Part I: Cerita Jiwa Untuk Raga

Monday, November 25, 2013

Sewaktu mendapat kabar bahwa aku lolos menjadi peserta, rasanya sangat menyenangkan. Pihak panitia kemudian memberi kabar untuk segera mengambil undangan. Ketika undangan itu sampai di tanganku, aku pun membuka isinya. Ada daftar nama-nama peserta beserta asalnya. Hei, ada kampus impianku! Aku pun segera melihat nama peserta itu. Ya Tuhan, aku menghafal namanya dalam sekejap. Tak sabar ingin segera mengetahui sang pemilik nama.

Hari itu tiba, aku datang ke acara yang ku tunggu-tunggu. Setiba di lokasi aku samasekali tak terpikirkan tentang pemilik nama itu, fokus pada acara yang menyenangkan dan penuh inspirasi. Kakak perempuan di sebelahku bertanya padaku tentang sesuatu, tapi aku tak paham, akhirnya ia bertanya pada lelaki di sampingnya. Tunggu, lelaki itu menyebut nama kota tempat kampus impianku berada. Aku pun sontak bertanya, "Kau dari kampus itu?" Dia menjawab, "Oh, bukan aku. Ini yang sedang menempuh studi di sana (sembari menunjuk lelaki di samping kirinya)". Ya Tuhan, dia sang pemilik nama, kami duduk dalam barisan yang sama.. dan dia terlihat dewasa, sederhana.. aura itu, dia seperti mewakili kampus impianku. Sesekali aku menoleh ke arahnya. Aura yang sangat ingin ku genggam.


Selesai acara siang di hari pertama, aku dan teman-teman berfoto di ruangan acara berlangsung. Hei, dia ada di sana, berfoto juga dengan teman-temannya. Lalu.. "Boleh minta tolong fotokan kami?" dia meminta tolong padaku. "Boleh" tentu saja aku menjawabnya boleh. Setelah mendapatkan beberapa frame, aku mengembalikan kamera kepadanya. "Namaku Raga" dia memperkenalkan diri sembari menjulurkan tangan padaku, "Jiwa" aku menjawab sambil menjabat tangannya. Ya Tuhan, aku tak ingin menghentikan perkenalan ini.

Hari kedua pembentukan kelompok. Apa lagi ini?! Kami satu kelompok! rasanya ingin teriak tapi tak mungkin ku lakukan, rasanya senang sekali Ya Tuhan.. dan selama tugas kelompok berlangsung, kami sangat dekat. Dia sering lupa pada barang-barang yang dibawanya, meninggalkan barang berharganya begitu saja, dan aku.. aku selalu menjadi pengingat. Aku yang membawakan barang-barangnya. Jaketnya, ku bawa sambil ku peluk erat. Tuhan, perasaan apa ini, aku mengaguminya dalam waktu sekejap, menghafal namanya dalam waktu sekejap pula, bahkan mengagumi sebelum bertemu dengan sang pemilik nama. Peristiwa yang tak mungkin ku lupa, kami makan malam bersama di tempat itu. Bercerita sambil tersenyum dan tertawa. Damai.

Perasaan bahagia tiba-tiba menjadi rasa khawatir, bagaimana tidak, usia kami.. Tuhan, tolong. Ternyata Raga lebih muda dua tahun dariku, kemudian dia memanggilku kakak. Tuhan, rasanya sedih sekali.. apakah dia hanya menjadi seorang adik untukku? Sedih, Ya Tuhan. Aku tetap akrab dengannya, tapi perasaan itu menjadi berbeda ketika aku teringat bahwa usiaku lebih tua darinya. Malu, mana mungkin kakak menyukai adik? Tuhan, pertanda apa ini?

Tiga hari berlangsung, acara telah usai. Para anggota kelompok bertukar kontak. Dia memberikan goodie bag -nya padaku. "Untukmu saja kak, repot kalau aku harus membawanya." Lalu aku berpamitan padanya, semoga kita dipertemukan kembali. Pemilik aura impian.  "Hati-hati, Kak Jiwa." ucapnya.

-------

Beberapa bulan kemudian.

"Kak, aku pulang ke kampung halaman." sms yang masuk darinya. Ya, kami berasal dari kota yang sama. Dia pergi ke luar kota untuk mengejar impiannya dengan mengambil studi di sana, di kampus impianku semasa SMA, sampai saat ini. Kami bertemu. Tuhan, rasanya sangat senang bisa bertemu kembali. Melihat senyum dan tertawanya, mendengar cerita-cerita yang selalu menularkan semangat dan rasa damai. Terima kasih, Raga.

-------

Pergi lalu kembali. Berulang-ulang. Dan kami dipertemukan lagi.

-------

Hari ini, dia duduk di sampingku dalam beberapa menit. Sangat dekat. Aku melihat wajahnya hanya dalam jarak beberapa cm. Perasaan damai itu muncul. Selalu muncul saat dia ada di sini, ya, saat dia berada tidak jauh dariku. Dia seperti lelaki yang membawa impianku. Mimpiku untuk studi di kampus impian yang tak terwujud, dia mewujudkannya, mimpinya, mimpiku. Kami saling bercerita. Cerita darinya selalu membuatku bersemangat, dan membuatku damai. Raga, terima kasih atas cerita-ceritamu. Ini cerita Kak Jiwa untukmu, Raga.

Sampai bertemu kembali.

(Part II - Raga yang Kembali)

311142

You Might Also Like

2 komentar

  1. Ini cerpen kak ziah? Sweety kak :)
    Kenapa aku baca ini jadi terharu ya hihi :')
    Raga sama Jiwanya kayak hidup beneran :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ternyata kak ziah punya bakat bikin cerita romance ya, ehehehihi :p

      aku tunggu film romance nya ya :p

      Delete

Thank you for reading. What do you think about the article above?

Forum Lingkar Pena Sidoarjo

Friends

Community