Sekolah Internasional dan Eksistensi Bahasa Indonesia

Friday, January 24, 2014

Realitas:

Sekolah di Indonesia dibagi menjadi beberapa jenis, beberapa di antaranya terdapat sekolah nasional dan sekolah internasional. Sekolah nasional baik negeri maupun swasta menggunakan kurikulum Indonesia secara utuh. Para siswa yang lulus dari sekolah nasional akan mendapatkan ijazah sesuai standar Indonesia, sehingga dapat melanjutkan pendidikan sesuai jenjang dan standar Indonesia. Sedangkan sekolah internasional merupakan suatu sekolah yang memiliki hubungan dengan negara tertentu, kurikulum yang diterapkan pun sesuai dengan negara yang dianut. Sekolah internasional tidak memberikan ijazah sesuai ketentuan standar nasional, melainkan memperolah ijazah atau sertifikat kelulusan sesuai dengan negara terkait, sehingga memudahkan para siswa jika ingin melanjutkan pendidikan di negara tersebut.

Keberadaan sekolah internasional semakin menjamur di Indonesia, terutama di kota metropolitan seperti Jakarta dan Surabaya. Berdasarkan informasi dari seputarsurabaya.com, tercatat 12 sekolah internasional yang tersebar di kota Surabaya. Hal ini menandakan semakin banyak orang tua yang berminat menyekolahkan anak-anaknya di sekolah internasional. Sekolah internasional yang dikenal sebagai sekolah dengan kurikulum yang mengacu pada negara-negara asing, tak jarang pendirinya bukanlah seorang pribumi. Karena kurikulumnya mengacu pada kurikulum negara yang dianut, maka bahasa pengantar yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar bukanlah bahasa Indonesia, melainkan bahasa asing seperti bahasa Inggris, bahasa Mandarin, bahasa Korea, bahasa Jepang, dsb. Intensitas berbicara bahasa Indonesia sangat sedikit bahkan ada yang dilarang menggunakannya di lingkungan sekolah.

Analisis:

Jika realitas yang terjadi dilihat secara ekonomi politik, pertama, bertambahnya keberadaan sekolah internasional menjadikan sekolah-sekolah nasional semakin tergerus. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya memberi batasan mendirikan sekolah internasional di suatu wilayah yang seharusnya hanya diperuntukkan untuk warga asing yang berada di Indonesia justru diperuntukkan pula untuk warga pribumi, selain kurangnya memberi batasan juga mudahnya prosedur mendapatkan izin mendirikan sekolah internasional, belum lagi praktik suap-menyuap yang masih marak di Indonesia akan semakin menggerus keberadaan sekolah nasional.

Kedua, keberadaan sekolah-sekolah internasional menjadi komoditas baru yang ditawarkan pihak-pihak asing ketika masyarakat Indonesia berada dalam “kegalauan” akan identitasnya dan tidak percaya diri terhadap sistem pendidikan di Indonesia.  Keberadaan sekolah internasional kini menjadi barang dagangan yang sangat menguntungkan pihak asing mengingat keadaan masyarakat Indonesia yang sedang mengalami krisis identitas akibat kurangnya proteksi terhadap tempaan arus globalisasi. Pihak asing memanfaatkan keadaan tersebut dengan menawarkan sekolah internasional kepada masyarakat Indonesia yang ragu terhadap sistem pendidikan di negara sendiri, dalam hal ini masyarakat takut jika generasi selanjutnya tidak akan mampu bersaing di masa depan jika tidak bersekolah di sekolah internasional, padahal keberhasilan generasi muda tidak bergantung di sana. Kekuatan dan konsistensi untuk memperbaiki sistem pendidikan di negeri sendiri lah yang akan membuat generasi muda dapat bertahan di era global, bukan justru berpindah kepada sistem asing yang hanya bertujuan meraup keuntungan berkedok pendidikan.

Salah satu faktor yang membuat pihak-pihak tertentu memanfaatkan kondisi di Indonesia untuk mengeruk keuntungan adalah mindset orang Indonesia yang sangat latah dan pragmatif.  Mayoritas masyarakat Indonesia belum memiliki kekuatan untuk mendefinisikan identitas diri sehingga sangat mudah dipengaruhi dan membuat mereka keliru dalam memprioritaskan mana yang lebih penting untuk dilakukan, memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia sendiri atau menganut sistem asing yang belum tentu sesuai dengan kebudayaan masyarakat Indonesia.

Salah satu dampak yang akan ditimbulkan apabila keberadaan sekolah internasional terus bertambah adalah penggunaan bahasa Indonesia yang semakin berkurang. Bahasa adalah cerminan pemahaman pemakai bahasa tentang kebudayaannya, masa silam dan masa sekarang. Adanya kemungkinan hubungan antara bahasa dan budaya telah dirumuskan ke dalam suatu hipotesis oleh dua ahli linguistik, Sapir dan Whorf. Menurut Sapir, manusia tidak hidup di pusat keseluruhan dunia, tetapi hanya di sebagiannya, bagian yang diberitahukan oleh bahasanya. Hipotesis Sapir-Whorf menyatakan bahwa “The world is perceived differently by members of different linguistic communities and that this perception is transmitted and sustained by language” (dunia ini dipersepsi secara berbeda oleh para anggota komunitas linguistik yang berlainan dan persepsi ini ditransmisikan serta dipertahankan oleh bahasa).[1] Sehingga, apabila penguasaan bahasa asing oleh para generasi muda lebih mendominasi dan kurang mampu berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia dan hal ini dibiarkan berkelanjutan, maka eksistensi bahasa Indonesia berpotensi mengalami destruksi.  Jika eksistensi bahasa Indonesia terdestruksi, maka kelestarian budaya lokal akan semakin terkikis, masyarakat Indonesia semakin tidak mampu menunjukkan identitas dirinya.

Solusi yang bisa dilakukan saat ini adalah terus memperbaikai sistem pendidikan di Indonesia. Pemerintah perlu meratakan pendidikan di seluruh wilayah, memberikan fasilitas terbaik untuk generasi muda dalam meningkatkan potensi dirinya disesuaikan dengan wilayah di mana ia tinggal, mengingat geografis negara Indonesia yang beragam sehingga perlu memperhatikan potensi masing-masing daerah. Bukan dengan jalan mendirikan sekolah internasional yang justru akan semakin mengikis budaya lokal.

[1] Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, (Bandung:: PT Remaja Rosda Karya, 2003), hlm. 290-292

You Might Also Like

0 komentar

Thank you for reading. What do you think about the article above?

Facebook

Friends

Community