dunia dibalik kegelapan.

Delapan tahun berlalu. Kau tumbuh menjadi gadis kecil cantik berambut coklat. “Kesya, saatnya makan!” suara ibu memanggilmu yang sedang asyik bermain piano. “Iya, Ibu.” Kau meninggalkan mainan kesayanganmu dan mulai meraba dinding, berjalan pelan-pelan menuju ruang makan. “Aduh!” Kau tersandung sesuatu. Ibu yang mendengarnya merasa khawatir dan langsung berlari menghampirimu. “Kau baik-baik saja, sayang?” “Iya, Bu. Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja.” Suaramu yang teduh sedikit menenangkan rasa khawatir ibu. 

Selesai kau makan, ibu pun mengantarmu ke sekolah istimewa. Ya, orang-orang menyebutnya sekolah istimewa, mungkin karena hanya anak-anak seperti kau saja yang bersekolah di sana. Walau kau tak sempurna, tapi guru-gurumu sangat sayang kepadamu. Kau termasuk murid paling pandai di antara teman-temanmu. 

Hari ini pelajaran beryanyi, pelajaran favorit yang kau tunggu-tunggu setiap hari. Suaramu yang merdu dalam do re mi membuat Pak Iwan bersemangat dalam mengajar. Begitu juga teman-temanmu, mereka ikut senang mendengarmu menyanyi dan mulai mengikuti apa yang kau lakukan. 

Bel berbunyi jam satu siang, tanda kau harus pulang. Hari ini giliran ayah yang menjemputmu, ia menghampirimu yang sedang duduk manis di bangku kelas. “Kesya, ayah datang, sayang.” Beliau memelukmu erat, kau pun mendekapnya hangat. Lalu menggendongmu menuju mobil. Itulah yang kau dan teman-temanmu lakukan setiap hari. Belajar di sekolah istimewa, beryanyi, bermain alat musik, berhitung, membaca dengan buku khusus, membuat teh secara mandiri, ditemani Pak Iwan, Bu Anggar, Bu Rani, dan Bu Wati. 

Sore hari, saatnya mendengarkan radio. Kau pun menyalakannya, kemudian meningkatkan volumenya. “Jangan kau sesali apa yang telah terjadi. Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah. Tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik. Tuhan pasti kan menunjukkan kebesaran dan kuasa-Nya bagi hamba-Nya yang sabar dan tak kenal putus asa. Jangan menyerah… jangan menyerah… jangan menyerah… ooh…” Kau terenyuh, air matamu yang tak seharusnya jatuh pun akhirnya menetes. 

Kau menyadari, walau kau buta tapi kau memiliki segalanya, ibu yang mencintaimu, ayah yang menyayangimu, guru-guru yang mengasihimu, teman-teman yang selalu setia menemanimu belajar dan bermain di sekolah. Walau kau sangat ingin memandangi wajah mereka, tapi kau masih bisa merasakan hangatnya kasih sayang tulus yang mereka berikan kepadamu. Wajahmu yang polos tak pantas bersedih dan tak pantas menitikkan air mata.

Semangatmu bangkit. Keceriaanmu kembali. Keesokan harinya, seperti biasa setelah kau selesai makan, ibu mengantarmu ke sekolah. Bertemu dengan kawan-kawan sepermainan membuatmu senang. “Anak-anak, hari ini kita kedatangan tamu dari Metro TV. Siapa yang tahu acara Kick Andy? Ayo sebutkan nama!” tanya Pak Iwan. “Saya, Pak!” “Saya, Pak!” “Saya tahu, Pak! Kesya pernah dengar itu!” Kau dan teman-teman berteriak bersahutan. Tamu dari acara tersebut ingin meliput kegiatan apa saja yang dilakukan oleh sekolah istimewa.


Pak Iwan menyuruhmu untuk menyanyi di depan kelas, diiringi oleh suara piano yang dimainkan oleh Pak Iwan. Kau menyanyikan lagu “Jangan Menyerah” karya D’Masiv yang kau dengarkan kemarin sore. Orang-orang dari Metro TV pun kagum dan terkesan, banyak dari mereka menitikkan air mata.

Dua minggu kemudian, kau muncul di televisi dalam acara Kick Andy. Kini semua orang mengenalmu, mengenal seorang anak kecil yang tetap bersemangat dan akan terus bercahaya di dalam kegelapannya.


Sidoarjo, 13 Agustus 2010
Nur Fauziah
*Cerita ini terinspirasi dari kisah nyata yang tayang di Kick Andy di Metro TV

You Might Also Like

0 komentar

Thank you for reading. What do you think about the article above?

Forum Lingkar Pena Sidoarjo

Friends

Community