Beliau Menyebut Dirinya Ahli Fiksi

Assalamu’alaikum..

Alhamdulillah, hari ini aku bisa update tulisan di blog, setelah mendapat semangat dari seorang ahli fiksi saat acara talkshow siang tadi di Auditorium kampus.

Tema talkshow hari ini (26/12) yaitu Generasi Emas Indonesia, Menulis Kreatif dan Solutif. Terima kasih untuk panitia acara yang telah mengundang Darwis Tere Liye dan Rizal Mumazziq Zionis sebagai narasumber. Di sini aku akan sedikit mengulas apa yang disampaikan oleh Bang Tere saja, mengingat beliau adalah sosok sederhana yang karena beliau lah aku ingat kewajibanku terhadap alasan membuat blog ini.

Bang Tere, yang beliau menyebut dirinya seorang ahli fiksi, mengisi acara talkshow dengan cukup singkat dan padat. Berikut (tulisan yang diketik tebal) adalah ringkasan pembicaraan beliau yang aku catat di bukuku. Silahkan dibaca, semoga bermanfaat.

Mengapa kita menulis?
Bang Tere mengajukan pertanyaan tersebut untuk memulai talkshow, kemudian beliau menceritakan sebuah kisah tentang tiga sahabat. Aku coba menceritakan kembali dengan bahasaku ya? Begini ceritanya...

Burung pipit, Kura-kura, dan Pohon kelapa, tiga sahabat yang tinggal di sebuah pulau, tepatnya di sebuah pantai yang indah. Tiga sahabat ini memutuskan untuk tidak bertemu selama tiga tahun, untuk kemudian bertemu kembali dan menceritakan pengalaman selama tiga tahun itu.

Burung pipit terbang tinggi mengunjungi tempat-tempat yang jauh, yang di sana ia menemukan hamparan sawah menguning yang tak ia temui di pantai. Kura-kura pun pergi mengarungi samudera, ia menemuai hal-hal luar biasa yang juga tak pernah ia temui di pulaunya. Sedangkan pohon kelapa, ia hanya diam di tepi pantai, ia tak kemana-mana.  Ia tak mampu pergi seperti burung pipit dan kura-kura. Ia hanya mampu menggerakkan daunnya dan berbuah.

Ketika mereka bertemu dan saling bercerita, burung pipit berkata, “Ternyata pohon kelapa yang ku lihat di pulau seberang adalah buahmu yang jatuh dan terbawa arus hingga sampai dan tumbuh di sana”. Kura-kura juga berkata, “Ternyata pohon kelapa yang kutemui di sana adalah buahmu yang jatuh dan terbawa arus hingga sampai dan tumbuh di sana”. Hei, padahal pohon kelapa tidak bisa terbang maupun berenang, tapi ia bisa menumbuhkan kelapa-kelapa lain yang memiliki banyak manfaat di setiap bagiannya..di tempat yang jauh.

Ya, pohon kelapa itulah perumpamaan untuk penulis. Cukup menulis hal yang bermanfaat untuk diri sendiri, syukur-syukur bisa bermanfaat untuk orang lain. Seperti kelapa, menjadi yang bermanfaat.
Sehingga, jawaban dari pertanyaan mengapa kita menulis adalah hanya diri kita sendiri yang tahu. Maka kita harus menemukan motivasi terbaik untuk menulis.

Saya harus menulis apa?
untuk pertanyaan berikutnya yang dilontarkan Bang Tere, jawabannya hanya kita sendiri yang tahu. “Dek, saya sendiri saja kadang bingung mau nulis apa, boro-boro mikirin kalian harus nulis apa.”hehe. Itu bercandanya beliau. Kemudian beliau berkisah lagi, kisah yang menurutku ini kisah nyata, tapi beliau berkata, “Anggap saja ini fiksi.” Bang Tere ini pandai membuat orang lain tersenyum dan berpikir. Inti ceritanya tentang seorang Ibu rumah tangga yang menghadiri seminar bang Tere kemudian mengajukan pertanyaan “Saya harus nulis apa? saya cuma ibu rumah tangga yang aktivitasnya ya itu-itu saja”. Kemudian Bang Tere mencoba memberi beberapa solusi sampai akhirnya ibu itu memutuskan untuk menulis resep makanan yang ia masak setiap harinya. Ibu itu sekarang sudah memiliki buku resep makanan hasil tulisannya sendiri.

Inti yang aku tangkap dari cerita yang disampaikan Bang Tere yaitu, temukan passion apa yang kamu mampu untuk menulisnya. Sekecil apapun tulisan kalian, selama kalian ikhlas menulisnya. Gaungnya akan kemana-mana. Bisa bermanfaat untuk diri sendiri. Syukur-syukur bisa bermanfaat untuk orang lain, syukur-syukur bisa dibukukan dan laku.

Bagaimana membuat tulisan saya menarik?
Simply, kamu mengerti apa yang kamu tulis, dan orang lain juga mengerti tulisanmu.
Menulis tidak membutuhkan bakat dan guru. Menulis cukup ditumbuhkan saja di hati.
Menulis itu proses, terus menulis, maka tulisan itu akan semakin baik dengan sendirinya. Sudah, tidak usah banyak tanya bagaimana menulis yang baik itu. Sudah, tulis-tulis saja. Begitu inti talkshow yang aku dapat.
Closing dari Bang Tere, sebuah kisah lagi. Kisah dari negeri Cina. Ini kalimat yang aku catat, bagian dari kisah tersebut.

“Nak, waktu terbaik menanam pohon adalah 20 tahun yang lalu. Waktu terbaik kedua menanam pohon adalah hari ini, sehingga 20 tahun lagi kalian bisa memetik buahnya. Setelah hari ini tidak ada waktu terbaik lagi. Bergegaslah mulai hari ini, jangan terlambat lagi.”

Wassalam.

4 comments:

  1. Wah... keren ya narasumbernya... kalau narasumbernya keren biasanya cara ngomongnya juga keren dan menginspirasi, saya juga jadi termotivasi lagi nih abis baca artikel ini (hehe), menulis apa saja yg penting sesuai dengan apa yg kita sukai dan mulailah dr sekarang... terima kasih atas pencerahannya, sukses selalu :D

    ReplyDelete
  2. weh keren nih talkshownya

    kalimat terakhir bener bnget mulailah dari sekarang jangan terlambat lagi.

    nah iya selama memang mengerti apa yang ditulis dan orang juga mengerti pasti bisa lah bikin sesuatu yg menarik

    ReplyDelete
  3. Keren banget bisa ikut acara talkshow begituan, bakalan dapat banyak motivasi tentang menulis.

    Akhir-akhir ini saya juga kehilangan semangat menulis, sepertinya beberapa pertanyaan tadi harus saya jawab dengan versi saya sendiri ya :). Harus konsisten lagi ini ngeblog.

    ReplyDelete
  4. Penutupnya bg Tere keren banget, ya. Duh.. pasti banyak banget ilmu yang didapet pas tolkshow gitu.

    Alhamdulillah, setelah dateng ke tolkshow, sekarang jadi semangat lagi, ya. Jangan ragu buat nulis apa, dan bagaimana. Tulislah dan mulai dari sekarang.

    ReplyDelete

Thank you for reading. What do you think about the article above?